Majalah TIME pernah menyatakan bahwa Covid19 “mematikan surat kabar lokal dan memudahkan penyebaran misinformasi.” Tapi, sebelum Covid pun kita telah melihat tren menurunnya berita lokal. Tren ini mengkhawatirkan, apalagi di Indonesia yang lanskap medianya didominasi oleh konglomerat digital besar berbasis di Jakarta dan terkonsentrasi pada berita nasional dari ibu kota.

Di sisi lain, pandemi menunjukkan pentingnya berita lokal bagi masyarakat. Informasi tentang kondisi rumah sakit, area penularan, serta pusat vaksinasi sangat krusial dan justru dilayani lebih baik oleh berita lokal. Belum lagi kebijakan dan instruksi dari politisi lokal dan otoritas kesehatan mengenai pembatasan atau karantina wilayah di daerah mereka. 

Dalam konteks inilah “akun berita lokal” menjamur di Instagram. Di saat perusahaan koran lokal sekarat atau sulit bertahan, akun-akun yang mengadopsi nama koran (seperti @KabarTangsel, @InfoBandungKota, @KabarJogja) justru tumbuh dan menjaring audiens. Jumlah pengikut bervariasi, namun rata-rata bisa mencapai puluhan hingga ratusan ribu.

Melihat maraknya akun-akun berita lokal ini, potensi Instagram sebagai platform yang menjadi outlet berita lokal di Indonesia perlu mendapat perhatian lebih. Penelitian kami saat ini berupaya memahami  fenomena yang muncul dari berita Instagram ini. Dalam artikel ini, kami membagikan beberapa temuan awal, terutama mengenai bagaimana situs-situs tersebut bekerja dan beroperasi. Kami juga mengajak pembaca untuk merefleksikan bagaimana potensi akun berita lokal untuk proses demokrasi di Indonesia.

 

Kebangkitan Berita Lokal di Instagram

Mengapa outlet berita lokal lebih berkembang di Instagram dibanding platform media sosial lainnya? Kemunculan Instagram sebagai lanskap baru dalam publikasi berita lokal sepertinya mengikuti tren pola konsumsi media sosial di Indonesia.

Data tahun 2021 dari We Are Social menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 170 juta pengguna aktif media sosial, di mana sekitar 98% mengakses media sosial melalui ponsel. Sebagian besar adalah pengguna berusia 34 tahun ke bawah, yang menghabiskan lebih dari 3 jam per hari di platform media sosial. Di pusat pertumbuhan ini adalah kaum muda perkotaan Indonesia yang menggunakan Instagram sebagai platform media sosial utama mereka dan, yang semakin meningkat, sebagai sumber kebutuhan informasi.

Pada tahun 2021, untuk pertama kalinya, Instagram menyalip Facebook sebagai platform media sosial yang paling banyak digunakan di Indonesia--walau jumlahnya masih sedikit di bawah WhatsApp dan YouTube. Meski demikian, ternyata pengguna cenderung bertahan lebih lama di Instagram dan mengunjungi lebih banyak laman dibandingkan saat mereka berada di Facebook atau YouTube. Facebook (sebagai perusahaan pemilik Instagram) melaporkan bahwa sekitar 85 juta pengguna Indonesia dapat dijangkau menggunakan iklan di Instagram. Jangkauan iklan (advertising reach) di Instagram sendiri tumbuh sekitar 9% per kuartal pada tahun 2021.

Potensi ekonomi dalam Instagram memotivasi pengusaha digital dan jurnalis lepas untuk membuat konten dan memonetisasi akun yang berorientasi pada berita lokal di Instagram. Kami meneliti lima akun serupa yang berbasis di Tangerang: @tangerangnews, @infotangerang, @kabartangsel, @tangsellife dan @infojkt. Kami juga mewawancarai tim editorialnya untuk memahami kerja operasional mereka.

Temuan kami menunjukkan bahwa akun berita lokal di Instagram beroperasi sebagai bisnis kecil yang berorientasi profit. Mereka umumnya bekerja dalam tim kecil (kurang dari 10 orang) yang berbagi tugas, mulai dari memindai konten dan memposting secara teratur. Biasanya, ada sekitar empat orang dalam tim inti yang membuat keputusan-keputusan bisnis dan editorial. 

Tim editorial mengkurasi informasi dari berbagai sumber, termasuk konten kiriman audiens, serta memposting berita dan informasi terbaru tentang wilayah lokal yang jadi fokus jangkauan. Sebagian besar konten mereka hanya terfokus pada informasi terkait wilayah lokal yang umumnya tidak cukup newsworthy (atau memiliki nilai berita) jika ditampilkan dalam media nasional--seperti misalnya kemacetan lalu lintas, kecelakaan, atau antrean rumah sakit. Tapi, kehadiran berita-berita serupa di media sosial sangat relevan bagi warga lokal, apalagi dalam situasi krisis seperti pandemi.

Kebanyakan akun berita yang kami teliti tidak berafiliasi dengan organisasi media besar. Namun, beberapa merupakan anggota asosiasi media digital lokal, Serikat Media Siber Indonesia (SMSI). Hal ini berbeda dengan perusahaan media online besar seperti kompas.com, tempo.co, detik.com yang berafiliasi dengan asosiasi yang lebih besar, yaitu Asosiasi Media Siber Indonesia.

