Bangunlah pagi hari. Mulailah aktivitas dengan pergi ke pasar tradisional, di mana kita dapat melihat bagaimana sirkulasi ekonomi mengalir melalui tangan perempuan. Sejak gelap sebelum subuh, suara perempuan bersahutan nyaring, mengontrol logistik barang dari truk pemasok ke lapak-lapak mereka, mempraktikkan keterampilan diplomasi dalam tawar menawar harga, juga menyajikan gaya politik untuk membuat penyuplai atau pembeli memperhitungkan kembali penawaran mereka. Pasar adalah satu contoh area di mana tenaga, pikiran, dan keputusan perempuan berperan di kehidupan nyata.

Tapi, hiruk pikuk suara perempuan nyaris tak tampak dalam materi dakwah konservatif di dunia maya, seperti kanal Youtube pendakwah agama atau akun Instagram ukhti-akhi influencer. Di akun dakwah yang punya target audiens perempuan, simbol eksistensi perempuan dihadirkan dalam ilustrasi perempuan berpakaian serba gelap, dilukis dengan siluet tanpa wajah, dengan pose menunduk. Tak ada gerak dan gairah produktivitas, malah mengaburkan realitas.
 

Penyempitan Makna Salihah

Dalam berbagai akun dakwah populer di Instagram, kesalihahan tidak didefinisikan lewat kiprah perempuan melalui peran ekonomi, sosial, atau kepemimpinan. Salihah adalah tentang penampilan. Standar nilai penampilan muslimah bersifat mutlak dan tunggal. Perempuan dianggap tidak salihah jika belum berpakaian sesuai syariah dan kaffah (sempurna), dengan puncak kesempurnaan adalah memakai cadar. Peran perempuan dibatasi untuk menjaga moral laki-laki. Pandangan ini berdasar asumsi bahwa perempuan adalah godaan terbesar. Konsekuensinya, muncul aturan yang membatasi perempuan, misalnya larangan mengunggah foto di media sosial.

Salihah juga digambarkan sebatas kepatuhan dan pelayanan pada suami. Dalam sebuah ceramah di Youtube, seorang ustadzah bergelar doktor seolah menafikan titelnya dengan menyerukan bahwa setinggi apapun ilmu perempuan, kedudukannya tetap lebih rendah dari lelaki. Materi dakwah serupa dari Youtube seringkali direproduksi dalam bentuk meme untuk disebar lintas platform untuk terus menegaskan domestifikasi ruang perempuan karena “fitrahnya adalah betah di rumah.” 

Dalam situs dakwah konsevatif, perempuan jarang diberi tempat membicarakan dirinya sendiri. Perempuan menjadi objek yang setiap aktivitasnya ditanyakan hukum boleh dan tidaknya. Bolehkan perempuan berdandan? Bolehkan perempuan keluar rumah tanpa izin suami? Bolehkah perempuan bekerja di ruang publik? Bolehkah perempuan menjadi pemimpin?.  Sebagian besar pertanyaan itu diberikan jawabannya oleh ulama laki-laki dengan jawaban yang seringkali lebih restriktif dibanding akomodatif.

Cara konten dakwah mendefinisikan peran perempuan juga berujung pada kompetisi dan keributan yang sia-sia. Misalnya, perdebatan antara ibu bekerja vs ibu rumah tangga. Situs dakwah konservatif menganggap bahwa istri yang berkiprah di rumah lebih nyunnah. Anggapan ini sering mencomot ayat Quran (QS. Al Ahzab: 33) dan menafsirkannya tanpa konteks. Tafsir parsial juga ditambah dengan stereotip bias gender seperti laki-laki lebih kuat atau perempuan lebih lembut. Argumen ini lemah karena sejak zaman Rasulullah, ada banyak catatan sejarah tentang perempuan bekerja. Bahkan istri dan sahabat perempuan Rasulullah bekerja dalam berbagai bidang, seperti kesehatan, perkebunan, perdagangan, membuat kriya dan mengajar.

Saya yakin, sebagian besar dari kita – dan mungkin banyak pendakwah laki-laki – lahir dan dibesarkan oleh Ibu pekerja, Ibu pemimpin, sekaligus Ibu rumah tangga. Guru, kepala sekolah, kepala dinas, peneliti, pengacara, pedagang, Ibu kita berkiprah dalam berbagai profesi. Kita tidak lantas meragukan apakah ibu kita adalah seorang istri atau ibu yang baik hanya karena mereka bekerja. Tak terpikir pula bahwa Ibu hanya pantas ada dalam ruang domestik, dan tak layak tampil di depan publik. 

