Sektor informal dan para pekerja harian adalah kelompok yang paling terdampak secara ekonomi sejak Covid-19 mewabah di Indonesia. Namun entah mengapa, ada kesan pengemudi ojek online (ojol) lebih diistimewakan ketimbang pekerja harian lainnya.

Hal itu terlihat dari kebijakan pemerintah yang seolah terkonsentrasi memberikan bantuan bagi pengemudi ojol. Mulai dari diskon BBM yang diberikan oleh Pertamina, relaksasi kredit oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga penerbitan Permenhub 18/2020 yang terkesan hanya memfasilitasi pengemudi ojol.

Bukan cuma itu, pemberitaan media yang masif tentang ojol juga memunculkan kesan tentang pengistimewaan ojol ini. Mulai dari keluhan tidak dapat angkut penumpangditagih debt-collector, statistik penurunan pendapatan mulai dari 50% hingga 90%, bahkan hingga cerita pengemudi Ojol yang cekcok dengan istrinya.

Aspirasi ojol juga mendapat tempat lebih di media. Mulai dari desakan untuk pengkajian ulang larangan angkut penumpang, meminta peran dalam proyek mengantar bantuan, hingga meminta agar aplikator memberikan 100% penghasilan pada pengemudi.

Simaklah juga berita-berita berikut tentang kepedihan pengemudi Ojol yang sulit mendapatkan relaksasi kredit: “Asosiasi Driver Ojol: Relaksasi Kredit Masih Jauh dari Harapan (Kompas.com), “Ini Kendala Besar Ojol Mengajukan Keringanan Kredit” (Bisnis.com), dan “Ojol Ditagih Cicilan, Leasing Dianggap Tak Hiraukan Jokowi” (CNNIndonesia.com).

Memang, tidak ada yang salah dengan tuntutan pengemudi ojol. Tapi bandingkanlah berita-berita tadi dengan jumlah pemberitaan tentang pekerja informal lainnya yang juga terdampak, seperti nelayan, buruh pabrik, supir taksi, pedagang kaki lima, atau ojek pangkalan. Media seharusnya sebisa mungkin juga mengakomodir aspirasi kelompok lain dan tidak mendramatisir kegelisahan satu kelompok saja.

Namun, pertanyaan lebih mendasar adalah: mengapa media mengistimewakan ojol?

 

Komodifikasi Proses Produksi Berita

Di dalam sistem ekonomi kapitalistik, komodifikasi dikenal sebagai proses pengubahan nilai guna menjadi nilai tukar. Bisnis media, yang berada dalam sistem ekonomi tersebut, juga mengalami proses komodifikasi.

Komodifikasi yang dilakukan terhadap media, menurut Mosco (2009), telah mengubah fungsi jurnalisme yang semula untuk melayani warga, berubah menjadi agenda untuk memuaskan kepentingan pemilik modal. Proses ini pada akhirnya menihilkan penciptaan produk yang bermanfaat bagi publik, menjadi produk yang berguna bagi bisnis.

Agar bermanfaat bagi bisnis pers, maka proses komodifikasi tersebut juga dilakukan perusahaan media dengan memproduksi khalayak secara massal dan dalam bentuk yang secara demografis diinginkan (Smythe dalam Mosco, 2009). Hal itu dilakukan perusahaan media dengan memproduksi berita yang perspektifnya dianggap diminati oleh target demografi tertentu, sehingga pengiklan mau memasang iklan di media demi bisa mendapatkan akses terhadap khalayak demografi tersebut.

Untuk memahami kenapa media mengistimewakan ojol, kita perlu melihat ojol sebagai sebuah fenomena yang bukan hanya sebagai moda transportasi, tapi juga sebagai gaya hidup baru masyarakat kota. Revolusi transportasi yang dibawa ojol membuatnya lekat dengan kebaruan, industri 4.0, dan milenial.

Maka, mereka yang menggunakan jasa ojol adalah sebuah klaster demografi baru yang lekat dengan “kehidupan masa kini”. Klaster inilah yang utamanya dilayani oleh media. Klaster baru yang lebih kekinian ini tentu lebih akrab dengan ojol ketimbang kehidupan para nelayan, buruh tani, pedagang kaki lima, ataupun pekerja harian lainnya.

Selain bisa dijelaskan dengan pendekatan komodifikasi media, praktik pengistimewaan ojol oleh media ini juga bisa dijelaskan dengan memahami perubahan model bisnis media di era digital hari ini.

Ambardi dkk. (2017) berpendapat bahwa teknologi digital telah menghapus barrier of entry dalam bisnis media daring. Dengan begitu, kini setiap orang dapat dengan mudah membangun sebuah bisnis media daring dengan modal yang sekadarnya. Kemudahan dalam membangun bisnis media daring ini telah mengubah peta persaingan industri dan membawa perubahan radikal dalam tubuh perusahaan media. Salah satu efeknya bisa dilihat dari adanya pemangkasan biaya produksi dan perubahan pola hubungan kerja antara perusahaan media dengan jurnalis yang tidak lagi berbasis pada gaji tetapi kontribusi jumlah pemberitaan.

Teknik penghematan tersebut pada akhirnya mengubah news cycle para pewarta. Tidak mengherankan apabila para jurnalis cenderung berpacu untuk menulis berita sebanyak-banyaknya ketimbang melakukan eksplorasi sebuah isu secara mendalam.

Hasilnya dapat ditebak, dalam sebuah isu yang memiliki subjek luas seperti pekerja informal, perusahaan media dan para pekerjanya cenderung memilih untuk mencari narasumber dengan aksesibilitas yang paling rasional secara bisnis. Kejadian inilah yang membuat berita tentang keresahan pekerja informal berkutat pada topik dan sudut pandang yang itu-itu saja (baca: mendramatisir keresahan pengemudi Ojol).

Pada akhirnya tulisan ini melihat bahwa eksploitasi pemberitaan Ojol di media massa tidak terlepas dari kepentingan ekonomi-politik perusahaan media. Penggambaran komodifikasi yang dijelaskan oleh Mosco tampak jelas dari minimnya diversifikasi pemberitaan dan kedalaman isu yang dibahas.

 

Ambardi, Kuskridho, dkk. (2017). Kualitas Jurnalisme Publik di Media Online: Kasus Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Vincent Mosco. (2009). The Political Economy of Communication. Los Angeles: SAGE Publication