Tahun 2020 kelak akan dikenang sebagai penanda bagi dunia yang berubah. Salah satunya, bagaimana ia secara dramatis mengubah sepakbola, atau lebih tepatnya dalam tulisan ini, pengalaman menonton sepakbola. 

Sebelum pandemi, menyaksikan liga-liga internasional dimainkan secara tertutup alias tanpa penonton tentu sulit untuk dibayangkan. Paling-paling penonton liga Indonesia saja yang sudah terbiasa menyaksikan siaran langsung  pertandingan tanpa penonton di stadion. Fenomena yang sudah lama dan kerap terjadi bukan karena alasan semacam pandemi tapi karena inkompetensi pengelola liga. 

Tapi bayangkan pertandingan besar seperti Barcelona ketika dibantai Bayern Muenchen 2-8 di Liga Champions, atau pertandingan yang menentukan gelar bersejarah Liverpool di Liga Inggris setelah 30 tahun, dimainkan tanpa penonton. Sebenarnya tidak perlu membayangkan, karena semua ini sudah terjadi. Iya. Situasi pandemi yang pada awalnya sama sekali menghentikan sepakbola, membuat banyak pengelola liga di berbagai negara beradaptasi. Paling signifikan tentu saja memutuskan untuk menyelenggarakan pertandingan tanpa penonton di stadion. 

Penikmat sepakbola tentu mengamini bahwa suporter adalah nafas dalam pertandingan. Baik suporter tradisional yang memiliki ikatan emosional terhadap klub, atau mereka yang hanya menikmati sepakbola sebagai hiburan, merupakan bagian tak terpisahkan dari pertandingan (Giulianotti, 2002). 

Dari sisi industri, kehadiran penonton di stadion adalah salah satu tanda popularitas—yang berarti juga, profit. Uang dari tiket pertandingan pernah menjadi sumber utama pemasukan yang diperoleh oleh klub. Saat ini, persentase pendapatan dari tiket penonton memang lebih sedikit. Pada 2019, penjualan tiket pertandingan hanya memberikan 17% dari total pendapatan yang diterima klub dalam satu musim. Bandingkan dengan pendapatan dari iklan 40% dan dari hak siar siaran televisi 43% (Deloitte Football Money League, 2019). 

Angka yang cukup besar dari hak siar ini menjelaskan betapa berkelindannya sepakbola dengan media. Persentase penjualan tiket yang mengecil ini berarti bahwa peminat sepakbola jauh melebihi kapasitas stadion, dan melintasi batas negara, sehingga harus diperantarai oleh televisi. Puluhan tahun belakangan, media dan pengelola liga mengemas tayangan begitu rupa, untuk menghadirkan kemeriahan di stadion. Peran televisi bukan untuk membuat penonton di rumah menyaksikan pertandingan, melainkan menyaksikan pertandingan bersama penonton di stadion. 

Keriuhan penonton di televisi, sebagaimana disebut Alex Russel (2020), memberikan ilusi keterikatan emosional yang menimbulkan sentimen, “kami” lawan “mereka”. Nuansa persaingan antarklub yang muncul, teriakan spontan ketika terjadi gol, atau peluit wasit, memberi ketegangan yang membuat olahraga ini semakin menyenangkan.

Rasa kebersamaan, identitas kolektif di seputar sepakbola, juga mengemuka dalam praktik menonton pertandingan di televisi. Orang berkumpul di warung kopi, kafe, atau restoran, untuk menyaksikan pertandingan klub kesayangan mereka. Representasi penonton di stadion turut membangkitkan emosi penonton televisi, dan membuat pertandingan menjadi lebih hidup. 

Kehadiran penonton di stadion juga bisa menjadi pertunjukan sampingan yang tak kalah menarik dari pertandingan. Salah satu contoh paling ikonik tentang hal ini adalah tendangan kungfu Eric Cantona yang mendarat di dada seorang penonton yang menghinanya. Peristiwa itu menjadi salah satu momen bersejarah di Liga Inggris dan tidak akan terjadi ketika tidak ada penonton di stadion. 

Di masa pandemi, stasiun televisi yang memegang hak siar Liga Inggris memberikan efek suara artifisial gemuruh suporter dalam pertandingan. Sky Sports, BT Sport, dan BBC bekerjasama dengan kreator EA Sport memproduksi suara suporter yang hanya bisa didengarkan oleh penonton televisi. Langkah ini mendapatkan protes dari suporter di 16 negara di Eropa. Kelompok-kelompok suporter ini menyebut bahwa absennya fans di stadion tidak bisa, “digantikan oleh simulasi komputer untuk menghibur penonton televisi.” 

