Saya percaya bahwa masalah sering kali muncul bukan karena ada orang punya niat jahat, melainkan karena ada orang baik yang gagal paham. Orang yang membakar menara 5G di Inggris mungkin berpikir bahwa ia tengah menyelamatkan manusia dari konspirasi jahat di balik penyebaran virus korona. Saya kira niat baik pula yang mendasari Jerinx dalam mengkampanyekan teori konspirasi di berbagai kanal media sosial miliknya.

Sayangnya, niat tidak pernah lebih penting dari pada dampak yang ditimbulkan dari perbuatan.

Terlepas dari apa niatnya, teori konspirasi yang disebarkannya Jerinx amat berbahaya dalam upaya kita melawan penyebaran virus Korona. Simak saja misalnya, posting Instagram ini:

Ajakan untuk tidak melakukan tes adalah kebalikan dari saran begitu banyak ahli kesehatan. Dalam rangka menekan laju penyebaran korona, para ahli justru menilai tes massal adalah cara terbaik. Dengan mengidentifikasi siapa saja dan di mana mereka tertular, kita bisa melokasir penyebaran virus ini.

Tulisan ini tidak bermaksud mengurai satu persatu unggahan media sosial Jerinx. Mengenai bahaya  teori konspirasi semacam yang dipercaya Jerinx, Felix Nathaniel telah melakukannya dengan baik dalam artikel ini. Pertanyaan yang ingin dijawab oleh tulisan ini adalah, apa sebab Jerinx demikian jauh tersesat dalam teori konspirasi?

Saya berargumen bahwa jawabannya adalah minimnya literasi media.

Kritik atas media adalah salah satu gagasan dasar dari teori konspirasi yang dipercaya Jerinx. Namun, dari berbagai pernyataannya di ruang publik, kentara bahwa drummer Superman Is Dead ini tidak begitu paham mengenai apa yang ia kritik.

Untuk memahami keseluruhan bangunan narasi Jerinx, saya menonton diskusinya dengan Aiman Wicaksono di Kompas TV pada 6 Mei 2020 dan dengan dr. Tirta di Instagram pada 29 April 2020. Dari sana saya menyimpulkan bahwa Jerinx percaya penyebaran virus Corona adalah rekayasa Bill Gates dan Rockefeller untuk menyatukan seluruh sistem di dunia. Entah apa maksudnya.

Kalau kita coba telusuri dari pernyataan Jerinx yang berserak di media sosial, saya menduga ini berkaitan dengan tuduhan Jerinx yang lain, bahwa hasil tes Covid-19 akan dijadikan vaksin oleh Bill Gates. Dengan menemukan vaksin, pemilik Microsoft itu akan menghasilkan laba besar, sekaligus menguasai tubuh kita. Tanpa penelusuran lebih jauh pun, kita sudah bisa merasakan kejanggalan dari narasi macam ini.

Kejanggalan itu kian terasa, kala Jerinx berupaya menjawab pertanyaan Aiman mengenai dasar dari teori konspirasi yang dipercayainya. Layaknya kebanyakan pengikut teori konspirasi, Jerinx tidak menjawab. Ia malah balik bertanya: “kenapa jauh sebelum ada Corona Bill Gates sudah mendanai serial Netflix mengenai pandemi?”, “kenapa ahli-ahli yang punya pandangan berbeda tidak mendapat panggung di media?”  Dan, yang paling mengejutkan, ia bertanya, “kenapa media menciptakan cerita bagaimana Covid-19 meluluhlantakkan negara-negara seperti Italia, Inggris, dan Amerika padahal menurut informasi yang ia dapatkan dari teman-temannya di negara-negara tersebut Rumah Sakit justru kosong?”

Dengan kata lain, ia tidak punya jawaban. Yang ia punya adalah kecurigaan.

Saya kira Jerinx adalah cermin dari kegagalan kita dalam memahami media dan kekuasaan secara umum. Argumen yang diajukan Jerinx sebenarnya bukanlah hal langka dalam keseharian kita. Cukup nongkrong di warung kopi, diskusi apapun mesti akan mengarah pada dugaan manipulasi media. Anda akan menemukan bapak-bapak serba bisa yang menuduh media melakukan pengalihan isu, atau melakukan fabrikasi isu, untuk mendukung teori konspirasinya yang lebih dramatis dari kisah Mahabharata.

Media memang layak dikritik sebagai alat kekuasaan. Tak terbilang jumlah buku dan jurnal ilmiah yang ditulis untuk menunjukkan hal ini. Bedanya, kritik naif ala Jerinx dan bapak-bapak serba bisa lainnya, tidak memiliki perspektif dan metode.

Perspektif dibutuhkan untuk memandu kita memahami realitas, agar argumen kita berangkat dari asumsi-asumsi yang rasional. Jika tidak berjejak pada sebuah perspektif yang valid, kritik terancam dibangun diatas asumsi yang lemah. Contoh dari ini adalah asumsi bahwa media adalah entitas bulat utuh yang bisa di bolak balik secara serampangan oleh siapapun yang dimaksud Jerinx sebagai elit global.

Dengan asumsi semacam ini, Jerinx menganggap kekuasaan bekerja layaknya sulap.Jika kekuasaan demikian absolut, lalu bagaimana kita menjelaskan keberadaan media-media dan jurnalis independen yang membongkar berbagai konspirasi seperti Watergate di Amerika Serikat atau kisah Gunung emas yang dilakukan oleh Bondan Winarno? Atau bahkan keberadaan SID (Superman is Dead) di skena musik tanah air di bawah payung Sony Music?

