PT Vale, sebuah perusahaan tambang nikel di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, menggelar kompetisi karya jurnalistik dan fotografi. Rentang penerimaan karya adalah antara 15 Agustus 2021 hingga 31 Januari 2022. Temanya adalah “Pertambangan Berkelanjutan”. 

Informasi itu kemudian bergulir di grup wartawan dan linimasa media sosial. Banyak wartawan yang tertarik mengikuti kompetisi itu, baik untuk menguji kemampuan reportase atau sekedar berburu hadiah yang ditawarkan. Tapi secara umum, di dunia wartawan, lomba seperti itu isinya adalah sanjungan. Tulisan yang dihasilkan adalah tulisan gula-gula. 

Sebenarnya praktik puja-puji dalam lomba yang digelar sebuah perusahaan ataupun lembaga telah lama berlangsung. Bahkan di lingkungan pewarta foto, beberapa hasil bidikan yang menjadi pemenang dalam sebuah kontes jurnalistik dilakukan dengan mengarahkan objek untuk berpose atau melakukan kegiatan sesuai tema penginisiasi kompetisi. 

Pemenang kompetisi diumumkan pada 22 Maret 2022 di Makassar. Ketika nama pemenang telah disebarluaskan, beberapa wartawan yang berkumpul di warung kopi tak membicarakannya. Kemenangan seperti itu rasanya sudah menjadi hal yang sangat biasa dan dapat diprediksi. Tak ada prestise dalam kejuaraan itu. Bahkan seorang wartawan mengatakan, jika jumlah peserta yang mengirimkan karya dalam lomba “gula-gula” macam itu pun sudah ketahuan.    

Dan jika mencermati pemenang tulisan dalam kompetisi Vale, naskah-naskah itu hanya memaparkan upaya perusahaan mewujudkan net zero emissions tahun 2050. Pun, ditambahkan pesan jika perusahaan tak hanya mencari keuntungan finansial dalam membangun bisnis, melainkan investasi berkelanjutan pada lingkungan perusahaan dan masyarakat. 

Pernyataan itu hampir seragam pada setiap naskah pemenang. Baca saja tulisan pemenang pertama kategori media nasional yang judulnya Vale Indonesia (INCO) Rela Gerus Keuntungan untuk Terapkan Energi Terbarukan. Atau tulisan pemenang pertama kategori media regional, Ada Kesejahteraan di Balik Industri dan Lingkungan yang Akur. Dan tulisan pertama kategori media lokal Luwu Timur, Merawat Keberlanjutan Energi Bersih PT Vale

Jika mencermati naskah-naskah tersebut, data yang ditampilkan semua bersumber dari suara perusahaan. Tak ada upaya untuk melakukan verifikasi di lapangan. Pendek kata, laporan-laporan itu hanya memainkan narasi tunggal perusahaan. 

Jika demikian apakah cukup mengandalkan satu sumber yang menjadi objek tulisan untuk disebut karya jurnalistik? Kita tak akan menemukan satu pun dari sembilan elemen jurnalisme yang dikemukakan Bill Kovach dan Tom Rossientiel. Baik bagaimana wartawan mencari kebenaran lapangan berlandaskan fakta, atau bagaimana verifikasinya, atau pertanyaan selanjutnya, pada siapa wartawan bekerja. “Mau dapat apa dengan lomba seperti itu. Hanya mencari uangnya saja. Prinsipnya adalah menyanjung. Itu saja,” kata salah seorang wartawan di Makassar. 

Saya kemudian mengirimkan pertanyaan pada beberapa pemenang kompetisi dan meminta pendapatnya setelah menjadi juara. Saya juga meminta konfirmasi pada pejabat di PT Vale (pada 24 Maret 2022) mengenai standar mereka memilih karya pemenang dan kriterianya. Namun, tak ada seorang pun yang memberikan balasan hingga jelang sepekan pertanyaan itu terkirim. 

“Ah lumayan lah, Vale sudah membagikan uang ke teman-teman wartawan,” kata salah seorang wartawan di Makassar yang tak ikut kompetisi itu. 

Selain kompetisi yang diklaim Vale sebagai karya jurnalistik, perusahaan juga memberikan penghargaan pada tiga media dengan kategori Media Ramah Pemberitaan Tambang. Juara pertama Batara Pos, juara kedua Kontan, dan juara ketiga Sindonews Makassar. Lagi-lagi kategori ini juga tak jelas, bagaimana memilih media ramah tambang dalam publikasinya—mana yang dianggap pro praktik pertambangan dan yang tidak. 

Sekali lagi, pertanyaan ini juga tak dibalas oleh manajemen PT Vale. 

