Dibandingkan dengan televisi yang cenderung menyajikan konten seragam, Youtube dianggap lebih inklusif dan representatif terhadap kelompok minoritas. Sebagai platform media sosial, Youtube menawarkan ruang dan membebaskan pengguna untuk menjadi kreator konten tanpa memandang identitas mereka. Youtube bahkan menyatakan komitmen terhadap keberagaman dan inklusivitas jadi salah satu prioritas. 

Sayangnya, ada minoritas yang luput dari prioritas ini, yaitu komunitas penyandang disabilitas. Padahal komunitas ini memiliki kultur penggunaan internet yang semestinya diakomodasi. Salah satu contohnya, Youtube masih mengabaikan pentingnya penggunaan teks tertutup (closed caption) yang jadi instrumen vital untuk memungkinkan komunitas Tuli mengakses tayangan video tanpa hambatan.



Mengapa Teks Tertutup Penting?

Rasanya tak berlebihan apa yang diucapkan Bong Joon-ho, sutradara Parasite, saat ia menerima piala Oscar: “Once you overcome the one-inch-tall barrier of subtitles, you will be introduced to so many more amazing films." (Terjemahan: "Setelah Anda melewati hambatan setinggi satu inci berupa subtitle, Anda bisa mengenal lebih banyak film menakjubkan.") 

Layaknya subtitle, teks tertutup sering dianggap sebagai sebuah "hambatan." Ada pula yang merasa kehadiran teks tertutup malah mengganggu penampilan video. Padahal, teks tertutup bukan fitur trivial. Kehadirannya justru krusial untuk memfasilitasi audiens dalam mengakses media. Mungkin tak banyak yang menyadari betapa pentingnya teks tertutup.

Tapi, mari kita coba tempatkan diri sebagai seorang Tuli. Tidak semua orang  Tuli memiliki Alat Bantu Dengar (ABD). Ada yang tidak mampu membeli. Ada yang tidak memakai karena ABD membuatnya merasa tidak nyaman. Ada juga yang jenis ketuliannya tidak bisa dibantu dengan ABD. Terkadang ada masalah teknis dari ABD itu sendiri yang menghambat proses berkomunikasi. Menambahkan teks tertutup pada video berarti menyediakan akses informasi bagi komunitas Tuli  tanpa mengorbankan kenyamanan mereka.

Tidak hanya membantu komunitas Tuli, teks tertutup juga memfasilitasi proses pembelajaran daring. Penelitian dari University of Oregon menemukan bahwa mayoritas siswa pernah menggunakan teks tertutup. Dari jumlah ini, sebanyak 90% siswa  merasa bahwa video bahan ajar yang dilengkapi teks tertutup lebih membantu pemahaman, memori, dan akurasi informasi bahan ajar. 

Selain itu, berbagai studi pemasaran digital menunjukkan bahwa dengan menambahkan teks tertutup, pemilik konten dapat menjangkau lebih banyak khalayak penonton. Menambahkan teks tertutup berkorelasi dengan peningkatan jumlah views dan subscribers, bahkan memfasilitasi engagement audiens.

Dengan menyediakan teks tertutup, artinya kita telah melampaui “hambatan satu inci” untuk memperkenalkan konten yang jauh lebih beragam untuk menjangkau audiens yang jauh lebih luas.

 

Youtube Perlu Advokasi Lebih Gencar

Bagaimana dengan penggunaan teks tertutup di Youtube? Di tahun 2017, Youtube mengklaim bahwa satu miliar video di platformnya sudah dilengkapi dengan teks tertutup. Setelah ditelusuri, ternyata sebagian besar menggunakan fitur teks tertutup otomatis yang kurang akurat dan justru mengaburkan pemahaman penonton.

Memang, Youtube tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Keputusan atas fitur dan isi konten berada di tangan kreator dan menjadi tanggung jawab mereka. Sayangnya, masih jarang kreator yang memanfaatkan fitur teks tertutup, khususnya yang bersifat manual. 

Padahal, untuk menambahkan fitur ini, tidak diperlukan keahlian teknologi super canggih atau ilmu yang ndakik-ndakik. Panduan cara menambahkan teks tertutup dan subtitle ke dalam video YouTube sudah dipaparkan dengan jelas di laman resmi Google

Sebagai platform video milik Google, Youtube seharusnya juga turun tangan dan lebih gencar melakukan advokasi. Apalagi Youtube telah mengklaim bahwa inklusivitas menjadi prioritas. 

