Televisi 27 inci itu sudah rombeng. Suaranya masih nyaring, tapi sebagian gambarnya sudah tak terlihat. Adegan berita, sinetron, atau iklan yang ditayangkan tak terlihat jelas. Acap kali, saya mendapati tokoh sinetron berkejar-kejaran atau saling menyayangi dengan kepala terpotong.

Namun, televisi itu tetap dinyalakan. Kapan pun listrik menyala di Kampung Parigi, Seram Utara—biasanya dari maghrib hingga pagi hari—ia akan dibiarkan menayangkan apa yang tersiar di stasiun televisi nasional. Mungkin itu sebabnya layarnya seperti pernah terbakar.

Sejak pertama kali datang ke Parigi pada 2015, televisi keluarga angkat saya masih televisi yang sama. Gambarnya masih jernih. Kami sempat menonton bersama Jodha Akbar dan Ashoka yang sangat populer kala itu. Petir dan berbagai efek dramatis Bollywood yang lebay masih tampak begitu kentara.

“Televisi ini su [sudah] beli dari Onong masih kecil,” kata mama angkat saya.

Onong, adik angkat saya, kini sudah SMA. Televisi ini artinya berusia lima belas tahun. Nyaris semua televisi di Parigi dibeli dari Ambon, yang berarti orang-orang harus melewati perjalanan dua hari antarpulau untuk mendapatkannya. Antena biasa pun tak cukup untuk menerima sinyal dari kota. Masing-masing rumah memasang parabola, besarnya tak jarang seperti piringan terbang.

Tetap saja, televisi adalah barang penting. Warga kampung dapat merelakan banyak hal untuk memiliki televisi. Televisi lumrah ditaruh di ruang keluarga, tempat di mana orang-orang paling banyak berkumpul dan waktu bersama paling banyak dihabiskan.

Di ruang keluarga, televisi membantu kerabat, kenalan, dan sahabat berhubungan. Suaranya mengikis keheningan kikuk dan mencekam. Ia menjadi bebunyian yang mengiringi atau membantu orang-orang memulai percakapan, bahkan ketika televisi menayangkan tokoh-tokoh memekik histeris dan adu jotos.

Ketika ada tayangan menarik, tayangan itu tak pernah ditonton sendiri. Menonton selalu adalah menonton dan mengobrol. Tontonan akan selalu diperbincangkan bersama yang lain. Suatu waktu, sebuah acara menayangkan kehidupan yang mengibakan. Tempatnya, tentu saja, di Jakarta.

“Orang miskin hidup di kota besar ini susah,” mama angkat saya berujar. “Kalau katong [kita] yang hidup di sini meski seng [tak] ada uang, masih bisa makan.”

“Kalau pemerintah mau kasih bantu, kasih bantu orang miskin di kota,” orang lain menyahut.

  

Televisi dan Keterikatan Sosial

Siapakah penonton televisi? Bagaimana televisi dinikmati? Jawaban atas dua pertanyaan ini seringkali mendasari bagaimana tayangan televisi diproduksi, dan juga dikritisi.

Penonton televisi acap dibayangkan sebagai individu-individu, yang ketika menonton televisi, menelan mentah-mentah konten yang dijejalkan kepada mereka. Itulah, toh, pada dasarnya asumsi di balik hujatan kita pada acara televisi. Televisi dianggap mencangkokkan kegembiraan dungu dan menghipnotis konsumen yang pasif agar tak bisa melepaskan diri darinya. Televisi juga, dalam kritik klasik Robert Putnam, dianggap mengisolasi penonton dari komunitasnya.

Namun, asumsi ini perlu diperdebatkan. Pandangan yang berjangkar dari penelitian etnografi justru melihat bahwa audiens menikmati televisi bukan sebagai individu melainkan selalu sebagai bagian dari kelompok sosial. 

Berdasarkan observasi langsung terhadap lebih dari 200 rumah tangga yang dikumpulkan sepanjang tiga tahun oleh Universitas Wisconsin dan Universitas California, James Lull (1972) menunjukkan televisi digunakan dari untuk menemani agar suasana tidak sepi, merekatkan keluarga yang sibuk dan jarang bertemu, hingga memberikan contoh kepada anggota keluarga. Sama halnya seperti yang saya lihat di Seram, televisi secara aktif dimanfaatkan warga kampung untuk kepentingan sosial sehari-hari. 

Kritik atas asumsi generik keterisolasian penonton televisi terangkum dalam kata-kata Raymond Williams kala ia mengkaji iklan di tahun 1960-an:

[w]atak utama masyarakat kita adalah koeksistensi sukarela antara teknologi paling anyar dengan pola hubungan sosial yang teramat lawas.

Televisi tidak menggusur hubungan-hubungan sosial melainkan teranyam dengan teratur ke atasnya. Dalam keterikatan sosial dengan komunitas lokalnya, cara individu mengkonsumsi tontonan tak sama dengan yang dibayangkan para produsennya.

