Akhir bulan Maret 2021, pemerintah mengadakan kompetisi bertajuk Piala Menpora 2021 untuk menaungi klub-klub Liga 1 yang sudah sedari awal 2020 vakum akibat pandemi. Format kompetisi tetap mematuhi protokol pencegahan kerumunan, sehingga para suporter dilarang memadati tribune stadion dan hanya bisa menyaksikannya melalui siaran televisi. Tapi memasuki pertengahan kompetisi, siaran pertandingan Piala Menpora 2021 malah digeruduk warganet

Muncul tagar Gerakan Mute Massal di media sosial Twitter yang kemudian jadi trending topic. Tagar ini berawal dari cuitan akun resmi klub Liga 1, Bali United, yang mengkritik komentator sepak bola yang memandu jalannya siaran pertandingan. Walau cuitan Bali United ini pada akhirnya dihapus, warganet terlanjur berbondong-bondong menyuarakan pendapat serupa.

Fokus kritikan menyoroti gaya bahasa komentator sepak bola Indonesia. Ucapan komentator dalam mendeskripsikan momen-momen keseruan laga dinilai terlalu banyak hiperbolis, lebay, berisik, dan minim informasi bermanfaat. Para warganet mengharapkan adanya perbaikan akan kualitas kinerja sang komentator.

Pihak komentator yang disudutkan publik ialah Valentino Simanjuntak. Melihat kritikan bertubi yang menghampirinya, Valentino mengaku tidak keberatan sama sekali. Titik yang Valentino persoalkan hanya perihal cuitan Bali United saja.

"Nothing's personal buat saya sebenarnya, tetapi ketika akun resmi dari sebuah klub kemudian mengatakan hal itu (saya hiperbolis), ya, saya kemudian kan mempertanyakan balik apakah selama ini yang saya bilang tentang Bali United itu hiperbola apa, enggak?" ucap Valentino, mengutip Kumparan.

"Karena kan saya sering menginformasikan tentang fakta-fakta, tentang fasilitas stadionnya, tentang profesionalisme klubnya, saya menceritakan tentang apa saja di sekitar stadionnya, apakah itu hiperbola? Kalau itu hiperbola, berarti mungkin adminnya enggak koordinasi kali dengan pihak-pihak terkait," lanjut Valentino.

Memaknai huru-hara komentator sepak bola Indonesia, lantas sudah tepatkah kritik yang dilontarkan publik? Atau malah sebenarnya gaya lebay komentator sepak bola seperti Valentino merupakan hal wajar dalam industri penyiaran?
 

Tugas Komentator Sepak Bola

Bagi stasiun televisi, seorang komentator punya peran vital dalam siaran pertandingan sepak bola. David Rowe lewat bukunya Sport Culture and The Media memaparkan bahwa komentator siaran pertandingan cabang olahraga apa pun haruslah lihai mengolah kata secara lisan dan mendeskripsikan momen-momen jalannya laga. Selain itu, kata-kata yang diucapkan mesti menstimulasi agar para penonton setia bertahan dan penonton baru terpikat.

Valentino Simanjuntak, selaku komentator sepak bola yang disudutkan Gerakan Mute Massal, rasanya paham betul isi teori di atas. Kala bertugas, Valentino pasti sadar celotehannya dipercaya pihak stasiun televisi untuk memberikan nilai tambah atas siaran pertandingan. Cara yang dia pakai guna meningkatkan jumlah pemirsa persis seperti poin-poin yang disorot Gerakan Mute Massal: banyak bahasa hiperbolis serta heboh nan lebay.

Valentino sendiri tak menampik bahwa tujuan komentarnya ialah menciptakan sensasi. Khusus gelaran Piala Menpora 2021, Valentino dihadapkan situasi rating siaran pertandingan sepak bolanya yang kalah jauh dengan sinetron stasiun televisi lain, "Ikatan Cinta" yang jam tayangnya sama. Valentino. Sebagaimana kata-kata Valentino sendiri:

"Nah, saya kan juga memang host yang harus mencari sensasi supaya penonton semakin banyak. Penonton yang dimaksud oleh TV itu kan bukan hanya penonton bola, tetapi penonton di luar bola juga yang sekarang larinya ke ‘Ikatan Cinta’. Tayangan bola ini (Piala Menpora) masih tiga kali lipat di bawah 'Ikatan Cinta'. Jadi, kita harus melakukan berbagai macam kreativitas kan."

Kumparan merangkum sejumlah istilah unik yang diucapkan Valentino selama memandu siaran pertandingan Piala Menpora 2021. Ada istilah "gerakan 378", "umpan sedekah", gerakan ghosting", "umpan membelah lautan", "heading tanpa notifikasi", dan lain sebagainya. Intinya, segala istilah unik tersebut tidak disukai pecinta sepak bola Indonesia, dianggap terlalu banyak hiperbola, lebay, hingga aneh.

Namun, inovasi diksi lewat kiasan memang jurus wajar komentator sepak bola untuk memancing perhatian. Beberapa komentator sepak bola tanah air punya ekspresinya masing-masing untuk mendeskripsikan pemain menendang bola. Valentino Simanjuntak terkenal lewat istilah "jebreeet", Hadi Gunawan mempopulerkan istilah "ahay", dan Rendra Soedjono menggunakan istilah "jeger".

Dalam skripsinya, Radek Humpolik dari Masaryk University Faculty of Arts, Republik Ceko, mengungkap teknik-teknik komentator sepak bola liga Inggris. Tanggung jawab komentator, ujarnya, adalah mewartakan informasi sekaligus hiburan. Dalam konteks ini, kiasan menjadi teknik yang nyaris alamiah bagi komentator sepak bola. 

