Ada perasaan getir yang kembali menyeruak di dada ketika melihat lagi kisah Fidelis dan Dwi Pertiwi melalui dua film dokumenter yang rilis pada Maret lalu, Musa dan Atas Nama Daun. Dua dokumenter ini mengisahkan penggunaan ganja sebagai terapi yang memiliki dampak signifikan pada pengobatan penyakit syringomyelia dan cerebral palsy dalam kasus mereka. 

Musa dan Atas Nama Daun merekam lorong gelap nan berbatu yang berusaha ditembus oleh Fidelis yang mengajukan dispensasi penanaman ganja pada BNN Kabupaten Sanggau dan Dwi Pertiwi, ibu dari Musa, yang mengajukan pengujian yudisial Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika ke Mahkamah Konstitusi (MK) demi legalisasi ganja medis. Legalisasi ganja, sekalipun untuk kepentingan medis, masih belum menemui titik terang di Indonesia. Penelitian menggunakan ganja pun sangat sulit dilakukan

Sulitnya mengakses ganja untuk penelitian berakibat pada minimnya literatur ganja sebagai medis dengan konteks lokal. Pada saat bersamaan, media juga masih terus mereproduksi stigma terhadap ganja. Berita yang ditulis Kompas.com misalnya, menyebut penggunaan ganja dapat meningkatkan risiko mengidap skizofrenia. Terlepas dari perdebatan dan penelitian yang masih berlangsung antara hubungan penggunaan ganja dengan penyakit psikotik, pemberitaan tersebut tidak lantas membuat kita memahami ganja maupun skizofrenia secara utuh. Kompas.com justru berpotensi mereproduksi stigma orang dengan penyakit psikotik, seperti skizofrenia, dan melekatkannya dengan kriminalitas di media

Antagonisme media juga terasa pada legalisasi ganja medis. Hal ini tercermin pada berita-berita semacam dalih ganja sebagai obat dan alasan klasik penanaman ganja. Generalisasi ini turut memperkuat stigma orang-orang seperti Fidelis dan mengubur informasi mengenai potensi ganja untuk medis. Penggunaan diksi semacam “dalih” dan “alasan klasik” memperlihatkan bahwa redaksi sudah memiliki sikap penolakan terhadap ganja sebagai medis jauh sebelum berita ditulis. 

 

Kriminalisasi Pengguna Ganja di Media

Kriminalisasi ganja di Indonesia lebih banyak menimbulkan dampak buruk dibandingkan dampak positif. Hal ini terbukti menimbulkan masalah sosial dan ekonomi yang dihadapi negara. Misalnya, over kapasitas penjara yang 50 persennya dihuni oleh kasus narkotika. Kriminalisasi ganja juga memperlihatkan kepada kita bagaimana simbiosis mutualisme terjadi di antara polisi dan media.

Artis-artis yang tertangkap menggunakan ganja biasanya akan muncul dalam konferensi pers menggunakan baju pesakitan penjara. Mereka seolah telah melakukan kejahatan besar dan polisi secara heroik berhasil menumpas kejahatan tersebut. Jefri Nicole, Anji, Jeff Smith dan Ardhito Pramono sudah mengalaminya. Hal ini hampir tidak pernah kita lihat dalam konferensi pers kasus korupsi.

Dalam memberitakan kasus narkoba, media juga tak ubahnya sebatas corong pemerintah memerangi narkoba. Narasi yang dimunculkan dalam kasus-kasus penggerebekan atau penangkapan pengguna narkoba, misalnya, acap melepaskan fakta lain seperti bobot keterlibatan, motivasi ataupun manipulasi kekuasaan yang mungkin terjadi dalam distribusi narkoba. Media menggeneralisasi keterlibatan orang-orang tersebut sebagai komplotan sindikat pengedar narkoba. Pemberitaan semacam ini mengaburkan kompleksitas kasus narkoba yang sesungguhnya. 

Pemberitaan dengan intonasi negatif mengenai ganja seperti yang dilakukan Beritasatu.com dalam “Peredaran Ganja Harus Tetap dinyatakan Ilegal di Indonesia” juga konsisten menjadikan lembaga negara seperti BNN, anggota DPR, dan polisi sebagai narasumbernya.

Berbeda dengan Indonesia yang cenderung konsisten dalam mengkriminalisasi pengguna ganja di media dan melekatkan intonasi negatif pada pemberitaan legalisasi ganja, intonasi liputan media mengenai ganja, baik medis maupun rekreasional, justru berbeda pada tiap periode presiden di AS dan bergantung pada afiliasi media tersebut (Kim dan Kim, 2018). Hal ini berdampak tidak hanya pada agenda media, tapi juga sikap publik terhadap ganja. Di Indonesia, pasca Presiden Jokowi menyatakan perang terhadap narkoba melalui pidatonya, aksi-aksi penyitaan dan pemberantasan ganja juga semakin meningkat. Artinya, memberikan ruang pada tokoh politik dalam membicarakan ganja, baik secara positif maupun negatif, berdampak signifikan pada perlakuan dan persepsi terhadap ganja. 


