Beberapa waktu terakhir fenomena prostitusi menjadi topik hangat pemberitaan media massa. Dimulai dari penutupan lokalisasi Dolly di Surabaya, wacana legalisasi prostitusi di Jakarta, kematian Deudeuh Tata hingga kasus AA dan tanggapan-tanggapan yang dilontarkan setelahnya. Paling kurang ada beberapa hal yang menjadi benang merah dan menghubungkan isu-isu ini yakni, tersebarnya praktik prostitusi di kos-kosan dan hotel-hotel akibat tidak adanya lokalisasi, dan besarnya jumlah uang yang beredar dalam praktik prostitusi terselubung itu. Menariknya, RA, mucikari yang ditangkap bersama AA, mengungkapkan bahwa pelanggannya ada juga yang berasal dari kalangan anggota DPR.

Pengakuan ini menimbulkan aneka tanggapan dari berbagai pihak. Misalnya saja Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama yang menginginkan agar nama para pelanggan jasa prostitusi itu diungkap ke publik agar menjadi pelajaran. Ahok, sapaan akrab Basuki, karena faktor iseng. Wakil Presiden Jusuf Kalla Fahri Hamzah menantang RA untuk melaporkan siapa saja anggota DPR yang menggunakan jasa para artis itu.

Selain mengundang komentar dari para pejabat publik, pada sisi lain, kasus AA menunjukkan pretensi media dalam mengungkap kasus prostitusi kalangan atas yang selama ini hampir tidak pernah tersentuh. Berbeda dengan prostitusi online di kalangan menengah ke bawah yang menggunakan media sosial macam Facebook atau Twitter, prostitusi kalangan artis menggunakan Surat Terbuka Remotivi). Seolah-olah tidak ada lagi hal yang bersifat pribadi dari Tata Deudeuh yang tidak perlu diberitakan. Semuanya menjadi santapan publik. Media massa seakan-akan mempunyai kewenangan yang hampir tanpa batas untuk membeberkan setiap hal yang terkait dengan Tata Deudeuh untuk diketahui oleh publik.

Hal berbeda terjadi dalam kasus AA. Sejak awal, secara hukum kasus ini merupakan kasus prostitusi di mana status AA adalah saksi, sedangkan yang berstatus pelaku adalah RA, sang mucikari. Kapasitasnya sebagai saksi membuat Amel Alvi  membantah dugaan-dugaan tersebut.

Bantahan ini tidak mampu mencegah media massa untuk mempublikasikan hal-hal yang terkait dengan kehidupan sang artis. Artinya, media memang tidak menyebut secara terbuka siapa AA, tetapi media mencoba menyodorkan beberapa bukti yang menunjukkan keterkaitan AA dengan sosok artis tertentu sehingga publik dapat sendiri mengambil kesimpulan tentang itu. Media kelihatan memberi ruang penafsiran yang lebih terbuka kepada publik, tetapi sebetulnya media telah lebih dahulu mengarahkan opini publik tentang kasus itu pada sosok tertentu. Padahal pihak kepolisian sendiri sebetulnya telah cukup membatasi informasi mengenai identitas AA.

Apa yang dilakukan media dalam pemberitaan yang menghubungkan AA dengan Amel Alvi tidak sepenuhnya sesuai dengan kode etik jurnalistik yang ditetapkan Dewan Pers, terutama pasal 2 yang mengatur profesionalisme wartawan Indonesia, termasuk keharusan menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya (ayat d). Apa yang diposting dalamthread kaskus adalah hasil penafsiran pribadi seseorang yang identitasnya tidak dipublikasikan secara jelas di dunia maya. Maka, ketika postingan itu dijadikan sumber berita untuk dikembangkan lebih lanjut, akan sangat sulit untuk melakukan konfirmasi. Padahal dalam pasal 3 kode etik itu juga diatur soal keharusan menguji informasi (melakukan cek dan ricek) dan penerapan asas praduga tidak bersalah yang berlandaskan prinsip tidak menghakimi seseorang.

Walau pun media kemudian melakukan konfirmasi dengan memintai tanggapan Amel Alvi, media tetap memberitakan potongan-potongan kisah yang terkait dengan kehidupan pribadi Amel Alvi, termasuk profesinya sebagai model majalah dewasa dan bintang film horor yang sering tampil vulgar. Sisi-sisi kehidupan pribadi Amel Alvi juga banyak diangkat oleh media, termasuk tampang aslinya ketika tidak dirias.

Artinya, di satu sisi media mencoba melakukan klarifikasi untuk mengungkap kebenaran tetapi di sisi lain media tetap mencoba menarik hubungan antara Amel Alvi dan AA, sebagaimana “penyelidikan” yang dilakukan anggota Kaskus.co.id. Namun, penyelidikan ini justru mengarah pada hal-hal privat yang tidak begitu relevan untuk diketahui publik. Hal ini bertentangan dengan pasal 9 kode etik jurnalistik Dewan Pers yang mengatur penghormatan terhadap kehidupan pribadi narasumber kecuali untuk kepentingan publik.

