Setelah dua tahun Idul Fitri saya tidak pulang kampung, tahun ini menjadi momen melepas kerinduan bertemu keluarga besar. Namun, sebagai ibu dari anak satu tahun, ada hal-hal yang tidak saya rindukan dari kumpul keluarga. “Anak kamu kecil ya,” komentar seorang tante. “Nggak pantes jadi anak kamu, badanmu besar lho,” sambung seorang om sambil tertawa. Celetukan semacam itu biasanya saya balas dengan cengengesan. Tapi dalam hati menambah keresahan yang sudah saya rasakan. Perasaan bersalah semakin tak terhindarkan saat mendapati berat badan anak saya berada di bawah garis merah kurva pertumbuhan. 

Ironis, karena saat ini saya justru sedang meneliti kebijakan kesehatan soal stunting di Indonesia. Saya tentu tidak mau anak saya sampai mengalaminya. Terlebih menurut Kementerian Kesehatan stunting “berpotensi memperlambat perkembangan otak, dengan dampak jangka panjang berupa keterbelakangan mental, rendahnya kemampuan belajar, dan risiko serangan penyakit kronis.”

Saya rutin mengakses beberapa grup Facebook parenting, untuk mencari referensi pribadi, sekaligus sebagai bagian dari studi. Konten dari akun centang biru dokter dan momfluencer di media sosial juga selalu saya pantengi. Webinar, live IG, atau utas tentang mengatur pola makan anak jadi makanan sehari-hari. Linimasa saya penuh tips, info, dan panduan untuk menyusun menu dan membujuk anak makan. 

Mengakses berbagai konten ini membuat perasaan saya campur aduk. Saya merasa tidak sendiri ketika membaca curhatan orang tua lainnya yang punya masalah yang sama, terlebih ketika dukungan datang satu sama lain. Tapi, saya juga merasakan empati mendalam ketika para orang tua ini mendapatkan penghakiman. Saya merasakan frustasinya ketika kita hanya ingin mencari informasi, tapi justru dihakimi.

 

Narasi yang Tidak Realistis

Salah satu grup Facebook yang saya ikuti, Resep MPASI Terbaik Bunda, memiliki lebih dari 311.000 anggota. Setiap hari, ada puluhan posting dari para ibu untuk bertanya dan membagikan kiat membesarkan anak. GTM (gerakan tutup mulut) adalah salah satu topik yang paling sering dibahas. 

“Bunda aku gagal jadi seorang ibu, anakku 14bulan kena bronchitis, bb [berat badan] anakku cuman 7.1 [kilogram] sekarang makan [sedang] GTM gara2 tumgi [tumbuh gigi]. Mau jalan pula, ya Allah gimana caranya biar anak doyan makan bun. Tolong jangan pamer bb anak ya,” posting salah seorang ibu. 

Saya sangat memahami remuknya hati saat anak sakit dan tidak mencapai target tumbuh kembangnya. Di awal postingannya, si ibu menuliskan kisahnya di grup dan menceritakan bahwa banyak faktor penyebab gangguan pertumbuhan anaknya berada di luar kuasanya. Sayangnya, ketika anak tumbuh tak sesuai target, ibu sangat mudah disalahkan atau menyalahkan diri sendiri. Seolah-olah, keberhasilan anak untuk tumbuh hanya bergantung pada kemahiran ibu semata. Padahal, ayah dan anggota keluarga juga faktor krusial.

Studi tentang pengalaman transisi menjadi ibu baru di Finlandia menggambarkan bahwa ekspektasi dan bayangan ideal tentang menjadi ibu sangat dipengaruhi oleh ideologi kultural bahwa ibu adalah pengasuh utama dan satu-satunya bagi anak. Narasi ini juga dominan di media sosial. Dari mulai health influencers, momfluencers, maupun grup Facebook, mayoritas mengusung narasi tunggal bahwa ibu adalah satu-satunya aktor dalam tumbuh kembang anak. 

