Minimnya representasi perempuan bukan hanya terjadi di tataran elit politik maupun sektor publik. Masalah ini bahkan sudah menjadi kudapan kita sehari-hari sejak usia dini dan dinormalisasi dalam tayangan anak.

Hal ini setidaknya akan tampak jelas jika kita mengamati tiga animasi anak besutan dalam negeri, Adit & Sopo Jarwo, Kiko, serta Keluarga Somat. Ketiga tayangan ini memiliki problem yang serupa: rendahnya representasi perempuan serta penggambaran karakter yang dipenuhi dengan stereotip gender. Mari kita awali perbincangan dengan angka. Ketiga tayangan ini merepresentasikan gender secara timpang dari segi jumlah. perempuan dalam tokoh tetap yang memiliki nama dan muncul secara berulang. Karakter tetap dari tiga tayangan ini, atau karakter yang memiliki nama dan muncul secara berulang dari tayangan, didominasi oleh karakter laki-laki. Jumlah karakter perampuan hanya setengah dari karakter laki-laki. Keluarga Somat relatif berimbang dalam merepresentasikan gender secara jumlah. Tapi bukan berarti tayangan itu inklusif secara gender.

Anda mungkin melihat kesamaan lain dari tayangan-tayangan ini: ketiganya memakai nama tokoh sebagai judul—tokoh laki-laki. Tokoh laki-laki memang menjadi bintang utama dalam tiga judul ini, sementara perempuan hanya menjadi tokoh pendukung. Perempuan hanya menjadi latar belakang, pendukung yang tidak terlihat, dalam dunia yang didominasi laki-laki. 

Hal ini semakin jelas jika kita melihat bagaimana perempuan digambarkan dalam kisah-kisahnya. Dalam tulisan ini saya akan membahas tiga stereotip gender yang paling sering saya temukan dalam tiga judul ini. Pertama, perempuan digambarkan memiliki daya pikir yang lemah dengan cara pikir magis (magical thinking) atau tidak rasional. Hal ini terekam saat Lola mencari semanggi berdaun empat agar lulus ujian memasak dengan nilai baik. Apa yang dilakukan Lola langsung disergah oleh Ting-ting si Kepiting yang pintar, “Keberuntungan itu terdiri dari 85% usaha, 10% sugesti, dan 5%...”

Sama seperti Lola, tokoh Bu Inah dalam Keluarga Somat juga digambarkan sebagai polos dan bodoh. Suatu hari, Bu Inah mendapati minyak goreng dagangannya hilang—yang ternyata diambil oleh Dudung, anaknya. Mulanya ia menduga bahwa minyak tersebut dicuri kucing karena mendengar suara mengeong dari warungnya yang sedang tutup. Bu Inah sempat bertanya, “Hei, kamu orang atau kucing?” Dudung yang sedang bersembunyi di dalam warung menjawab, “Kucing.” Sampai akhir episode, Bu Inah tetap percaya bahwa pencurinya adalah kucing, meski hal itu tak masuk akal hingga ditertawakan oleh Pak RT dan suaminya sendiri.

Penggambaran yang sedikit berbeda ada pada tokoh Ninung, adik Dudung. Ia diceritakan sebagai murid yang mendapat peringkat tiga besar di kelasnya. Sedangkan Dudung adalah murid tinggal kelas sehingga bisa satu kelas dengan adiknya.

Meski demikian, Ninung terperangkap stereotip kedua, yakni bahwa perempuan selalu pasif dan lemah. Sifat ini membuat pendapat perempuan lebih sering diabaikan dalam pengambilan keputusan—meski pendapat tokoh perempuan digambarkan lebih masuk akal. Ninung diceritakan menuruti Dudung untuk makan kue pelangi di meja makan—yang rupanya adalah titipan tetangga—dan membolos sekolah dengan dalih membantu orang tua ketika ayahnya di-PHK. Dalam situasi-situasi ini, Ninung sebetulnya melakukan negosiasi dan memberikan pendapat—yang lebih rasional dari Dudung—tapi pada akhirnya, Dudung-lah yang menjadi pengambil keputusan. 

Hal serupa juga terjadi dalam Kiko, ketika Kiko dan teman-teman ditantang oleh Karkus bertanding voli. Tanpa berpikir panjang, Kiko dan Poli memutuskan untuk menyutujuinya. Himbauan Lola untuk menolak ajakan tersebut diabaikan. Padahal, pertandingan voli ini bukan hanya menentukan nasib dua tokoh laki-laki tersebut. Jika mereka kalah, taman bermain anak-anak akan menjadi milik Karkus.

