Membicarakan milenial sekarang-sekarang ini serupa membicarakan sepak bola ketika Piala Dunia atau budaya Korea saat Parasite menyabet Oscar. Ia berdengung di mana-mana. Semua berlomba-lomba riding the wave menjadi pengguna kata ini. Dan kalau KBBI punya Word of the Year, kata milenial pasti pernah masuk dalam beberapa tahun belakangan. 

Namun, kata milenial tak lepas dari masalah. Ketika kata ini dipakai, generasi yang dirujuk diperlakukan sebagai semacam objek eksotik nan baru. Dalam salah satu gaya dominan penggunaan kata milenial, kelompok milenial diposisikan sebagai objek. Milenial digurui dan dianggap tak tahu apa-apa atas situasi hidupnya. Generasi ini dipandang kurang ini lah, kurang itu lah, tanpa dianalisis mengapa “karakter-karakter bermasalah” tersebut muncul pada mulanya. 

Maraknya milenial yang belum mempunyai rumah ialah fakta. Namun, apa yang disoroti di antara berbagai faktor yang mempersulit generasi ini memiliki rumah? Ya, betul: boros. Di sisi lain, milenial banyak yang tak memiliki asuransi dan rentan. Lagi-lagi, yang diangkat adalah milenial males ribet memilih asuransi. Lantas, tak komplet kalau belum menyinggung milenial dianggap mementingkan gaya hidup ketimbang berinvestasi. Intinya, milenial dinilai generasi yang rabun jauh dan belum punya kematangan untuk mengelola keuangan

Lain wejangan dari penasihat finansial, lain pula wejangan dari politisi. Para politisi menganggap generasi milenial tidak melek Pancasila, sehingga perlu ada strategi khusus untuk menanamkannya. Milenial dinilai tidak paham sejarah bangsa sehingga terancam oleh upaya-upaya pengaburan sejarah. Tak lupa, partisipasi politik milenial digurui karena masih rendah, yang anehnya ini disampaikan ketika baru saja generasi milenial melampiaskan kemarahannya terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah baik dalam bentuk gelombang demonstrasi atau protes sekaligus kritik lewat media sosial.

Pola dominan lain penggunaan kata milenial adalah yang mengamanatkan tanggung jawab dan harapan untuk diemban oleh generasi ini. Tentu saja, ia tak kalah bermasalahnya ketimbang pola sebelumnya. Milenial dan Gen Z diposisikan sebagai garda terdepan ekonomi dan industri 4.0 sehingga diharapkan “bukan hanya menjadi agen perubahan, tetapi juga mampu menciptakan perubahan itu sendiri.” Tak hanya industri 4.0 kekinian saja, masa depan agroindustri dan pertanian dikatakan juga ada di pundak para milenial dengan pernyataan bombastis seperti akan dicetak sepuluh ribu “petani milenial”.

Lantas, ada lagi pernyataan bahwa milenial diharapkan oleh Menparekraf untuk mendukung konsep pariwisata berkelanjutan dan, yang paling absurd, mempertahankan posisi Indonesia sebagai raja sawit dunia serta kritis terhadap kampanye hitam tentang perkebunan sawit. Terlepas dari amanat-amanat ekonomi yang janggal itu, intinya jelas: milenial diharapkan jadi game changer, khususnya bagi perekonomian Indonesia. 

Milenial dibebani tanggung jawab kolosal serta diharapkan kreatif, adaptif, kolaboratif, dan memiliki ajektif-ajektif positif lainnya. Saking banyaknya harapan itu, sulit untuk menganggap serius imajinasi tentang milenial yang muncul dari pernyataan semacam. 

 

Monolog Dunia Bisnis dan Politik

Segala hiruk-pikuk terkait istilah milenial ini mengingatkan saya dengan kutipan Foucault tentang psikiatri. Kata Foucault (1973:x-xii), “bahasa psikiatri adalah monolog akal sehat tentang kegilaan”. Mengapa monolog? Pasalnya, praktik psikiatri yang diteliti Foucault tidak membiarkan subjeknya berbicara. Sementara itu, bahasa mengenai milenial adalah monolog isi pikiran dunia bisnis dan politik praktis tentang suatu generasi yang asing bagi kita semua terlebih, ironisnya, bagi para penuturnya yang vokal.

Penggunaan milenial sebagai penanda generasi (generational marker) oleh penuturnya yang rata-rata merupakan penjaja dagangan atau politisi dan pejabat sangatlah searah. Dalam sirkulasi istilah ini, tidak terjadi dialog. Hanya ada narator yang serba tahu dan subjek bisu yang dibicarakan. Walhasil, pertama, milenial tak lebih dari komoditas politik—calon pemilih atau pemanis pidato pejabat. Ia didorong untuk berpartisipasi hanya kala pemilu datang, digaet dengan gimmick-gimmick garing, atau dicetuskan agar pidato terkesan visioner.

Di sisi lain, bentuk partisipasi politik yang murni datang dari generasi ini justru dilucuti. Bukankah gelombang demo dan kritik-kritik viral terhadap situasi politik merupakan bentuk partisipasi politik? Artikulasi-artikulasi ini, kita tahu, malah dihadapkan dengan kekerasan fisik, teror, dan intimidasi.

Pun, dari sisi bisnis, apalah generasi milenial kalau bukan potensi pasar atau calon pembeli belaka? Kritik pada milenial karena belum punya ini dan itu adalah cuap-cuap ala pedagang minyak ular, “kelompok dengan populasi terbesar ini belum cukup mengonsumsi produk-produk komoditi maupun finansial kami”. Kalau memang banyak yang peduli terhadap kerentanan finansial milenial, mengapa bukan Omnibus Law Cipta Kerja yang bakal menyabotase jaminan-jaminan kesejahteraanlah yang justru sedari awal menjadi sasaran wejangan? Mengapa perusahaan-perusahaan masih menyudutkan pekerjanya yang menuntut perbaikan nasib?

Praktik penggunaan generational marker searah seperti inilah yang menjadikan istilah milenial problematis. Pemosisian milenial sebagai objek menghasilkan gambaran yang parsial. Sisi gelap kehidupan milenial khususnya sangat jarang terangkat ke permukaan, alhasil ia absen dari diskusi dan pemahaman publik tentang generasi yang sedang dibicarakan. Pihak-pihak yang vokal dan mendominasi narasi cuma “mengatasnamakan” saja alih-alih menyuarakan. Praktik objektivasi seperti ini apalagi kalau bukan sebentuk pergunjingan, seakan ada group chat khusus di mana milenial diperbincangkan tanpa mengajaknya bergabung dan diberikan giliran untuk bicara.   

Lantas mungkin, langkah yang kini diperlukan adalah merebut panggung dan mengubah narasi milenial agar lebih objektif, dalam arti lebih padan dengan keseharian hidup milenial kebanyakan. Kata “kebanyakan” di sini perlu mendapat penekanan karena kita pun tahu milenial sering direpresentasikan dengan segelintir anak konglomerat di Jabodetabek.

Penanda generasi adalah hal yang selalu menjadi lahan kontestasi. Dan milenial adalah penanda yang direnggut dari generasi yang ditandai itu sendiri.

 

Michel Foucault. 1973. Madness and Civilization. New York: Vintage Books.