Kematian George Floyd oleh polisi di Minneapolis mengingatkan saya pada Obby Kogoya, anak Papua yang berkuliah di Jogja. Kalau Floyd diinjak lehernya menggunakan lutut, Kogoya diinjak kepalanya menggunakan sepatu berlogo N.

Apa yang sama dari keduanya bukan sekadar pelaku kekerasannya sama-sama aparat, tapi juga bahwa Floyd dan Kogoya sama-sama berkulit hitam. Insiden keduanya memperlihatkan betapa diskriminasi, rasisme dan tindak kekerasan terhadap orang berkulit hitam masih sering terjadi di dunia.

Tindakan diskriminatif dan rasisme yang kerap kali hadir memunculkan kekhawatiran saya sebagai seorang ayah apabila hal tersebut menurun kepada anak-anak kita. Karena itu, penting kiranya memperhatikan konstruksi imajinasi yang disuguhkan kepada anak-anak kita tentang orang kulit hitam, salah satunya Papua, melalui film dan televisi.


Kolonialisme dan Warisan Orba

Sikap diskriminasi, rasis, dan intoleran terhadap orang Papua adalah warisan Orde Baru (Orba). Purba (2010) menekankan tentang pembangunan wacana ke-indonesian-an ala Orba yang sangat jawa-sentris. Wacana kolonial tampaknya tidak bisa dilepaskan dalam proses tersebut. Masyarakat Papua dianggap sebagai makhluk yang belum dewasa dan hendak didewasakan.

Sebuah anggapan yang menempatkan kultur kelompok yang dijajah sebagai “kekanak-kanakan” berarti mengandaikan bahwa logika kedewasaan hanya bisa dicapai oleh si terjajah apabila masuk ke dalam sistem kuasa si penjajah. Kekanak-kanakan yang dimaksud adalah sebuah sikap yang dianggap jauh dari rasional, maju, dan beradab menurut si penjajah. Logika tersebut relevan digunakan untuk melihat relasi Indonesia dengan Papua, di mana ada usaha memaksa Papua untuk menjadi seperti kelompok identitas yang dominan, yakni Jawa.

Implikasi dari sistem pewacanaan seperti itulah yang melegalkan masuknya kultur dominan baik melalui pendidikan, sistem kelola sosial, dan hal lain sejenis. Hal tersebut yang saya sebut sebagai praktik kolonialisme di Papua.

Perangai kolonialis bukan hanya terjadi antar-negara, tetapi sangat mungkin terjadi di dalam satu negara, misalnya antara kelompok mayoritas yang berkuasa dengan kelompok minoritas yang tertindas seperti orang Papua. Robert Blauner dalam Gutiérrez (2004) menyebut praktik tersebut sebagai “kolonialisme internal”. Kolonialisme internal ini menjelma menjadi modus penaklukan  atas nama pembangunan: menolak keberadaan minoritas, mengusir atau membunuh sejumlah besar dari mereka, memaksa mereka untuk tunduk pada tanah dan budaya mayoritas. Hal tersebut terjadi di Papua.

Meskipun Orba telah tumbang bukan serta merta warisan tentang cara pandangnya hilang juga. Tontonan populer yang merepresentasikan orang Papua menunjukkan hal itu.
 

Representasi Orang Papua di Film dan TV

Pasca Orba, mulai banyak film Indonesia yang mengambil tema Papua. Beberapa di antaranya adalah Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2003); Denias, Senandung di Atas Awan (2006); Lost in Papua (2011); Di Timur Matahari (2012); Cinta dari Wamena (2013); Tanah Mama (2015); dan Epen Cupen (2015). Dari beberapa studi tentang representasi orang Papua di film, tergambar kesimpulan yang masih kurang menggembirakan.

