Identitas lebaran, selain bermaaf-maafan, adalah keramaian. Kita bisa merasakan keramaiannya, bahkan sebelum hari raya Idul Fitri itu datang.

Meski karena pandemi Covid-19 ritual lebaran tidak seperti biasanya, tapi apakah perayaan itu lantas mati? Tidak.

Sebabnya barangkali adalah ini: smartphone. Perangkat ini membolehkan kita untuk bersua dengan anggota keluarga secara online. Paling tidak, melaluinya, kita masih bisa bertukar senyum dan tawa secara real-time, ketika bersalaman atau berpelukan masih tidak dapat dilakukan.

Teknologi ini sudah “berjasa” menyambungkan “kontak raga” kita dengan mereka yang tidak sedang bersama kita. Namun pada saat yang bersamaan, ada problem filosofis yang muncul, manakala tubuh bertransformasi ke dalam bentuknya yang virtual.

 

Transformasi Tubuh

Ketika bertemu secara langsung, kita tentu bisa lebih mendapatkan pengalaman inderawi yang lengkap. Suara khas seseorang atau bau parfum yang ia gunakan, misalnya, adalah sebentuk transaksi inderawi yang mampu memberi sensasi hubungan yang lebih dekat dengan seseorang.

Jelas akan berbeda ceritanya kalau kita sekadar berjumpa lewat smartphone. Selain tidak bisa menggunakan indera pengecap, peraba, dan pencium, komunikasi yang termediasi smartphone membuat kita berada dalam suasana inderawi yang tersendat.

Anda mungkin bisa mendengar suara seseorang, tapi mungkin tidak akan jernih ketika sambungan internet terganggu. Begitupun yang terjadi dengan kontak penglihatan anda pada “tubuh” seseorang, karena keterbatasan skala pixel smartphone anda dalam menayangkan gambar.

Situasi demikian, pertama-tama, membuat kita berada dalam kontrol teknologi. Betul bahwa kita memiliki smartphone. Pun, di dalamnya kita juga mempunyai kuota akses data internet yang besar. Tapi, apakah dengan dua hal dasar itu kita selamanya bisa berkuasa atas kelancaran komunikasi dengan seseorang? Toh kita tetap tidak akan bisa menghindari kondisi kehabisan daya baterai smartphone hingga sinyal putus-putus.

Menariknya, kontrol teknologi akhirnya tetap mampu mentransformasikan hubungan inderawi yang intim dari cara-caranya yang kompleks. Mungkin contoh yang saya alami berikut pernah jua terjadi pada anda.

Biasanya, kalau lebaran, untuk mengatakan “apakah kamu sudah makan?”, mama saya tidak cukup menyampaikannya lewat kalimat sekering itu. Bersama dengan pertanyaan tersebut, mama biasa menyajikan masakan yang baru ia buat di depan saya. Mungkin itu dimaksudkan agar nafsu makan saya bangkit setelah mencium sedapnya aroma makanan tersebut—sehingga tidak ada alasan bagi saya untuk tidak makan kedua kalinya.

Teknologi smartphone tentu tidak bisa menyalurkan cara yang demikian. Tapi, lewat tubuh virtual yang tampil dalam smartphone, kita tidak melulu perlu mendayagunakan kompleksitas inderawi kita untuk merasakan sensasi kedekatan dengan orang.

Saya lantas jadi teringat ketika Don Ihde, seorang filsuf teknologi kontemporer Jerman, yang mempromosikan ihwal yang dinamakannya “multi-stabilitas”. Konsep ini, sederhananya, mengartikan kemampuan kita untuk menjangkau realitas tanpa batasan ruang dan waktu melalui ruang layar, seperti pada smartphone (Hartanto, 2013). Ihde memberangkatkan konsep ini dari pemahaman bahwa esensi teknologi adalah untuk menunjang kemampuan tubuh organik manusia yang terbatas (Hartanto, 2014).

Di titik ini, Hartanto (2013) lantas memberi suatu tanggapan bahwa “realitas” yang dimiliki manusia telah tereduksi dalam penggunaan instrumen teknologis. Dikatakan tereduksi karena tubuh manusia, akhirnya, dirangsang untuk menyederhanakan relasi berbasis kontak inderawi yang kompleks lewat perjumpaan virtual. Akhirnya, relasi antar-manusia di era digital kini berdiri di atas kontak instrumental.

 

Menuju Post-human (?)

Lewat smartphone dan koneksi internet, kita sudah melampaui batasan manusia dalam menangkap pengalaman inderawi “yang utuh”. Tubuh seseorang yang kita harapkan untuk ditemui, kini tidak harus melalui tubuhnya yang bersifat organik—yang bisa kita rasakan keberadaannya dengan segenap indera. Sebab, sekarang kita bisa bertatap dengan “tubuh buatan” yang dihadirkan dalam layar smartphone.

Barangkali lantaran itu lahir pertanyaan: apakah kita sedang berada dalam gejala post-human?

Pertanyaan ini, pertama-tama, bisa kita selidiki jawabannya ketika Pepperell (2005) mendeskripsikan gejala post-human sebagai langkah manusia menempatkan realitas tubuhnya hingga pada dunia artifisial—Pepperell memakai istilah “dunia perpanjangan”. Dalam tesisnya, mereka yang mengalami gejala ini mampu mengatasi batasan-batasan biologis, neurologis, dan psikologis yang ada pada dirinya (Pepperell, 2009).