Dalam diskusinya dengan Aiman di Kompas TV, Jerinx mengutip Noam Chomsky (1988) mengenai peran media dalam “fabrikasi persetujuan” warga (manufacturing consent). Tapi kalau kita baca Chomsky secara hati-hati, yang dia maksud bukan bahwa media mampu menghipnotis kita sebagaimana Uya Kuya menghipnotis bintang tamunya. Asumsi di balik konsep tersebut adalah adanya sistem ekonomi-politik pasar yang mendasari seluruh praktik media.

Chomsky pun tidak naif. Professor Emeritus dari MIT (Massachusett Institute of Technology) ini, berargumen bahwa “fabrikasi persetujuan” tidak terjadi di ruang hampa sejarah. Dalam bukunya yang ditulis bersama Edward. S Herman, ia merumuskan lima saringan produksi informasi di institusi media, yakni (1.) kepemilikan dan orientasi keuntungan, (2.) ketergantungan pada iklan, (3.) sumber pemberitaan, (4.) respon publik atau elit atas pemberitaan, serta (5.) wacana atau norma sosial yang dominan (Herman dan Chomsky, 1998: 2).

Dari penjelasan ini, setidaknya kita belajar dua hal. Pertama, Internalisasi nilai-nilai pasar terjadi dalam dinamika sosiologis tempat di mana sebuah media berada. Kedua, Meski dengan kekuatan yang timpang, ada peluang bagi publik mempengaruhi agenda media. Cara Jerinx yang mengasumsikan media sebagai boneka tanpa kompleksitas bukanlah kritik, melainkan kemalasan berpikir.

Penggunaan kekuasaan oleh elit dan pemilik media secara paksa untuk menentukan agenda pemberitaan memang terjadi. Dalam dua Pemilihan Presiden terakhir, misalnya kita tahu bahwa beberapa media yang pemiliknya berafiliasi dengan partai politik diperkosa untuk menuruti birahi politik sang pemilik. Namun ini tidak bisa dibilang sebagai hal yang normal. Ia lebih merupakan bentuk kekuasaan koersif yang sifatnya kasuistik. Setiap upaya menggunakan koersi, tidak mungkin tidak menciptakan resistensi. Dalam pemilu 2014 dan 2019, baik AJI (Aliansi Jurnalis Independen) atau Lembaga Swadaya Masyarakat , termasuk jurnalis yang independen bersuara keras atas praktik penggunaan media untuk kepentingan politik.

Artinya, amat sulit membayangkan sebuah konspirasi global dilakukan tanpa menimbulkan resistensi. Jika Jerinx benar, mestinya kita sudah mendengar keluhan dan protes banyak wartawan dan ahli di berbagai belahan dunia. Dalam sistem tertutup seperti di Republik Rakyat China sekalipun, kita bisa mengintip adanya manipulasi informasi terkait Covid 19 oleh aparat negara lewat laporan media dan jurnalis independen.

Lebih jauh lagi, dalam literasi media, perspektif saja tidak cukup, karena ia tidak berguna bila tidak didukung bukti empiris. Dengan demikian, penguasaan atas metode menjadi sentral. Bagi saya inilah kelemahan lain dari Jerinx. Kala menulis Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media, Herman dan Chomsky bukan cuma melemparkan pertanyaan dan mengharap pembaca mencampur jawaban atas pertanyaan itu dengan imajinasi.

Misalnya,salah satu klaim Chomsky adalah bahwa media-media liberal mengutamakan korban yang dibunuh kelompok komunis di Guatemala dibanding korban kekerasan oleh aparat militer di negeri itu. Ia tidak mengarang. Ia juga mendukung pernyataannya dengan data jumlah pemberitaan di kolom surat kabar, pemilihan editorial surat kabar, dan bahkan hingga panjang kolom yang diberikan untuk kedua jenis korban tersebut (Herman dan Chomsky, 1981: 84).

Hal serupa tidak kita temui dalam berbagai pernyataan Jerinx kala ia menuduh media menyembunyikan data dan memanipulasi berita mengenai Covid-19. Cara pikir Jerinx justru berangkat dari cerita anekdotal. Sesekali ia menopang argumennya dengan, “saya punya teman di beberapa negara tersebut, dan mereka bilang pada saya bahwa rumah sakit kosong”. 

Klaim sebesar “Di Italia tidak terjadi pandemi” tidak bisa ditopang oleh pernyataan satu dua orang teman yang tinggal di sana. Argumen ini sama saja seperti melihat Monas dari lubang sedotan. Klaim yang besar mesti ditopang oleh bukti yang besar pula. Jika Jerinx menilai data yang disodorkan media, baik di dalam dan luar negeri, mengenai jumlah penderita covid-19 telah dimanipulasi, maka ia harus menunjukkan bukti yang ketat manipulasi, serta menyodorkan data tandingan yang valid. Hanya dengan begitu kita baru bisa menganggapnya serius.

Saya khawatir, cacat berpikir seperti ditunjukkan Jerinx berasal dari ketidak mampuan Jerinx untuk memilah informasi dan menarik kesimpulan darinya. Di tengah pandemi seperti sekarang, kemampuan untuk memilah opini dari fakta, informasi dari disinformasi, bisa berarti menyelamatkan nyawa. Atau setidaknya bisa menghindarkan kita dari kegagalan epic seperti ini:

(Hint kalau-kalau Jerinx yang musisi itu baca tulisan ini: Paul McCartney adalah pemain bass The Beatles, nama drummer Pink Floyd adalah Nick Mason, Foto dalam gambar ini adalah Mick Jagger, dan kita memang tidak perlu percaya semua omongan teori konspirasi di internet—sayangnya Jerinx tidak memahami ironi itu menampar mukanya sendiri).


 

 

 

Herman, Edward. S, Noam Chomsky. 1988. Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media. Pantheon Book: New York.