Pertama, Youtube bisa memberikan pernyataan eksplisit tentang pentingnya teks tertutup bagi inklusivitas dan keberagaman. Jika memang inklusivitas adalah prioritas, Youtube perlu mendorong kreator untuk berkomitmen menyediakan teks tertutup, misalnya dengan memberikan notifikasi berisi ajakan memasang teks tertutup saat kreator mengunggah video baru. Youtube juga dapat menggencarkan promosi fitur ini agar lebih banyak orang tahu. 

Kedua, selain menyasar kreator, Youtube juga dapat menyasar audiens. Sebagai media sosial terpopuler di Indonesia, Youtube sebenarnya memiliki kekuatan untuk mengenalkan dan mengarusutamakan (mainstreaming) aktivasi dan penggunaan teks tertutup pada media audio-visual. 

Teks tertutup perlu dikenalkan karena banyak yang sulit membedakan antara teks tertutup dan subtitle dan berpikir keduanya berfungsi sebagai alih bahasa saja. Padahal keduanya adalah jenis teks yang berbeda

  • Subtitle adalah teks terjemahan yang tampil pada konten audio-visual. Isinya teks percakapan yang tampil di video dalam bahasa yang berbeda dari bahasa yang digunakan oleh penutur di video. 

  • Teks tertutup berisi teks bunyi atau tuturan yang diucapkan penutur dalam bahasanya. Selain berisi teks tuturan, teks tertutup juga berisi berbagai jenis bebunyian yang muncul di video. Misalnya, bunyi musik intro, bunyi hujan, batuk, tawa, sepeda motor, dan sebagainya. Deskripsi bebunyian ini diperlukan karena tidak semua orang dapat mendengar bunyi tersebut. 

Teks tertutup bisa meliputi subtitle, tapi tidak sebaliknya. Pemahaman perbedaan istilah ini diharapkan mampu membuat pengguna YouTube menjadi lebih sadar akan pentingnya teks tertutup dan manfaatnya bagi komunitas Tuli di Indonesia. 

Pengenalan fungsi teks tertutup untuk inklusivitas adalah langkah awal yang penting untuk menuju ke tahap berikutnya yaitu pengarusutamaan (mainstreaming). Mengarustamakan teks tertutup berarti menormalisasi penggunaannya sebagai sesuatu yang wajar, bukan hal besar atau spesial. Dengan demikian, diharapkan muncul pola pikir untuk selalu membiasakan berbagai upaya untuk mengakomodasi kebutuhan komunitas Tuli, dan kelompok minoritas lainnya, dalam mengakses media.



Memahami, Bukan Mengasihani

Advokasi penggunaan teks tertutup bukan bertujuan untuk “mengasihani” komunitas Tuli. Lebih dari itu, advokasi ini bertujuan untuk memahami kebutuhan dan cara berbagai audiens, termasuk komunitas disabilitas, dalam mengakses media. 

Ketika seorang kreator menyediakan teks tertutup di kanal Youtube-nya, ia dapat memperluas basis massa khalayaknya. Bukan hanya untuk meraup views atau adsense, teks tertutup mendorong kreator untuk memahami kultur komunitas Tuli. Fitur ini juga dapat memupuk sensitivitas kreator untuk membangun koneksi dengan audiens dengan cara memahami kebutuhan aksesibilitas penontonnya. 

Pemahaman ini diharapkan akan terus tumbuh dan menyebar hingga meliputi komunitas-komunitas disabilitas lainnya. Alih-alih memandang komunitas disabilitas sebagai orang-orang yang "berbeda," kita dapat menempatkan mereka sebagai layaknya komunitas audiens lainnya yang memiliki preferensi atau kebutuhan tersendiri atas sebuah konten informasi. Perspektif ini penting untuk mengakomodasi keragaman dalam mengkonsumsi media.

Tentu, persoalan inklusivitas dalam media adalah isu yang sangat kompleks dan punya banyak aspek. Penambahan teks tertutup baru satu langkah, yang mungkin terlihat sepele, tapi sangat penting dilakukan. Meskipun kecil, langkah ini berdampak baik terhadap berbagai upaya untuk terus menciptakan media yang inklusif dan ramah pada keragaman.