Di antara aroma bumbu khas ikan bakar dengan cipratan minyak sambal dabu-dabu, seorang bapak “menumpahkan darah” dari luka lamanya yang belum sembuh. 

Re, sebut saja sang bapak begitu, adalah yang menemani saya dan suami berkeliling Ternate sembari menunggu jadwal terbang ke Makassar esok pagi. Pak Re mengajak kami ke Terminal Gamalama yang kalau malam hari berubah menjadi pasar kuliner ikan bakar yang penuh dan ramai sesak. Di saat kami menyantap ikan bakar cakalang itulah, Pak Re menguak luka lamanya. 

“Seperti yang su kalian lihat,” ujarnya, “korang [kami] mayoritas di sini. [Ini tandanya] menang korang waktu itu.”

Sambil melihat ke sekeliling terminal, Pak Re berkisah tragedi yang terjadi hampir 18 tahun silam. Pak Re bertutur, saat itu Sultan Ternate meminta seluruh penduduk Muslim Ternate berkumpul di Terminal Gamalama. Rumah harus ditinggalkan dalam keadaan gelap gulita. Di tengah-tengah konflik sektarian Maluku Utara, penyerangan kerap terjadi di malam hari sewaktu penduduk beristirahat. Sultan tidak bisa menjamin keselamatan mereka yang nekat keluar dari Ternate. 

Pak Re mengenang dengan detail kejadian yang dialaminya di terminal tersebut dan beberapa kerabatnya yang gugur. Baginya, para kerabat ini adalah pahlawan. Baginya juga, kelompoknya yang menang. Selepas konflik, Ternate dan beberapa daerah yang didiami oleh kelompok Muslim menjadi wilayah mayoritas Muslim. Begitu pun sebaliknya untuk daerah yang didiami kelompok lain. 

Hal ini dianggap sebagai kemenangan bagi masing-masing kelompok. Meskipun saat ini seluruh tempat ibadah terdampak konflik perlahan direvitalisasi, “siapa yang menang” tetap harus dijelaskan secara lisan.

***

Pembicaraan mengenai konflik semacam ini bukan hal yang tabu diceritakan oleh orang-orang di Ternate satu sama lain, bahkan kepada pendatang seperti kami. Kisah tersebut tidak hanya diceritakan sebagai tur sejarah dan pelajaran penting bagi pendatang, tapi juga sebagai rumor. Kebanyakan cerita yang dituturkan tidak dapat divalidasi kebenarannya. 

Rumor yang paling kencang berpusar pada siapa yang menang, siapa yang memulai, siapa yang jagoan”, dan siapa yang harus bertanggung jawab. Sisanya seperti bekas kerusuhan, daerah-daerah yang menjadi wilayah konflik, dan beberapa lainnya masih bisa dideteksi kebenarannya.

Minimnya pemberitaan mengenai kepulauan Maluku di media arus utama berkontribusi pada maraknya rumor ini. Selanjutnya, masyarakat lebih suka membicarakan suatu informasi dari mulut ke mulut. Tidak menjadi masalah dari mana informasi tersebut berasal. Bagi mereka, sesudah ia dibicarakan di lingkungannya, ia adalah berita yang aktual.

Pada masanya, rumor punya andil dalam menyulut konflik tahun 1999-2000 di Maluku Utara itu sendiri. Nils Bubandt dalam penelitiannya tentang rumor dan pamflet di Indonesia (2008) mengidentifikasi rumor berulang kali muncul sebelum dan sepanjang konflik Maluku dan Maluku Utara. Pada saat itu, rumor ditulis, diperbanyak, dan disebarkan melalui selebaran gelap, surat edaran, atau surat kaleng. Pamflet yang berisi rumor tersebut bersifat anonim, kalaupun tertulis tidak dapat dikenali dan diperdebatkan kebenarannya. 

Bubandt menyebutnya dengan “xeroxlore”. Xeroxlore adalah gabungan dari kata “xerox,” yang merujuk pada mesin fotokopi, dan “-lore” yang bermakna cerita atau dongeng. Salah satu xeroxlore yang tersebar saat itu adalah surat “Sosol Berdarah”. Surat yang tersebar di sekitar bulan Juli 1999 tersebut berisi rencana umat Kristen mengambil alih seluruh pulau Halmahera. Di dalam surat tersebut dijelaskan bahwa strategi untuk melakukannya ialah meneror etnis Makian di Halmahera yang mayoritas Muslim. 