Kepemimpinan atau pekerjaan perempuan tak perlu diributkan. Perdebatan soal kompetensi perempuan yang dianggap lebih rendah dari laki-laki juga tak relevan karena banyak sosok  Ibu yang juga seorang dokter atau doktor. Tapi perdebatan ini justru terus diulang dalam ceramah pendakwah dengan narasi yang menghakimi perempuan.

 

Berdampak Bahaya

Tak hanya menghakimi, distorsi realitas perempuan dalam konten dakwah konservatif juga berbahaya, khususnya bagi perempuan muda. Contoh paling mengkhawatirkan adalah konten kampanye nikah muda yang dibingkai ayat agama. Konten ini umumnya mencomot teks Quran dan hadits perihal keutamaan “jumlah umat yang banyak.” Muncul pula klaim bahwa mereka yang menunda perkawinan atau merencanakan kehamilan artinya berdosa karena mendahului takdir.

Kanal influencer Ukhti Mega Official, contohnya, mempromosikan video dengan deskripsi clickbait: “Hamil 17 tahun. Gimana rasanya pertama kali tidur sama suami?” Judul serupa akan mudah ditemukan ketika kita mencari kata kunci “nikah muda” di Youtube. Tak peduli simbol dan identitas agama yang ditonjolkan, Ukhti Mega tetap saja menjual imajinasi tentang seksualitas. Videonya “sukses” jadi viral di medsos, menjaring lebih dari satu juta views dan banyak komentar baper dari para remaja puber.

Konten dakwah nikah muda seperti Ukhti Mega berbahaya karena melegitimasi dan menormalisasi perkawinan anak yang, sayangnya, telah jadi jualan media massa. Padahal perjuangan untuk menghapuskan perkawinan anak di Indonesia harus melalui jalan panjang dan terjal. Baru di tahun 2019, setelah 45 tahun (!), akhirnya revisi UU nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan disetujui dan usia perkawinan dinaikkan menjadi 19 tahun. Perkawinan di bawah usia itu tak diakui legalitasnya oleh negara. Artinya, yang dipromosikan Ukhti Mega tidak lain dan tidak bukan adalah perkawinan anak.

Padahal, data dampak perkawinan anak di Indonesia sangat memperihatinkan. Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tahun 2017, sebanyak 85% perempuan dalam perkawinan usia anak terpaksa mengakhiri pendidikan lebih awal dan 41% perempuan mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Belum lagi risiko kesehatan. Kehamilan dalam usia anak memiliki risiko persalinan lima kali lipat lebih tinggi, serta risiko kelahiran premature dan kematian bayi, dan 40% probabalitias yang lebih tinggi untuk melahirkan anak stunting. Selain itu, perkawinan anak juga berdampak struktural dengan memperpanjang siklus ketidaksetaraan gender dan kemiskinan berkelanjutan.

Data dan fakta ini hilang dalam video Ukhti Mega atau seminar nikah muda. Di media Islam konservatif, nikah muda (dan perkawinan anak) dibicarakan dalam kerangka tujuan menghindari perzinahan dan melindungi diri dari fitnah. Logika ini berumus oposisi biner benar dan salah misalnya seperti: “Daripada Pacaran Penuh Maksiat, Maka Menikahlah Segera agar Penuh Pahala.” Logika ini yang jadi inti gerakan populer di media sosial seperti kampanye #IndonesiaTanpaPacaran.

Solusi simplistik yang ditawarkan berbagai konten dakwah konservatif sangat minim kreativitas dan imajinasi tentang masa depan. Realitas perempuan dibingkai dalam kerangka moral yang ekstrim. Seolah tak ada opsi menjalani hubungan sehat yang saling mendukung cita-cita masing-masing subjek dalam relasi. Tak ada pula opsi bahwa perempuan dapat menjalani hidup sebagai lajang dan tetap memiliki hidup yang menyenangkan serta penuh pahala. 

Narasi relijius dalam konten dakwah nikah muda hanya mengglorifikasi pernikahan sebagai cerita penuh bunga-bunga. Yang dilihat hanya enaknya saja. Amat jarang pernikahan didiskusikan sebagai proses perjalanan hidup, kadang menyenangkan, kadang memberatkan. Pada akhirnya, yang dominan dalam konten para influencer pendakwah ini adalah distorsi dan ilusi yang membatasi dan membahayakan perempuan.