Sumber penghasilan utama mereka berasal dari endorsement berbayar. Selain itu, mereka menawarkan layanan konsultasi digital untuk bisnis lokal. Menurut informan kami estimasi pendapatan bulanan berada di kisaran 15-30 juta rupiah. Pekerja level terbawah dalam organisasi digaji sekitar 1-2 juta rupiah. Sebagai perbandingan, jurnalis pemula di perusahaan media besar di Jakarta rata-rata mendapat gaji sekitar 3 juta rupiah per bulan.

Kendati berpenghasilan cukup rendah, sebagian besar informan kami mengandalkan pengelolaan akun berita ini sebagai sumber utama pendapatan. Mereka juga mengklaim bahwa pendapatan organisasi mereka akan tumbuh seiring meningkatnya followers.

 

Dampak Potensial pada Politik

Para ahli media telah mengkaji peran Instagram dalam pembentukan wacana publik dan proses politik. Sebuah studi menganalisis bagaimana munculnya fenomena “ternak klik” (click-farmings) Instagram sebagai tenaga kerja digital di Indonesia. Studi lain menunjukkan bagaimana Instagram menjadi ruang untuk operasi dan manipulasi digital, salah satunya kampanye disinformasi.

Meningkatnya penggunaan media sosial dalam kampanye politik di Indonesia memunculkan pertanyaan tentang bagaimana akun berita lokal di Instagram beroperasi di tengah pusaran politik lokal. Misalnya, kemungkinan akun ini digunakan untuk menyasar pemilih atau bahkan “dibeli” oleh politisi. Riset kami mengeksplorasi kemungkinan ini dalam konteks Pilkada 2020 di Tangerang Selatan. Kami mencari tahu apakah kandidat politik menggunakan situs tersebut dalam kampanye mereka.

Tangerang Selatan didominasi oleh pemilih kelas menengah yang meningkat dengan penggunaan media sosial yang tinggi. Selain itu, pandemi Covid19 menunjukkan bahwa politisi perlu mengalirkan lebih banyak uang ke dalam kampanye digital di tengah pembatasan interaksi tatap muka saat masa kampanye. Pilkada 2020 menampilkan kandidat dengan bekingan elit politik bermodal besar, seperti putri Wakil Presiden Ma'ruf Amin, keponakan Prabowo Subianto, dan keponakan mantan Ratu Atut.

Kami menemukan bahwa, sebelum pemilihan kepala daerah, akun-akun Instagram berita lokal ini secara rutin membagikan pernyataan para kandidat dan otoritas pilkada. Mereka juga memperbarui berita-berita terkait protokol kesehatan di hari pencoblosan atau informasi terkait bilik suara di sekitar Tangerang. Sebagian besar situs berita lokal yang kami pantau, seperti @Tangsellife dan @Tangerangnews, menyajikan berita terkini dalam narasi yang relatif netral.

Namun, satu akun, @KabarTangsel, mendedikasikan satu bagian untuk konten yang mendukung pasangan petahana, yaitu wakil walikota saat itu Benyamin Davnie yang berpasangan dengan Pilar Saga Ichsan, keponakan Ratu Atut. Konten ini disamarkan sebagai berita terbaru dari Pemerintah Tangerang Selatan. Sayangnya, redaksi @KabarTangsel tidak merespon permintaan wawancara kami.

 

Pentingnya Berita Lokal

Perkembangan akun berita lokal dalam platform media sosial patut jadi perhatian para aktivis pro-demokrasi dan kebebasan pers untuk dua alasan.

Pertama, akun-akun berita lokal ini dapat dengan mudah berubah menjadi medan perang disinformasi. Kita hanya perlu melihat Filipina untuk mendapat pelajaran. Di Filipina, kemenangan pemilu 2016 Rodrigo Duterte sebagian besar disebabkan oleh tingginya kampanye media sosial berjejaring. Dalam proses ini juga lahir industri disinformasi, termasuk upaya sistematis pembuatan dan manipulasi halaman-halaman Facebook lokal dan media sosial lainnya.

Dalam konteks Pilkada Tangerang Selatan, temuan kami tidak memperlihatkan keterlibatan akun berita lokal dalam pola kampanye “berjejaring” ala Duterte. Responden kami mengklaim jika situs mereka menjadi “terlalu politis,” pembaca akan menjauh. Mereka meyakini bahwa sebagian besar audiens mereka apatis secara politik dan aktif di Instagram karena ingin menghindari diskusi politik yang seringkali panas--karena peran buzzer--di Twitter dan Facebook. Dengan demikian, mereka memandang netralitas akun sebagai kunci menjaring followers. 

Meskipun demikian, menjaga netralitas adalah tugas yang sulit. Dinamika ini tentu dapat berubah di masa depan, terutama jika politisi menggunakan uang dalam jumlah besar untuk memanipulasi informasi melalui situs-situs tersebut.

Kedua, penting bagi kita untuk mempelajari sejauh mana akun berita lokal di Instagram memiliki kapasitas untuk membantu mengawasi kekuasaan pemerintah dan mendorong proses akuntabilitas. Seperti misalnya, mengkritik kebijakan politisi lokal atau kinerja polisi setempat. 

Mengingat situs-situs ini tidak terdaftar di Dewan Pers dan pekerjanya tidak dianggap sebagai jurnalis profesional, setiap potensi kritik terhadap aparat keamanan atau politisi dapat membuat mereka dengan mudah ditangkap dengan dalih pelanggaran UU ITE

Akun berita lokal di Instagram mungkin akan lebih membutuhkan perlindungan, alih-alih pengawasan. Hal ini mengingat bagaimana perubahan masyarakat informasi di era digital turut menjadi faktor kemunduran demokrasi di negara ini. 




Artikel ini diterjemahkan oleh Wisnu Prasetya Utomo