Sementara itu, juri kompetisi untuk kategori naskah adalah Yura Syahrul (Pemimpin Redaksi Katadata.id) dan Arifin Asydhad (Ketua Forum Pemred dan Pemimpin Redaksi Kumparan.com). Juri untuk kategori foto adalah Arbain Rambey. 

 

Suara Wartawan atau Suara Humas? 

Saya akhirnya mencari beberapa pengumuman lomba jurnalistik yang diadakan beragam perusahaan. Saya membaca karya pemenang dan mendapati naskah-naskah dengan “bolong” besar. Tak ada suara warga yang menjadi sasaran bisnis perusahaan dan praktik perusahaan seolah begitu bersih dan sangat baik.     

Dan untuk lomba PT Vale, tak satu pun dari tujuh belas naskah pemenang yang memberi ruang bagi suara warga di sekitar wilayah pertambangan. Peristiwa ataupun dominasi  wacana dikuasai oleh suara perusahaan yang mengklaim keberhasilan. 

Persoalannya, menelan mentah laporan rilis atau jumpa pers sepatutnya dihindari wartawan, sebab penyelenggara tentu saja sudah menargetkan arah berita. Skeptisisme inilah yang seharusnya terus menjadi nyala api dalam melakukan reportase. 

Jumpa pers tak hanya banyak dilakukan perusahaan dalam menghadapi pemberitaan. Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat juga kerap melakukannya. Seorang pekerja di LSM bahkan dengan enteng menyatakan, untuk meningkatkan nilai pemberitaan dan pengenalan isu yang sedang mereka kerjakan, mereka dapat mengadakan jumpa pers lalu mengundang wartawan. Biasanya hal ini dilakukan di warung kopi dan cukup menanggung konsumsi. 

Hal lain yang lumrah dilakukan adalah membuat lomba penulisan mengenai program lembaga yang sedang atau telah dijalankan. “Daripada mengontrak penulis dan fotografer untuk menuliskan program, yang  membutuhkan biaya besar, lebih baik buat lomba yang pengeluarannya lebih sedikit. Dan laporan yang didapatkan sudah jadi,” kata seorang pekerja LSM. 

Tak hanya itu, kebiasaan wartawan mengutip sumber pejabat atau si pembuat program sebagai sebuah kebenaran menjadi tak terhindarkan. Masyarakat dan warga yang menjadi sasaran kegiatan, atau pada kasus Vale, penduduk yang hidup dalam lingkar tambang, tak mendapatkan ruang, baik mereka yang merasakan dampak positif atau negatif. 

Maka tak heran, Sindo Makassar mengutip Bayu Aji sebagai Senior Manager Communication PT Vale, yang mengungkapkan rasa bahagia atas partisipasi jurnalis dalam kompetisi itu. “Karena dukungan media dalam mendorong program PT Vale sangat berpengaruh. Termasuk mempublikasikan sejumlah kegiatannya.” 

Vale hanya satu contoh yang membuat lomba dengan rutin. Lembaga negara seperti BPJS Kesehatan juga melakukannya. Tahun 2021, perusahaan Gojek bahkan menggandeng Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) menggelar lomba karya jurnalistik dengan tema “Kreasi Pewarta Anak Bangsa”. Syaratnya, tulisan memberikan tagar #BangkitBersama. Kategori pemenangnya terbagi dari wilayah Sumatera, Jawa, hingga Indonesia Timur.

Strategi pemasaran dan pengenalan produk serta layanan perusahaan dengan menggelar ajang kompetisi jurnalistik memang jamak dilakukan. Syaratnya, lomba menekankan program dan nama perusahaan dituliskan dalam naskah. Bagi tim komunikasi dan pemasaran perusahaan, kompetisi memberi mereka peluang besar untuk mendapatkan layanan iklan gratis di banyak media. Dibandingkan harus merogoh kocek iklan media yang mahal, hal ini lebih menguntungkan.

Iming-iming hadiah lomba yang besar adalah magnet utama beberapa wartawan untuk berburu ajang kompetisi. Bahkan, mencermati beberapa lomba jurnalistik yang diadakan perusahaan, pemenangnya hanya akan berkisar pada nama wartawan yang itu-itu saja. 

“Saya biasa diajak humas perusahaan kalau mereka buat lomba. Tapi saya malas ikut, jadi kalau ada teman yang ikut, itu biasanya menang,” kata salah seorang wartawan di Makassar. “Saya sebenarnya sudah muak dengan praktik ini. Tapi melayangkan protes ke teman-teman bisa berakibat buruk dan bermusuhan. Jadi bukan rahasia, ada kelompok wartawan dengan  gelar macan lomba. Kerjanya memang ikut lomba, apa pun itu.”

Kompetisi berkedok iklan semacam ini akhirnya menjadikan praktik jurnalisme secara umum menjadi buruk. Tak ada garis api yang tegas antara muatan iklan dan redaksional.