Lihat saja ketika ada konten tentang pengasuhan, yang diimajinasikan sebagai audiens adalah ibu, bukan ayah. Jika ada persoalan dalam tumbuh kembang anak, ibu yang paling cepat disalahkan. Salah memilih susu, salah bertanya, salah mengikuti saran dokter, salah dalam menyaring informasi, segalanya seolah salah. Tak heran, konten media sosial mudah mengasah perasaan bersalah, dan membuat ibu merasa tak cukup baik membesarkan anak. 

Beberapa studi dari Amerika, Kanada, hingga Korea mengkonfirmasi kecenderungan ini. Salah satu penjeleasan ialah karena konten media sosial seringkali berlandaskan narasi “ibu sempurna dan serba bisa” yang sebenarnya tidak realistis. Hal ini membuat ibu selain merasa lebih kompetitif, juga lebih mudah merasa rendah dan salah. Tentu bisa dipahami, mengapa di akhir post-nya, ibu yang saya kutip di atas sampai menulis “tolong jangan pamer bb anak ya.”

 

Antara Rujukan dan Penghakiman

Di hari-hari awal saya menjadi ibu, saya sering merasa kewalahan karena tidak memiliki banyak petunjuk pengasuhan anak. Internet dan media sosial terkadang menyediakan jalan cepat mengakses informasi, mengumpulkan referensi, atau memperoleh afirmasi dan validasi lewat pengalaman orang lain. Tapi, media sosial tidak selalu memberikan jawaban. Kadang-kadang malah menjerumuskan dan membingungkan.

Coba saja ketik #MPASIBBbooster di kolom search Instagram, lebih dari 100.000 unggahan tentang menu-menu akan muncul yang diklaim dapat menaikkan berat badan bayi.  Sebagian akun menyarankan penggunaan keju, susu, dan santan. Sebagian ada yang mensyaratkan bahwa santan yang digunakan harus murni, tidak boleh instan. Itu baru debat makanan. Belum soal pemberian susu formula yang tidak ada habisnya.

Ada pula banyak konten berlabel edukasi yang dibalut dengan nada menghakimi, alih-alih memahami, ketidaktahuan ibu. Contohnya, salah satu akun Instagram dengan bio sebagai Breastfeeding & infant feeding counselor suatu hari mengunggah sebuah cerita di IG story miliknya. Unggahannya mengkritik beberapa ibu yang menurutnya memberikan porsi makan yang tidak sesuai anjuran ahli.

Sumber: dokumentasi pribadi penulis.
 

Saya sepakat dengan konten berisi porsi pemberian makan anak. Tetapi yang perlu diperhatikan, di tiga unggahan awal tersebut, narasi yang digunakan untuk membuka konten ini, bagi saya, mencerabut esensi edukasi yang ingin disampaikan dan malah menghakimi, ditambah dengan meme dan tulisan yang terkesan memojokkan ibu: “terus kemudian ngeluh BBnya gak naik2.” 

Berdasarkan amatan saya, health dan mom influencers yang kerap membagikan tips dan trik pengasuhan cenderung menghakimi ketika melakukan edukasi. Mereka juga cenderung sinis terhadap kelompok ibu yang dianggap berbeda dari imej ibu yang sedang mereka bangun. Tidak terjadi interaksi dan edukasi yang kolektif sebab perbedaan pendapat seringkali dianggap tidak baik, kemunduran, dan persoalan. 

Dalam setiap tahap tumbuh kembang anak, ada saja keputusan ibu yang didebatkan dan dipertanyakan. Di grup Facebook, seorang ibu meminta anggota lainnya berbagai pengalaman tentang baby walker:

“Bun sharing dong, anak berapa bulan bisa naik baby walker? Bagi pengalamannya ya bun… Please gak usah komen baby walker gak dianjurkan lagi. Kalian gak akan tau rasanya gimana kita harus ngurus ini itu, anak rewel maunya digendong aja.”