Stereotip gender yang terakhir ingin saya diskusikan adalah peran domestik perempuan. Tayangan-tayangan ini hanya menyuguhkan pembagian kerja tradisional: ayah mencari nafkah, dan ibu mengurus rumah. Hampir semua tokoh perempuan dewasa digambarkan tidak bekerja dalam tayangan-tayangan ini, meski menurut data BPS pada 2020, sebanyak 54% perempuan berusia produktif memiliki pekerjaan. Satu-satunya pengecualian adalah Bu Inah dalam Keluarga Somat, yang bekerja secara informal dengan mengelola warung.

Peran domestik ini pun dirintis oleh tokoh perempuan dalam tiga tayangan ini. Tokoh Lola dalam Kiko misalnya, hobi memasak dan merawat tanaman. Hal ini kontras dari teman-teman laki-lakinya yang diceritakan suka bertarung dan bertualang. Isi rumah Lola pun tak jauh dari perlengkapan dapur. Ketika ada perbincangan soal cita-cita pun, anak tak terlepas dari stereotip gender dalam pekerjaan. Hal ini terlihat dalam sebuah episode Adit & Sopo Jarwo, ketika BJ Habibie bertanya soal cita-cita para tokoh anak. Anak laki-laki menyebut cita-cita yang mengandalkan fisik, logika ruang, serta kepemimpinan, seperti tentara, pilot, ustadz, dan presiden. Sementara, anak perempuan memilih pekerjaan yang secara sosial dipersepsikan sebagai profesi perempuan atau netral, yakni desainer baju dan guru.

 

Rintangan Pengasuhan yang Bebas Bias Gender

Media—televisi salah satunya—adalah bagian dari ekosistem pengasuhan anak bagi keluarga Indonesia hari ini. Tayangan yang memiliki bias gender, terutama yang menyasar pada anak, akan punya pengaruh bagi tumbuh kembang anak serta masa depan mereka. 

Salah satu dampak paling jelas adalah dalam pemilihan karir. Kajian Fawcett Society di Inggris menemukan bahwa 51% respondennya merasa dibatasi oleh stereotip gender ketika membuat pilihan karir. Di Indonesia, perempuan terkonsentrasi dalam 5 dari 14 sektor usaha—selebihnya dikuasai laki-laki. Upah rata-rata pekerja perempuan juga hanya 78,2% dari upah rata-rata pekerja laki-laki. Kesempatan perempuan untuk meniti karir yang lebih tinggi pun lebih rendah—hanya 30% jabatan manajerial diisi oleh perempuan pada 2019

Bukan hanya perempuan, pola pikir bias gender ini pun merugikan anak laki-laki. Mereka dianggap lemah atau “bukan cowok” ketika menangis atau punya perasaan takut akan sesuatu, karena secara norma sosial, mereka harus kuat dan berani. Ini tentu akan membatasi mereka untuk berkekspresi dan buruk bagi perkembangan psikologisnya. dan melakukan ekspansi ke bidang yang dicap sebagai milik perempuan seperti menjadi bapak rumah tangga atau fokus pada pengasuhan anak.

Alam pikir ini adalah rintangan yang perlu dihilangkan dalam pengasuhan anak. Penting bagi kita untuk menuntun anak untuk mengaktualisasikan diri tanpa batasan norma gender yang kaku. 

Alih-alih menjadi penghambat, media sebenarnya bisa jadi bagian dalam mengatasi masalah dengan menjadikan inklusi gender sebagai bagian dari misi tayangan. Bagaimana ini dilakukan?

Profesor di Centre for Equality and Social Justice di University of Kentucky, Christia Spears Brown (2014) mengatakan bahwa anak-anak perlu memahami stereotip serta bagaimana hal itu bisa memengaruhi dunianya. Mereka perlu tahu bahwa apa yang ada di layar tidak serta merta menggambarkan sifat “bawaan”, melainkan adalah sesuatu yang dibentuk. Mereka juga perlu banyak dipaparkan dengan diskusi tentang bagaimana stereotip bias gender bisa menggelinding menjadi seksisme. 

Tentu ini bukan berarti perempuan tidak boleh menjadi ibu rumah tangga, bersikap lebih kalem ketimbang aktif, atau mengambil pekerjaan yang lebih mengutamakan “kelembutan” atau “kerajinan”. Yang menjadi masalah adalah ketika media menjadikan hal-hal ini sebagai bagian dari identitas perempuan “normal”. Representasi perempuan yang rendah dan tidak beragam ini membatasi wawasan, sikap, dan masa depan anak dalam sekat-sekat gender yang ketat serta arbitrer.

 

Brown, Christia. 2014. Parenting Beyond Pink & Blue: How to Raise Your Kids Free of Gender Stereotypes. Berkeley: Ten Speed Press