Bagi Pepperell (2005), cara tersebut adalah bagian dari upaya manusia mengejar pencapaian atau kebahagiaan. Ketika ada hambatan untuk mencapainya, pendayagunaan teknologi menjadi solusi yang dapat dilakukan, yang pada akhirnya mentransformasikan diri manusia sebagai post-human.

Masalahnya, berjibaku dengan kondisi post-human kerap kali memuat kekhawatiran sebagian orang akan turunnya kapasitas ke-manusia-an kita, karena secara serampangan tereduksi oleh instrumen teknologis. Kalau kita simak proyek filsafat teknologi dari Martin Heidegger, perspektif ini merupakan konsekuensi ketika teknologi dimaknai dari konsep enframing. Konsep ini menggiring kita untuk lebih melihat teknologi sebagai alat untuk menjawab tantangan keterbatasan yang dialami manusia (Drianus, 2018). Implikasinya, mendayagunakan teknologi untuk menjembatani relasi kebertubuhan selalu punya risiko karena kemampuan teknologi yang terbatas dan tidak selengkap pengalaman inderawi.

Saya bisa menunjukkan itu secara sekilas manakala pemerintah menjadikan lebaran lewat video call sebagai “solusi” bagi ritual mudik yang tidak bisa jalankan pada tahun ini. Tepat ketika “lebaran online” itu ujungnya sekadar sebagai persoalan melipat ruang dan waktu demi mendapat kepuasan ritual yang sama, kegiatan tersebut, tanpa kita sadari, hanya terkalkulasi oleh teknologi sebagai momen perjumpaan tubuh virtual saja. Teknologi tidak bisa mencerna jika sejatinya “lebaran online” adalah peluang mempererat ikatan emosional-spiritual.

Mengenai ini, Heidegger menawarkan pandangan bahwa teknologi mesti dilihat bukan melalui konsep enframing, melainkan dengan modus berpikir gelassenheit. Melalui modus berpikir itu, kita distimulasi untuk tetap mengizinkan perangkat teknologis mengisi keseharian kita. Di waktu yang sama, gelassenheit mengarahkan kita untuk tidak membiarkan teknologi mempengaruhi kedalaman diri kita (Drianus, 2018). Artinya kita perlu memahami apa kegunaan teknologi bagi eksistensi kita.

Yang terselubung di sini, Heidegger mengajak kita untuk mendudukkan instrumen teknologis sebagai alat untuk menyambung nilai etis. Sebab nilai etis inilah yang menjadikan manusia. Nilai etis ini bisa dicapai, misalnya, dengan menjadikan lebaran online sebagai sebuah momen untuk kembali memurnikan hubungan dengan keluarga, alih-alih sekadar sebagai pengganti rutinitas tahunan; bahwa bulan Ramadhan tidak afdal kalau tidak dilanjutkan dengan mudik. Dengan begitu, di mata teknologi, kita menjadikan diri tidak sekadar sebagai entitas yang hanya sekadar ingin eksis secara virtual.

Pada akhirnya, kondisi post-human tidak perlu dikategorikan sebagai tragedi. Justru, seperti yang disampaikan Piliang dan Audifax (2017), revolusi pengalaman inderawi seperti ini memberikan ruang bagi seseorang untuk bisa mereproduksi eksistensinya dalam “tubuhnya yang lain”. Eksistensi ini, lebih khususnya, dialamatkan pada upaya untuk terus merealisasikan pikiran—termasuk dorongan etis menyambung silaturahim—tanpa perlu terikat ke dalam pemahaman tubuh yang harus meng-ada secara nyata.

Refleksi di atas tentu tidak hanya berlaku di momen lebaran edisi pandemi kali ini. Saya pikir, refleksi ini akan terus relevan sepanjang kita masih hendak menyambung relasi yang otentik dengan rekan/keluarga kita melalui perantara smartphone dan internet—sampai situasi memungkinkan kita untuk berkumpul bersama lagi.

 

Drianus, Oktarizal. (2018). “Manusia di Era Kebudayaan Digital: Interpretasi Ontologis Martin Heidegger”. Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan Vol. 9, no. 2 (2018).

Hartanto, Budi. (2013). “Pascafenomenologi Ruangsiber: Menelaah Realitas Visual Internet dan Konsep ‘Ruangsiber’”. Ilmu Antropologi. Jurnal Ultima Humaniora. Volume 1, Nomor 2, Sepertember 2013.

Hartanto, Budi. (2014). “Membaca Materialitas Ilmu Berdasarkan Filsafat Teknologi Don Ihde”. Jurnal Diskursus, Volume 13, Nomor 2, Oktober 2014.

Pepperell, Robert. (2005). “Post-humans and Extended Experience”. Journal of Evolution and Technology - Vol. 14 - April 2005.

Pepperell, Robert. (2009). Post-human: Kompleksitas Kesadaran, Manusia, dan Teknologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Piliang, Yasraf Amir & Audifax. (2017). Kecerdasan Semiotik Melampaui Dialektika dan Fenomena. Yogyakarta: Aurora.