Posting tersebut mendapat lebih dari 200 komentar, isinya pro-kontra:

“Saya punya 5 anak dan ngurus sendiri bareng suami enggak pakai ART (Asisten Rumah Tangga) dan jauh dari Ortu (orang tua) semuanya pakai baby walker dari usia 7 bulan. Sangat membantu,” tulis salah seorang ibu. 

“Baby walker gak disarankan bun, awas nanti kalau kenapa-kenapa,” balas ibu yang lain.

Grup Facebook sebenarnya tempat potensial bagi para ibu menemukan ruang berbagi, bercerita, dan bertanya perihal pola asuh dan menjadi seorang ibu. Ruang tersebut, sayangnya, seringkali jadi tempat perdebatan yang tidak terlalu aman dan tidak selalu terbuka dengan ragam pendapat.

 

Mengais Referensi dari Banjir Informasi

Saya telah menggeluti isu kesehatan ibu dan anak sejak tahun 2015 sebagai topik penelitian. Tapi, ini pengalaman pertama saya sebagai ibu. Banyak sekali hal baru yang tidak saya tahu. Sebagai seorang peneliti saya kadang merasa sulit mengambil jarak dengan subjek studi. Hal ini memberikan tekanan psikologis tersendiri. Saat harus mengobservasi konten media sosial, misalnya, saya secara aktif mengkritisi, mengevaluasi, dan terkadang menyalahkan pola pengasuhan saya sendiri. 

Di benak banyak orang, seorang perempuan yang menjadi ibu dianggap siap dan mampu secara natural mengasuh anak karena punya “insting keibuan.” Padahal, studi saintifik telah menunjukkan bahwa menjadi ibu tidak berkaitan dengan insting biologis atau berasal dari kemampuan alamiah dalam diri perempuan. Menjadi ibu adalah keterampilan yang perlu pembelajaran, latihan, dan kebiasaan. 

It takes a village to raise a child, kata pepatah. Di era media sosial saat ini, banyak orang tua mulai taking the village online,” berharap bisa menemukan ruang pembelajaran daring dalam mengasuh anak. Sayangnya, belajar via media sosial memberikan dilema bagi para ibu. Penelitian Germic, dkk 2021 menemukan bahwa para ibu yang menerima lebih banyak paparan informasi parenting di media sosial, ternyata cenderung memiliki tingkat kepercayaan lebih rendah terhadap kapasitas pengasuhan mereka sendiri. Alih-alih mencerahkan, informasi yang beredar di media sosial malah membuat ibu kewalahan dan lantas tidak percaya diri. 

Itulah mengapa, banyak para ibu di grup Facebook yang saya ikuti, selain lebih sering menghukum diri sendiri saat anak sakit atau kesulitan tumbuh, mereka juga cenderung merasa terpojok dengan unggahan media sosial ibu lain. Padahal, selain karena banjir informasi yang membuat kewalahan, banyak unggahan yang dibuat atas dasar promosi komersial.

Memutuskan unggahan mana saja yang tidak bias menjadi sulit karena elemen pemasaran tersebut. Perlu adanya literasi digital yang kuat agar para ibu dan orang tua yang mengonsumsi informasi pengasuhan di media sosial bisa menelaah dan menyeleksi mana yang perlu dijadikan rujukan. Tidak mudah, karena literasi digital, seperti halnya menjadi ibu, adalah keterampilan yang perlu dilatih. Butuh tenaga, waktu, dan sumber daya untuk melatihnya.

Jika ditanya, lalu bagaimana solusinya agar media sosial menjadi ruang yang aman untuk mencari informasi? Saya tidak tahu pasti. Saya hanya ingin kita lebih memahami dan berempati dengan cerita dan pengalaman ibu yang beragam saat kita menemuinya di linimasa.