Sementara itu pada bulan Oktober 1999, xeroxlore lain yang menyangkut umat Muslim tersebar. Umat Muslim dikabarkan merencanakan aksi “Natal Berdarah” di Maluku Utara sebagai balasan dari “Sosol Berdarah”. Tertulis di dalamnya bahwa “terhitung sejak 2000, lonceng gereja tidak akan lagi terdengar [di Halmahera].”

Setiap pamflet berisi rumor, gosip, dan “kabar burung” semacam ini tersebar, selalu ada dampak yang menyusulnya. Ribuan orang menjadi korban jiwa dan luka-luka, belum lagi puluhan ribu lainnya terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya. Pamflet rumor membentuk bayangan adanya konspirasi kelompok lain dan menyulut atmosfer paranoid yang berujung kekerasan antarkelompok. 

Jika pamflet adalah rumor yang tertulis, di awal 2000-an rumor juga tersebar di Maluku Utara lewat VCD dan kaset. VCD berisi rekaman adegan sadis perang antarkelompok yang mengakibatkan korban berdarah-darah tersebar, bahkan sampai keluar Maluku dan Maluku Utara. Sementara itu, salah satu kaset yang tersebar ialah rekaman suara yang mengelaborasi teori konspirasi dari surat “Sosol Berdarah”. Di dalamnya disebutkan, surat “Sosol Berdarah” adalah suara ketakutan yang masuk akal bila asalnya dari kelompok Kristen yang posisinya memang tengah kritis. 

***

Sebagai pendatang, kami tidak pernah mencemaskan bagaimana masyarakat lokal membicarakan rumor. Tidak pernah ada rumor yang benar-benar mengkhawatirkan dan mengancam keselamatan. Di tengah rumor, semuanya masih bisa hidup berdampingan. 

Sampai akhirnya, pada Mei 2018 terjadi sejumlah insiden bom di Surabaya. Tidak lama kemudian, ia disusul peristiwa ledakan di Riau. 

Meskipun insiden tersebut terjadi di ujung pulau Jawa, terornya sampai ke hati kami semua di Labuha. Keesokan harinya, gereja-gereja ditutup rapat oleh punggung aparat keamanan. Anggota militer juga berseliweran di jalan protokol. Ketegangan sangat terasa di kabupaten kecil tersebut. 

Tetangga kami banyak yang mogok berangkat ke gereja. “Libur dulu deh kita ke gerejanya,” seloroh Herman dan Albert diikuti tawa.

Sebagai daerah rentan dan bekas konflik berdarah, Labuha sangat sensitif dengan pemberitaan teror dan aksi sektarian. Apalagi, semua saluran televisi sangat masif memberitakan insiden tersebut dan tidak ada media alternatif yang aman. Teror ini sangat terasa bagi kami.

Kami, para pendatang, memutuskan untuk membatasi diri dari interaksi dengan penduduk setempat. Kami memilih menghindari pembicaraan, utamanya rumor mengenai insiden bom. Banyak yang menghubungkan ledakan ini dengan Aksi Damai yang dilakukan oleh kelompok Islam di Jakarta. Ada juga yang mengaitkannya dengan salah satu calon Gubernur Maluku Utara hanya karena memiliki kesamaan ekspresi beragama. 

Pada titik ini, rumor menjadi sama menakutkannya dengan rumor di hari-hari konflik. Ia membangkitkan kebencian dan ketakutan yang sama. Ketegangan dari insiden bom Surabaya dan Riau berlangsung selama kurang-lebih dua bulan. Setelahnya, gereja-gereja baru mulai kosong dari penjagaan ketat. Orang-orang mulai berkumpul seperti biasa. Pembicaraan mengenai sembako mahal mulai mengemuka lagi.

***

Tanggal 28 Maret 2021, insiden bom kembali terjadi. Bukan lagi di Jawa atau Sumatera tapi Makassar, kota besar di wilayah Indonesia Timur yang menjadi penyokong ekonomi dan pendidikan masyarakat Kepulauan Maluku. Kota besar yang dekat secara geografis dan emosional. 

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana teror tersebut bergulir di Labuha, Pulau Bacan, bagaimana ia langsung merambat liar dari mulut ke mulut, bagaimana ketakutan dan kengerian berdetak-detak di jantung penduduknya. Dan dengan jarak sedekat ini, entah akan berlangsung berapa lama ketegangannya. 

Nils Bubandt. 2008. “Rumors, Pamphlets, and The Politics of Paranoia in Indonesia”. The Journal of Asian Studies, 67(3):789-817.