Saya sempat bertanya kepada Umayang, seorang teman di Parigi, program televisi apa yang disukainya. Saya menanyakannya tepat sehabis kami memperbaiki televisinya. Televisinya sempat tak bisa menyala, membuatnya jengkel sejak pagi karena ia sedang seharian di rumah. Beberapa hari sebelumnya, ia tak henti memancing. Hasil tangkapannya cuma seadanya, ongkos bahan bakarnya tak terbayar, tubuhnya terasa babak belur. 

“Se [kamu] suka film apa?” tanya saya ke Umayang setelah televisi menyala.

“Kurang tahu,” ia membalas sambil meringis.

Saya sering menonton televisi dengan Umayang. Dari Naruto hingga Jejak Petualang, kami pernah nobar berbagai tayangan. Memang, ia tak menonton semata karena menyukai acaranya. Ia akan mengganti-ganti saluran hingga menemukan tayangan yang menggaet perhatian dan padan ditonton bersama.

Umayang suatu waktu berhenti mengganti-ganti tayangan televisi ketika mendengar nama Indra Kenz disebut. Ia sudah tahu soal Indra Kenz lantaran sering diberitakan, tapi belum memahami detail skandalnya. “Ini orang tipu-tipu bisa sampai miliaran. Kok bisa?” ia bertanya kepada saya. Umayang tahu saya berasal dari kota dan lebih memiliki akses pengetahuan terhadap topik-topik semacam ini. Pertanyaannya memantik obrolan yang menarik di antara kami.

Beberapa saat kemudian, program berita menayangkan ibu-ibu mengantre minyak goreng.

“Di Jawa benar seperti inikah, Mas?” tanya Umayang.

Gaya menonton yang tak khusyuk seperti ini membuat saya paham mengapa tayangan-tayangan heboh dan bombastis jadi gacoan stasiun televisi. Tayangan-tayangan ini kita anggap dangkal, tapi mereka cepat dan manjur dalam merampas perhatian penonton yang tak khusyuk.

Tayangan-tayangan seperti sepuluh hal paling fenomenal atau, yang lebih anyar, kumpulan video pendek viral sangat populer di Parigi. Saya singgah ke rumah Iral, teman lain di Parigi, ketika ia membenahi alat pancing bersama saudara dan temannya. Yang tersetel di televisinya: program potongan-potongan video TikTok viral. 

Iral tak bisa mengalokasikan perhatiannya semata ke layar televisi karena pekerjaannya. Namun, video pendek seperti siswi SMU terekam ngebut dengan motor dan nyungsep ke semak-semak disertai komentar pembawa acara yang nyeleneh tetap menghiburnya.

“Taat lalu lintas ya, gaes. Jangan seperti siswi ini. Sudah tidak pakai helm, ngebut. Akhirnya, kena batunya deh,” ujar sang pembawa acara.

Adegan tersebut langsung diikuti tawa ringan orang-orang di ruangan keluarga Iral.

Sinetron kita sarat dengan ekspresi vulgar—tokoh-tokoh saling membenci satu sama lain hingga ke ubun-ubun, protagonis berdoa seraya sesenggukan dan berlinang air mata, memohon agar penyiksaannya oleh sang antagonis segera berakhir. Buat kita, ekspresi-ekspresi ini boleh jadi menyebalkan. Buat para penonton yang tak khusyuk, hal tersebut memungkinkan mereka mengetahui semesta film tanpa harus berlama-lama menontonnya.

Jodha Akbar yang sempat digandrungi di Parigi itu bisa menghabiskan satu menit sendiri ketika para tokoh saling menatap dramatis, diiringi musik mencekam. Dulu, ketika adegan semacam bergulir, saya merasa geli dan janggal. Namun, orang-orang di sekeliling saya biasanya tergaet olehnya, tak jarang menyimaknya sambil seru mengomentari perkembangan narasi film tersebut.

Gambar 1. Suasana menonton televisi di Parigi (Sumber: dokumentasi pribadi penulis).

 

Terhubung dengan “Dunia”

Di Parigi, penonton televisi adalah mereka yang berusaha terhubung dengan masyarakat yang lebih luas. Seram Utara jauh dari jangkauan koran, majalah, maupun terbitan cetak lainnya. Cara untuk mengetahui apa yang terjadi di luar sana adalah lewat televisi, selain melalui kabar burung atau, belakangan, media sosial.

Bapak angkat saya getol menyetel berita. Setiap kami selesai makan, ia akan berujar, “setel berita dulu,” seraya minta diseduhkan kopi oleh orang rumah. Kami sempat mendapati berita demonstrasi mahasiswa dan mama angkat saya langsung menyindir, saya mungkin ikut unjuk rasa kalau tidak sedang di Seram.

