Pada tahun 2021, Remotivi bekerja sama dengan Deduktif membuat laporan tentang runtuhnya kerajaan Jawa Pos. Laporan yang terdiri dari empat babak ini diawali dengan penelitian Remotivi tentang awal mula Jawa Pos hingga Jawa Pos masa kini, diikuti dengan wawancara mendalam terhadap tokoh-tokoh kunci Jawa Pos. Seperti apa lika-liku tumbuhnya koran dari timur Jawa ini sampai ke keretakannya di tahun 2020?

Awal dari Jawa Pos

Jawa Pos lahir dari tangan dingin pengusaha Bangka bernama The Chung Sen alias Suseno Tejo. Sebelum terjun ke bisnis media, The adalah pekerja bioskop yang bertugas mempromosikan film yang akan tayang ke koran-koran lokal. Interaksinya dengan industri koran membuatnya tertarik untuk membangun bisnis korannya sendiri. Dari sini lahirlah Chinese Daily News (Hua Chiao Hsin Wen), koran berbahasa Mandarin dengan sirkulasi di area Surabaya dan sekitarnya. Koran ini terbukti laku keras karena minimnya kompetitor dan banyaknya masyarakat Tionghoa di Jawa Timur. 

Kesuksesan koran ini menginspirasi The untuk membuat koran berbahasa Indonesia. Koran yang dinamai The Java Post terbit perdana pada 26 Juni 1949, dengan alamat kantor di Kembang Jepun 166, Surabaya. Koran ini banyak dibaca oleh masyarakat Surabaya berkat isinya yang kritis dan keras terhadap pemerintah, polisi, dan militer. Namun, kekritisannya berujung penggerebekan polisi yang memakan korban: empat jurnalis terluka dan mesin-mesin produksi koran rusak.

Walaupun didera kekerasan, The dan jajaran redaksi tidak pantang mundur. Buktinya, sembilan tahun setelah The Java Post berdiri, The melebarkan sayap dengan mengakuisisi koran berbahasa Belanda De Vrije Pers pada 19 Februari 1954. 

Namun, manisnya kesuksesan kerajaan The tak bertahan lama. De Vrije Pers harus berganti menjadi koran berbahasa Inggris bernama Indonesian Daily News karena Sukarno melarang penggunaan atribusi Belanda sejak adanya konflik Irian Barat. 

Puncaknya terjadi pasca tragedi G30S PKI: koran Chinese Daily News terpaksa berhenti terbit karena sentimen anti-komunis dan anti-Tiongkok. Sisanya hanya The Java Post, itu pun kejayaannya tidak bertahan lama. Iklan yang mereka terima dan jumlah pembaca semakin menyusut. Di tahun 1982, mereka tinggal memiliki 2.400 pelanggan setia. 

Satu-satunya cara untuk menyelamatkan koran ini adalah dengan menjualnya ke pemilik baru. Tempo dan Kompas tertarik untuk membeli bisnis The. Namun, karena Jakob Oetama, yang merupakan teman dekat The, sungkan, akhirnya Tempolah yang berakhir membeli koran ini. Nama koran diganti menjadi Jawa Pos dan Dahlan Iskan, kepala biro Tempo Surabaya, ditunjuk sebagai pimpinan baru Jawa Pos.

Dahlan merombak cara kerja Jawa Pos: ia memaksa para jurnalis untuk mengejar berita, pekerja harus standby di kantor sampai dini hari, menambah kolom-kolom baru seperti analisis, feature, dan opini yang diisi oleh dosen-dosen universitas negeri besar. Ia juga melakukan evaluasi berita-berita yang terbit kemarin bersama para jurnalis. Selain menerapkan disiplin yang keras, Dahlan juga membuat model bisnis baru: ia merekrut keluarga pegawai untuk menjadi sales koran. Ia juga merekrut anak-anak sekolah untuk menjajakan korannya setelah pulang sekolah dengan imbalan uang saku dan uang SPP. Taktik memberikan persenan juga ia lakukan ke penjual koran. 

Selain merombak sisi produksi dan bisnis, Dahlan juga melakukan inovasi-inovasi lain, seperti menggunakan laman koran berwarna dan mengadakan program “Tret tet tet ke Jakarta” yang memberangkatkan belasan ribu Bonek (fans Persebaya) untuk menonton kompetisi Perserikatan tahun 1986/1987. Keputusan Dahlan ini tergolong unik, pasalnya, koran ini dulunya terkenal bersuara sumbang ke tim sepakbola itu.

Inovasi Dahlan yang benar-benar mendongkrak kesuksesan Jawa Pos adalah liputan Nany Wijaya mengenai People’s Power Revolution di Filipina. Liputan luar negeri saat itu sangat jarang karena infrastruktur seperti laptop dan internet tergolong mahal. Maka ketika ada koran yang berhasil, masyarakat langsung gempar. Liputan Nany berhasil menaikkan oplah Jawa Pos dari 6.800 menjadi 40.000 eksemplar. 

Periode lima tahun setelahnya (1987-1992) dipenuhi dengan usaha Dahlan memperbaiki citra Jawa Pos. Ia ingin Jawa Pos dibaca oleh kalangan atas dan dikenal sebagai “koran nasional yang terbit dari Surabaya”. Untuk melakukannya, ia terus mengirimkan jurnalis-jurnalis andalannya ke luar negeri untuk meliput liga sepakbola dan kondisi perpolitikan. 