Pada satu sisi, ide untuk membuat suara artifisial ini menunjukkan pengaruh televisi dalam pengalaman menonton sepakbola. Stasiun televisi ingin memberikan pengalaman menonton yang sama dengan sebelum pandemi. Keriuhan penonton sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari permainan itu sendiri. Ironisnya, riuh rendah suara artifisial ini tidak bisa didengarkan secara langsung oleh pemain di lapangan. Artinya, tujuan stasiun televisi memang untuk menyasar konsumen mereka, penonton layar kaca. Bahkan, kita bisa memilih untuk mendengarkan atau tidak mendengarkan riuh rendah suara artifisial di stadion berdasarkan platform atau stasiun televisi yang dilanggan.

Pada sisi lain, kosongnya tribun stadion menjadi penanda hilangnya kemampuan televisi dalam menangkap resonansi emosional dalam pertandingan. Dan pada tahap yang lebih jauh, karena kondisi pandemi juga sulit diprediksi kapan akan berakhir, berpengaruh pula terhadap relasi sepakbola dengan suporter. 

Pada titik ini, masa pandemi semakin menegaskan pergeseran suporter menjadi audiens yang beriringan dengan fase industrialisasi sepakbola modern puluhan tahun ke belakang. 

Fase ini ditandai merasuknya logika media yang begitu vital. Frandsen (2016) menyebut bahwa relasi sepakbola dan logika media ini berjalan dua arah. Pada satu sisi sepakbola mesti mengikuti bagaimana industri media khususnya televisi bekerja. Misalnya saja mengenai bagaimana televisi memaksa sepakbola untuk beradaptasi dengan industri. Efeknya dari mulai jam tayang yang mesti ramah buat penonton internasional, sampai perubahan regulasi seperti durasi istirahat minum yang memberikan ruang lebih banyak bagi iklan di televisi

Pada saat yang sama, media juga beradaptasi dengan sepakbola. Media mengembangkan fasilitas baru, menggunakan komentator sepakbola yang berasal dari atlet, serta membuat pengaturan untuk menentukan hak siar bagi klub-klub besar dan kecil. 

Dari sini tampak bahwa logika industri berkait kelindan dalam membentuk pengalaman menikmati sepakbola. Pada gilirannya, komunitas suporter pun dinilai pada kontribusi ekonominya: apakah ia membeli jersey, merchandise, atau tiket di stadion yang mahalnya minta ampun. Tak heran jika di banyak negara harga tiket yang semakin mahal membuat sepakbola semakin hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang punya akses dan uang. 

Absennya supporter di stadion yang digantikan dengan suara artifisial, merupakan metafora sekaligus titik balik dari modernisasi sepakbola. Kawin silang industri olahraga dengan media menjadi ekosistem tempat olahraga ini berkembang. Identitas kolektif suporter “terlahir” dari pertukaran komoditas olah raga secara global, melalui franchise pertandingan yang bertumpu pada logika tontonan media. Kecintaan terhadap sepakbola modern bisa disebut artifisial, dalam arti, ia adalah produk dari mesin ekonomi yang terstruktur, sistematis, dan masif. 

Pandemi juga mengubah pengalaman kolektif suporter dalam menikmati sepakbola. Kita tak lagi bisa menonton di stadion atau melakukan “nonton bareng” beramai-ramai di ruang publik. Pengalaman kolektif dalam menyaksikan pertandingan ini merupakan ritual yang esensial dari budaya suporter bola, dan punya peran penting dalam menumbuhkan identitas komunitas. Sebagaimana ritual keagamaan yang turut berubah karena pandemi, ritual suporter sepakbola pun akan menemukan bentuknya yang baru. Entah seperti apa.

Namun ada satu hal yang tetap: roda industri harus berputar, dan pandemi ini membuat industri tekor. Total kerugian akibat penghentian Liga 1 dan Liga 2 oleh PSSI diperkirakan mencapai Rp3 triliun. Di Inggris, pandemi menjadi pemantik bagi krisis yang sudah membayangi industri sepakbola sebelumnya, yang ironisnya disebabkan oleh kebergantungan liga pada keuntungan dari penjualan hak siar.  

Dengan satu atau lain cara, suporterlah yang pada akhirnya akan menutup kerugian ini. Hal ini tentu akan punya dampak pada hubungan ekonomi antara suporter dan industri sepakbola, dan pada akhirnya, pada pengalaman kolektif kita dengan olahraga ini. Mari kita berharap bahwa hal ini tidak membuat sepakbola menjadi barang premium yang disembunyikan di balik pay wall, yang hanya bisa diakses oleh mereka yang berduit saja.