Pada titik ini, bantahan yang diberikan Amel Alvi menjadi tidak relevan sebab opini publik sudah dijejali berbagai pemberitaan mengenai dirinya dalam kaitan dengan sosok AA yang ditangkap polisi. Bila dicermati lebih jauh, seolah-olah ada dua sosok yang ditampilkan media, yakni sosok asli AA yang ditangkap polisi, dan sosok “AA” yang dibentuk media dan dijadikan komoditi untuk konsumsi publik. Karena itu, media mengambil potongan-potongan realitas dari Amel Alvi dan mengaitkannya dengan sosok “AA” dan menjadikannya suatu jalinan yang kelihatan utuh dan saling berhubungan lalu diberitakan secara intens kepada publik.

Hasrat Ingin Tahu

“AA” telah diubah media menjadi sebuah merk dagang yang laris terjual di pasar pemberitaan. Berita mengenai kasus AA perlu didesain sedemikian rupa sehingga dapat menggugah rasa ingin tahu publik. Hal ini dapat dilihat dalam judul berita di media-media online yang sengaja menggunakan rumusan kalimat yang memancing hasrat ingin tahu atau rasa penasaran publik. Beberapa rumusan kalimat yang sering dipakai sebagai judul misalnya, “ini fakta...” atau “ini kata... terkait...

Rumusan yang menggugah hasrat ingin tahu ini tidak saja dipakai dalam pemberitaan kasus prosititusi artis, tetapi sudah menjadi semacam tren umum yang dipakai oleh media-mediaonline. Bukankah makin tinggi hasrat ingin tahu publik mengenai sesuatu maka akan makin intens pula publik mengikuti pemberitaan mengenai hal tersebut? Ketika hasrat ingin tahu telah berhasil dirangsang, media tidak serta merta memberikan semua yang “diinginkan” tetapi membuatnya menjadi semacam kisah bersambung yang membuat publik terus bertanya what next (apa selanjutnya)?

Hasrat ingin tahu yang dibangun media juga membuat publik berupaya mencari tahu sendiri lewat berbagai cara. Misalnya dengan memperbincangkannya di forum-forum media sosial, dimana publik saling bertukar informasi yang tidak jarang melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang tidak sepenuhnya sesuai fakta hukum. Ironisnya, apa yang disimpulkan di forum-forum dunia maya ini kemudian dijadikan rujukan oleh media massa.

Identitas asli AA yang dirahasiakan polisi membuat media dapat terus merangsang rasa penasaran publik dengan terus membangun cerita tentang “AA” dengan mengambil potongan-potongan kisah artis yang juga berinisial AA untuk dijual kepada publik. Di sini publik dibuat untuk terus menanti akhir kisah yang dibangun media massa. Apakah memang sosok AA yang ditangkap polisi adalah sang artis berinisial AA yang selama ini kisahnya diberitakan media, ataukah  keduanya adalah sosok yang berbeda? 

Namun, sebelum akhir kisah ini sepenuhnya terungkap, pemberitaan yang mengaitkan Amel Alvi dengan AA justru membawa keuntungan tersendiri bagi Amel Alvi. Kontroversi seputar hubungan Amel Alvi dengan AA dalam pemberitaan media menjadi daya tarik yang melambungkan karier Amel Alvi untuk tampil di berbagai tempat, dan bertemu dengan para penggemarnya.

Terkait kontroversi yang menuai popularitas ini, Amel Alvi tidak sendirian. Banyak artis dan juga pejabat publik yang popularitasnya justru melejit akibat kontroversi yang melibatkan mereka, atau yang sengaja diciptakan. Media massa terutama media-mediaonline memungkinkan sebuah kontroversi menyebar lebih cepat dan memberi keleluasaan yang lebih besar kepada publik untuk mengetahui dan mengikuti perkembangannya.

Toh, kontroversi juga akan menimbulkan hasrat ingin tahu di kalangan publik. Tingginya hasrat ingin tahu publik kelak akan berbanding lurus dengan tingginya akses informasi mengenai sosok-sosok yang terlibat dalam kontroversi tersebut. Maka, tidak heran bila mereka yang terlibat kontroversi menjadi cepat populer, meski untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan.

Akhirnya, saya ingin mengutip status yang ditulis seorang sahabat di NTT pada akun facebooknya, “semua orang menikmati AA. Pelanggan menikmati tubuhnya, RA menikmati uangnya, polisi menikmati penangkapannya, awak media menikmati kisahnya, dan kita semua tampaknya benar-benar menikmati beritanya.” []