Pergeseran Cara Media Membicarakan Ganja

Selain kriminalisasi, media juga membingkai ganja menggunakan kacamata moral (Hughes, Lancester, dan Spicer, 2011). Meski dampak moral dan medis ganja tak bisa dibandingkan dengan heroin, kokain, opium dan lainnya, pemberitaan normatif dan tidak berdasar seperti yang dilakukan Sindonews.com bahwa ganja dapat merusak moral bangsa juga masih terus berseliweran di media.

Namun, ada perkembangan positif yang juga patut disorot dan dapat diharapkan. Situasi sekarang, misalkan, berbeda dengan era 1930-an ketika media masih memberitakan ganja sebagai obat-obatan yang lebih berbahaya dan mematikan dibandingkan yang lain (Gasnier, 1936). Sikap publik terhadap legalisasi ganja juga terus meningkat beberapa tahun terakhir (Lynch, 2020). 

Di media Indonesia, laporan mendalam CNN Indonesia dan liputan serial “Jangan Panik Ini OrganikVoi.id menjadi pemberitaan mengenai ganja yang patut diapresiasi. Dalam tulisan “Karena Legalisasi Ganja bukanlah ‘Nyimeng’ Sembarangan”, Voi.id menulis bagaimana legalisasi ganja dengan meregulasinya adalah cara paling masuk akal untuk mengalihkan penguasaan atas ganja dari pasar gelap ke tangan negara. Selanjutnya, diperlihatkan juga apa yang bisa kita pelajari dari legalisasi ganja di negara lain.


Menjadikan Legalisasi Ganja Medis Diskursus Publik

Cara media memberitakan ganja, baik melalui intonasi ataupun pembingkaian, berpengaruh signifikan dalam membentuk diskursus publik yang berimplikasi pada legalisasi ganja sebagai kebijakan publik (Miller, 2014). Artinya, ketidaksetujuan publik pada ganja juga tak bisa dilepaskan dari paparan media yang negatif mengenai legalisasi ganja medis. 

Untuk menuju legalisasi ganja secara medis, kita perlu pemberitaan media yang membantu kita memahami kompleksitas ganja secara sosial, ekonomi, medis juga politis sebagai diskursus publik.

Pemberitaan ganja yang netral, mengangkat sisi negatif sekaligus positifnya, justru cenderung tidak berpengaruh pada kebijakan legalisasi ganja dan problematik (Lynch, 2021). Pemberitaan semacam itu rawan terjebak dalam bothsideism. Alih-alih pemberitaan dengan tema medis, pemberitaan bertema politis, seperti narasi yang terpaku pada aktor-aktor politik yang membicarakan ganja dalam konteks kebijakan, pemilu, dan lainnya, justru lebih sering digunakan di negara yang sudah melegalkan ganja medis (Lynch, 2021).

Keberadaan media sosial sebagai media baru juga potensial memobilisasi perbincangan publik mengenai legalisasi ganja medis. Perkawinan teknologi digital dengan aktivisme acap terbukti efektif dalam mendorong keterlibatan publik untuk isu-isu sipil hingga mencapai perubahan kebijakan. Aktivisme digital, misalnya, berhasil menggagalkan vaksin berbayar pada 2021 lalu dan #BlackLivesMatter dan #MeToo menjadi ruang diskusi global yang masif mengenai rasisme serta perjuangan korban pelecehan dan kekerasan seksual. Riset Remotivi juga menunjukkan bagaimana praktik bermedia sosial mendorong partisipasi anak muda dalam aksi lingkungan. Sentimen positif dan simpati publik mengenai legalisasi ganja medis juga diawali dan tumbuh di media sosial, dimulai dari respons terhadap kasus Fidelis 2017 silam. 

Namun, kita tetap perlu mendorong media konvensional karena media sosial punya watak menjadi ruang gaung. Dan selama ini, ketika media konvensional memproduksi pengetahuan terkait ganja, mereka justru kerap kali “giting”. Pemberitaan ganja yang problematik membuat publik gagal memahami ganja. Media perlu menjadi jembatan bagi publik dan pemangku kebijakan dengan memproduksi liputan yang mendorong kebijakan legalisasi ganja medis. 

Hughes, Caitlen E., Lancaster Kari dan Spicer, Bridget. 2011. How do Australian News Media Depict Illicit Drug Issues? An Analysis of Print Media Reporting across and between Illicit Drugs, 2003–2008. International Journal of Drug Policy 22(4): 285-91.

Lynch, Michael. 2020. Themes and Tones of Cannabis News Reports and Legalization Outcomes. Media, Culture and Society, 43(3): 1-12.

Miller B.L., Stogner J.M., Agnich L.E., dkk. 2014. Marketing a Panic: Media Coverage of Novel Psychoactive Drugs (NPDs) and Its Relationship with Legal Changes. American Journal of Criminal Justice, 40(3): 523–541.

Lewis, Nehama. dan Sznitman, Sharon R. 2019. Engagement with Medical Cannabis Information from Online and Mass Media Sources: Is It Related to Medical Cannabis Attitudes and Support for Legalization? International Journal of Drug Policy, 73: 219-227.