Khusus Valentino, mungkin dia yang paling ekstrem sekaligus rajin menciptakan kiasan. Banyak istilah unik nan “nyeleneh” hasil kreasinya yang sukses menghebohkan publik penikmat sepak bola. Misalnya, istilah "gerakan 378" diucapkan Valentino guna menggambarkan seorang pemain yang giringan bolanya menipu bek lawan. Angka 378 merujuk ke pasal 378 KUHP tentang kasus penipuan.

Sementara itu, Valentino mengucapkan "umpan sedekah" untuk menggambarkan pemain yang mendapatkan bola hasil blunder bek lawan. Sang pemain maksudnya mendapatkan bola secara cuma-cuma dari bek lawan tak ayalnya sedekah.
 

Mencerminkan Audiens

Mengkritik kinerja komentator siaran pertandingan sendiri bukanlah kebiasaan suporter sepak bola Indonesia. Kalaupun ada, aksi kritik tidaklah sebesar Gerakan Mute Massal. Dalam sejarahnya, suporter lebih sering menyoroti kiprah klub idola, kebijakan PSSI, atau prestasi Timnas Indonesia.

Artinya, Gerakan Mute Massal melambangkan perubahan budaya kritik penggemar sepak bola Indonesia. Hal ini dapat dimaklumi. Sejak pandemi Covid-19, kehidupan sepak bola Indonesia mendadak redup. Kompetisi profesional Liga 1 dan Liga 2 yang biasa jadi sumber keseruan mendadak dihentikan.

Begitu ajang Piala Menpora 2021 dilangsungkan, para penggemar untuk pertama kalinya bisa menikmati kembali atmosfer sepak bola Indonesia. Tapi, perhelatan kompetisi hanya bisa disaksikan lewat layar kaca lantaran protokol kesehatan. Alhasil, ekspektasi publik atas kualitas siaran pertandingan Piala Menpora 2021 jadi begitu tinggi hingga muncullah Gerakan Mute Massal.

Valentino Simanjuntak sendiri yang disudutkan Gerakan Mute Massal bukanlah pemula di ranah siaran pertandingan sepak bola nasional. Valentino telah memulai karier sejak 2006 dan mempopulerkan jargon ikoniknya, "jebret", sedari 2013. Baru pada tugasnya membawakan laga Piala Menpora 2021, cara Valentino mengomentari jalannya pertandingan dihujani kritik.

Para penggemar tampak menginginkan gaya komentator sepak bola Indonesia tidak terlalu heboh, banyak menghadirkan informasi bermanfaat seperti siaran pertandingan sepak bola Eropa. Wajar, Eropa merupakan kiblat sepak bola dunia. Terlebih, antara jeda waktu diberhentikannya Liga 1 dan bergulirnya Piala Menpora 2021, penggemar sepak bola Indonesia hanya bisa menikmati siaran-siaran pertandingan dari tim-tim Benua Biru, paling favorit di antaranya adalah Liga Inggris dan Liga Champions.

Komentator-komentator siaran pertandingan sepak bola Liga Inggris jarang memperlihatkan pembawaan sangat heboh. Mendeskripsikan proses terjadinya gol, komentator sepak bola Liga Inggris cukup berkomentar sederhana, "...and goal, assist from Bruno Fernandes to Marcus Rashford.” Mereka juga dominan menyampaikan informasi-informasi teknis (statistik klub atau pemain, rekor-rekor yang tercipta, dsb.) yang mengedukasi penontonnya.

Namun, pada dasarnya gaya komentator pertandingan olahraga berpulang pada kondisi audiens di negaranya. Komentator sepak bola Inggris bisa menampilkan celotehan santai nan mengedukasi karena iklim sepak bola di Inggris mendukung dan audiens benar-benar menyimak. Contoh lain, di Selandia Baru, komentar olahraga cenderung serius dan sarat analisis apa yang harus dilakukan tim untuk memenangkan pertandingan. Di Prancis, komentar olahraga mementingkan kiasan yang memikat. Gaya-gaya ini terstandarisasi di masing-masing negara karena audiens meresponsnya.

Valentino Simanjuntak sendiri mengakui bahwa aspek informasi mutlak pentingnya dalam komentar dan ia sudah menyampaikannya. “Saya punya catatan yang sudah tebal banget,” akunya. “Saya keluarin semua, tapi enggak ada yang diomongin orang. Akhirnya, saya beralih ke statistik, contekan saya dari Lapangbola.com dan Statoskop. Saya keluarin data-data dari mereka, bukan cuma ball possession tapi juga conversion rate, successful area, sampai berapa kali foul, tackle, enggak ada yang membicarakan itu bahwa ‘Valent sudah mengedukasi ya’, enggak ada." 

Namun, mengapa yang menjadi wajah utama komentar sepak bola Indonesia adalah gaya bahasa yang hiperbolis? Bisa jadi, lantaran itulah yang benar-benar disimak penonton alih-alih informasi mendidik.

Bila ini benar, maka mungkin harus diakui makna sepak bola bagi Indonesia masih sekadar sarana hiburan. Terlepas ramainya Gerakan Mute Massal, momen ini jangan-jangan cuma letupan acak dalam dunia sepak bola Indonesia, kecuali penonton bisa membuktikan komentar yang bernas punya penyimak telaten di Tanah Air.