Pertama, dalam penelitiannya tentang film Denias, Senandung di Atas Awan, Rato R. (2013) menggambarkan bahwa anak-anak Papua dalam film diposisikan sebagai other (liyan). Orang Papua masih dianggap bukan bagian dari manusia. Masih sangat kuat stereotip tentang anak Papua yang primitif, bodoh, dan suka berkelahi. Sebuah anggapan yang tidak jauh berbeda dengan pandangan lama. Sebuah anggapan khas kolonial yang menganggap yang dijajah perlu dijadikan beradab seperti yang menjajah.

Kedua, dalam studi atas Lost in Papua, Larasati (2014) menegaskan representasi orang Papua yang cenderung identik dengan tindak kekerasan. Penggambaran kekerasan itu ada dalam dua wujud: kekerasan fisik dan seksual. Kekerasan fisik yang dilakukan orang Papua direpresentasikan dengan sebuah kebiasaan makhluk hidup memakan sesama manusia (kanibalisme). Sedangkan penggambaran kekerasan seksual direpresentasikan dengan pemerkosaan yang dilakukan oleh 16 perempuan Papua terhadap pemeran utama dalam film.

Sementara itu, di televisi dulu pernah ada sitkom di Trans TV berjudul “Keluarga Minus”. Apa yang digambarkan dalam sitkom tersebut tidak ubahnya sebagai praktik eksploitasi stereotip terhadap orang Papua. Olivia (2013) menegaskan bahwa eksploitasi terhadap orang Papua diciptakan melalui kelucuan-kelucuan dari keluguan para karakter di sitkom.

Kelucuan tersebut digambarkan melalui citra sikap primitif dan kepercayaan terhadap animisme oleh para pemainnya. Kedua hal tersebut seolah dijadikan bahan lelucon yang menghibur. Padahal secara tidak sadar kelucuan yang rasis tersebut melanggengkan stigma terhadap orang Papua. Identitas Papua dalam sitkom menjadi semacam olok-olok yang menghibur.

Dalam konteks kolonialisme, hal tersebut tidak ubahnya seperti orang-orang Belanda pada masa penjajahan. Belanda kerap membuat semacam agenda hiburan dengan mempergunakan orang lokal. Salah satu contohnya adalah acara panjat pinang, di mana menyaksikan tingkah konyol masyarakat jajahan yang berebut hadiah adalah hiburan bagi para bangsawan Belanda.

Gambaran-gambaran di atas menegaskan bahwa representasi orang Papua di film dan TV bukanlah sesuatu yang menyehatkan bagi nalar. Tontonan macam itu akan sangat mungkin melanggengkan cara pandang stigmatis terhadap orang Papua.

Sembari tetap kritis pada kebijakan negara atas Papua, saatnya kita juga perlu mengupayakan tontonan yang humanis dan lebih akurat menggambarkan orang Papua. Ini juga demi masa depan anak-anak Indonesia yang anti-diskriminasi dan anti-rasisme.

 

Larasati, Cindy Erika. (2014). “Representasi Identitas Etnis Papua Dalam Film Lost in Papua”, Jurnal Commonline Departemen Komunikasi, Vol. 3/ No. 3.

Rato R., Daeng Lanta Mutiara. (2013). “Representasi Sosok Anak-Anak Pedalaman Papua dalam Film Denias, Senandung di Atas Awan”, skripsi Tesis Universitas Diponegoro.

Olivia, Firda (2013). “Representasi Etnis Papua Dalam Sitkom Keluarga Minus Trans TV”, skripsi Tesis Universitas Airlangga.

Gutiérre, Ramón A. (2004). “Internal Colonialism: An American Theory of Race”, Du Bois Review, 1.2, 281–295.

Purba, Y. Sahana. (2010). “Melawan Sekaligus Meniru: Siswa Papua Di SMP Kanisius Kalasan, Yogyakarta, Dalam Wacana (Post­) Kolonial” dalam Budiawan (Ed) : Ambivalensi Post-Kolonialisme: Membedah Musik Sampai Agama Di Indonesia.