Mengapa setiap kali kita mendengar lansia di media, mereka selalu mengundang keibaan kita? Ambil saja berita dengan judul-judul berikut: “Miris! Pasutri Lansia Hidup dengan Menjual Lidi Rp2.800 per Hari”, “Tiga Lansia Renta Ini Tinggal Satu Atap, Kisahnya Bikin Hati Teriris”, “Malang Benar! Hidup Nek Saniyem Bergantung pada Para Dermawan”. Penggunaan diksi seperti “Miris”, “Renta”, “Malang” dalam pemberitaan soal lansia secara tidak langsung telah mengasosiasikan lansia dengan kondisi yang patut diibakan.

Penyajian lansia yang demikian ditemukan dalam penggambaran media di berbagai tempat. Loos dan Ivan (2018) menyebutnya sebagai “visual ageism,” penggambaran media yang kurang mengakomodasi lansia atau keliru dalam merepresentasikannya karena diliputi prasangka. 

Visual ageism di media ujungnya melegitimasi citra monolitik lansia di masyarakat yang bukan hanya rentan tetapi juga cuma dapat dikasihani. Mengutip sejumlah pengamat, media cenderung menggambarkan lansia sebagai insan-insan yang telah mengalami kemunduran tak terhindarkan dari segi kognitif dan psikososial serta bergantung pada orang usia muda (Bugental & Hehman; Kesby dalam Swift & Steeden, 2015). Akibatnya, citra negatif lansia terbentuk sebagai orang pikun, buruk, bodoh, tidak memiliki kemampuan, tidak produktif, tidak sehat, dan tidak aktif karena bias ageism media dalam merepresentasikan lansia (Rozanova dalam Swift & Steeden, 2015). Stereotip negatif ini mendominasi penggambaran lanjut usia di media. 

Studi empiris yang dilakukan oleh Roy, Harwood dan Walker (dalam Loos & Ivan, 2018) menunjukkan bahwa dalam iklan di media cetak, iklan di televisi, dan program televisi, lansia kerap digambarkan sebagai beban finansial masyarakat. Pun, dalam ulasan soal representasi lansia di The Economist, Martin dkk. (dalam Swift & Steeden, 2015) menunjukkan 64 persen artikel merepresentasikan lansia secara negatif (sebagai beban). Hanya dua belas persen yang merepresentasikan lansia sebagai manfaat, dan pola representasi yang demikian konsisten sepanjang kurang-lebih satu dekade. 

Visual ageism di media juga dilanggengkan melalui penggambaran yang lebih positif seperti dalam hal “keawetan”. Penggambaran lansia yang ideal sebagai lansia yang awet, entah itu awet muda, awet produktif, atau awet-awet lainnya menjadi problematis karena berpotensi menjadi tuntutan tak masuk akal bagi lansia. Walhasil, penggambaran positif lansia pun masih terjebak pada ageism di mana penuaan seharusnya tak terjadi (Edstrӧm, 2018).

Konstruksi media tentang “keawetan” toksik tersebut dapat kita temukan, misalnya, pada iklan produk-produk kecantikan anti-ageing yang menarget perempuan usia 40-50-an. Timbulnya garis-garis keriput wajah yang menandakan penuaan seolah menjadi masalah besar yang harus segera ditangani. Ambil saja artikel rekomendasi produk kosmetik IDN Times berikut ini—“8 Produk Skincare Set Anti Aging, Buruan Pakai Sebelum Terlambat!”. 

 

Design for Diversity in Media: Solusi Mendekonstruksi Pelanggengan Ageism

Bila media sangat berperan dalam melanggengkan ageism, apa yang lantas dapat dilakukan? Loos dan Ivan menawarkan pendekatan alternatif untuk mengurangi visual ageism di media yaitu penerapan “design for diversity” di media. Design for diversity berarti metode representasi yang menaungi “kebutuhan yang sangat berbeda dan berubah secara dinamis”. Menerapkan representasi visual yang beragam bagi lansia di media akan membantu memerangi representasi lansia yang terlalu homogen (Loos & Ivan, 2018), membangun rasa hormat, serta pemahaman yang lebih baik tentang usia senja (Vickers dalam Loos & Ivan, 2018).

“Design for diversity” di media dilakukan dengan meningkatkan visibilitas lansia. Implementasinya misalnya dapat kita lihat pada iklan produk kecantikan di televisi yang lebih menonjolkan sisi keriput di wajah atau tanda-tanda penuaan ketimbang menyembunyikannya. Produk perawatan Dove, misalnya, mengambil posisi “pro age” sebagai bagian dari “Campaign for Real Beauty” mereka. Kampanye ini menampilkan perempuan-perempuan yang bukan model profesional dengan bintik-bintik penuaan di kulit, rambut yang telah memutih, dan lekuk tubuh mereka. Ia mencoba mendemonstrasikan bahwa perempuan itu cantik di segala usia (Loos & Ivan, 2018). 

Sudah saatnya media mampu menjadi wadah lansia diceritakan berdasarkan situasi mereka yang beragam, bukan sebatas berdasarkan prasangka yang dilekatkan kepada mereka. Memang, lansia memiliki kebutuhan khusus sebagaimana disabilitas. Namun, ini bukan berarti mereka tidak berhak diperlakukan selayaknya manusia biasa yang tidak disorot dari satu karakteristik yang melekat padanya. 

 

Edstrӧm, Maria. (2018). Visibility Pattern of Gendered Ageism in the Media: A Study of the Representation of Gender and Age over Three Decades. Feminist Media Studies, Vol. 18, No. 1, 77–93. https://doi.org/10.1080/14680777.2018.1409989

Loos, Eugẻne & Loredana Ivan. (2018). Chapter 11: Visual Ageism in the Media. In Liat Ayalon & Clemens Tesch-Rӧmer, Contemporary Perspectives on Ageism. New York: Springer. https://link.springer.com/book/10.1007/978-3-319-73820-8

Swift, Hannah J & Ben Steeden. (2015). Exploring Representations of Old Age and Ageing: Literature Review. Center for Ageing Better. https://www.ageing-better.org.uk/sites/default/files/2020-03/Exploring-representations-of-old-age.pdf