Memang, sewaktu-waktu televisi menayangkan kekisruhan di Jakarta, mama angkat saya akan menelpon dan menanyakan apakah situasi saya baik-baik saja. Ketika televisi ramai memberitakan demonstrasi terhadap RUU bermasalah, saya bilang bahwa saya ikut serta di dalamnya tapi kondisi saya baik-baik saja.

Orang-orang yang getol menonton berita dapat dengan fasih menceritakan kepada saya perkembangan dunia, dari wacana 3 periode hingga perang Rusia-Ukraina. Tak jarang, wawasan mereka lebih luas dari saya. “Dalam konferensi G20 ini, posisi Indonesia terjepit,” ujar mantan kepala dusun kepada saya. “Kita perlu netral. Bukan begitu kah, Pak?”

Namun, isu-isu nasional dibicarakan bukan sebagai sesuatu yang langsung terkait dengan hidup mereka, tapi lebih seperti ajang yang asyik dinikmati dan dikomentari. Debat capres 2019, sebut saja, acap dikonsumsi tak berbeda dari ajang tinju. Teman saya yang mendukung Jokowi kala itu menyeringai ketika Prabowo nampak kehilangan ketenangannya dan meminta bapak angkat saya memperhatikan gesture subtil Prabowo. Prabowo terpojok oleh serangan-serangan Jokowi, demikian ia menafsirkannya.

“Ih, Jokowi ini sadis!” ujar kawan saya itu dengan antusias.

Sebagaimana kita menonton berita internasional sebagai sesuatu yang berjarak, mereka menonton berita nasional sebagai sesuatu yang terjadi jauh dari mereka. Orang-orang Parigi belakangan mengomentari betapa peliknya keadaan mereka yang hidup di Jawa lantaran melihat tayangan ibu-ibu mengantre minyak goreng. Hal ini terlepas kehidupan di Parigi sendiri tak mudah. Meski minyak goreng jarang digunakan, para nelayan tercekik harga bahan bakar yang naik.

Perasaan berjarak ini paling gamblang bila kita menyinggung isu Covid-19. Pada pertengahan tahun lalu, Covid-19 mengoyak-ngoyak Parigi. Sebagian besar warga tertular olehnya. Tujuh dari sekitar 1.600-an warga meninggal di puncak gelombang Delta. 

Sebagian warga dusun Parigi tak mengidentifikasi penyakit ini sebagai Covid-19. Mereka merasa Covid-19 adalah sesuatu yang merebak nun jauh di Jawa dan lekat dengan gambaran-gambaran televisi: rumah sakit yang penuh dan tak sanggup menampung pasien, orang-orang yang mengantre dan memburu oksigen, serta puluhan ribu pasien yang kritis dan meninggal.

“Kalau Covid sampai masuk kemari, habis sudah,” ujar seorang warga Parigi. “Semua bisa mati. Di Seram ini [soalnya] tidak ada rumah sakit.”

Sementara itu, orang-orang Parigi menamai wabah yang menyerang mereka “penyakit mati rasa”. Hal ini karena gejala yang paling mereka ingat lantaran ketidaklazimannya adalah tak bisa mencecap dan mengendus. Warga dusun yang meninggal karena wabah ini dianggap meninggal karena penyakit bawaan dan usia tua, terlepas kematian mereka secara ganjil terjadi berturut-turut.

“Berbahayakah penyakit itu?” tanya saya ke sang warga.

“Tidak, tidak berbahaya. Semua akhirnya sembuh,” balasnya.

 

Tempat untuk Televisi

Televisi di rumah keluarga angkat saya itu sudah rombeng. Saya harus memelototinya barulah apa yang ditayangkan berangsur-angsur kasat mata.

Namun, televisi itu tetap dinyalakan. Orang-orang akan duduk di hadapannya, baik untuk menontonnya, ataupun membiarkannya nyala ketika mereka tenggelam dalam aktivitas lain. Ia adalah gerbang ke dunia luar dan perkakas untuk merekatkan kebersamaan. Ia menyambut pulang mereka yang lelah melaut dan berkebun serta mengumpulkan keluarga, kerabat dan sahabat di rumah.

Televisi ini barangkali tidak akan berumur panjang lagi. Ia akan rusak atau digantikan dengan televisi baru yang lebih canggih. Namun, kegiatan menonton televisi akan terus menjadi poros kebersamaan di Parigi. Televisi adalah artefak teknologi yang tercangkok ke dalam dan tak terpisahkan dari kehidupan sosial kampung.

Seperti yang ditegaskan oleh Silverstone dkk.,

“agar dapat berfungsi, teknologi harus menemukan tempat dalam ekonomi moral rumah tangga, persisnya dalam rutinitas keseharian.”

Tentu saja, hubungan sosial yang tercipta dari kegiatan menonton televisi tak lantas mengeliminasi semua masalah televisi, pun tak menutup kemungkinan terciptanya masalah baru. Tapi, saya kira melihat relasi antara audiens dan televisi dalam keterikatan sosial, bukan sebagai hubungan yang terisolasi, penting untuk memperluas kritik kita pada televisi.