Inovasi ini mendatangkan hasil yang luar biasa. Tiras Jawa Pos berjumlah 300 ribu eksemplar per hari dengan omzet Rp38,6 miliar. Selain itu, taktik Dahlan untuk merambah daerah timur lewat pembuatan koran-koran lokal terbukti berhasil. Namun, Dahlan tak berhenti di situ. Ia memutuskan untuk membangun dua pabrik kertas, yaitu PT Adiprima Suraprinta di tahun 1994 dan PT Temprina Media Grafika di Gresik tahun 1996. Pabrik kertas ini digunakan untuk menyuplai kertas ke jaringan-jaringan koran Jawa Pos. 

Walau Jawa Pos untung besar, hanya para bos dan investor yang kecipratan manisnya. Para karyawan, bahkan karyawan awal Jawa pos hanya menerima sedikit keuntungan. Laba sisanya dialihkan Dahlan untuk mengekspansi bisnis ke berbagai daerah. “Pelitnya” Dahlan dalam urusan kesejahteraan pekerja bisa dilihat dari kebijakannya terhadap karyawan. Dahlan meminta agar hanya lulusan sarjana yang bisa masuk di koran-koran Radar di daerah, tapi dengan gaji seadanya. Baru setelah mengabdi selama 4-5 tahun mereka bisa mendapat bonus dan kenaikan gaji.

Buat Dahlan dan beberapa pejabat atas Jawa Pos, sistem ini menguntungkan karena bisa meningkatkan produktivitas dan laba dengan biaya yang sedikit. Namun, bagi Lanny Kusumawati, kepala keuangan Jawa Pos saat itu, hal ini tidak adil. Menurut liputan Pantau, mayoritas saham Jawa Pos dikuasai oleh PT Grafiti Pers (penerbit Tempo) sebanyak 40 persen, keluarga Eric Samola sebanyak 20 persen, dan pimpinan Tempo seperti Goenawan Mohamad, Harjoko Trisnadi, Lukman Setiawan, dan Fikri Jufri masing-masing sebanyak 5 persen. Dahlan bahkan tidak memegang saham sama sekali. 

Dahlan tak ambil pusing. Ia fokus mengekspansi bisnis ke media TV dan real estate lewat Graha Pena. Hal ini ia lakukan karena ia sadar bisnis media koran cetak mulai menurun. Pendirian JTV berbasis di Surabaya resmi disahkan tahun 2001, diikuti dengan kanal-kanal TV lokal lainnya di berbagai daerah yang berada di bawah bendera Jawa Pos. 

Berebut Kuasa di Jawa Pos

Keretakan mulai terlihat kala Dahlan memasukkan anaknya, Azrul Ananda, ke Jawa Pos di tahun 2000. Keputusan ini melahirkan ketegangan baru di jajaran redaksi. Pasalnya, Dahlan sendiri yang membuat aturan keluarga tidak boleh masuk ke Jawa Pos. Salah satu korban dari aturan ini adalah Husnun Djuraid, kakak Dhimam Abror. Ia terpaksa pindah dari posnya di Jawa Pos cabang Semarang supaya tidak ada konflik kepentingan.  

Tensi kantor redaksi terus meningkat kala Azrul menaiki tangga karier dengan begitu cepat. Ia menduduki posisi pimpinan redaksi lima tahun setelah masuk—sebuah posisi yang biasanya diduduki para jurnalis senior dengan pengalaman belasan-puluhan tahun. Promosi Azrul membuat redaksi was-was. Banyak jurnalis senior merasa dilangkahi, ada pula yang merasa posisinya terancam. Naiknya Azrul memang memakan korban, yaitu Dhimam Abror yang didepak karena berselisih tegang dengan Azrul, lalu Sururi Alfaruq yang dibuang dan berujung bekerja di Kompas.

Tak butuh waktu lama bagi Azrul untuk duduk di tampuk kursi direktur. Ia secara resmi menjabat sebagai Direktur Utama Grup Jawa Pos tahun 2011, menggantikan ayahnya yang saat itu lebih fokus di politik. Pengangkatannya bukan tanpa kontroversi. Banyak yang menganggap Azrul terlalu dini menjabat posisi tersebut dan tidak bisa mengikuti jejak ayahnya. Gaya kepemimpinan mereka juga begitu berbeda: Azrul lebih fokus ke pemasaran dan perluasan bisnis, tapi kurang peduli dengan kualitas konten Jawa Pos. Dahlan, meskipun jor-joran mengekspansi bisnis, tetap terlibat dalam proses produksi berita.  

Perebutan kuasa mulai terlihat di tahun 2017, tepatnya di Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) yang terjadi di akhir Juni 2017. Goenawan Mohammad (GM) menyodorkan nama anaknya, Hidayat Jati ke dalam jajaran direksi Jawa Pos. 

Usulan tersebut ditolak Tirza Samola, wakil dari keluarga Eric Samola dan Dahlan. Tirza mengusulkan agar Jati “magang dulu” di anak perusahaan Jawa Pos, seperti Azrul dulu. Namun, usulan ini malah membuat tensi rapat meninggi. Yohannes Hengky Wijaya yang mewakili Grafiti Press mengusulkan voting di antara pemegang saham.

Langkah ini membuat kubu Dahlan terpojok. Bagaimana tidak, Dahlan hanya memegang 10,20 persen dan keluarga Eric Samola 8,9 persen. Pemegang saham mayoritas adalah Grafiti Pers sebesar 49 persen, ditambah dengan kepemilikan GM sebesar 7,2 persen. Namun, voting tak pernah terjadi. Jati masuk ke jajaran direksi Jawa Pos.

Dahlan Keluar dari Jawa Pos

Empat bulan setelahnya, tepatnya pada 14 November 2017, Azrul secara mendadak mengundurkan diri dari posisi Dirut Jawa Pos. Harjoko Trisnadi menyebut Azrul mundur sebagai respons masuknya Jati ke direksi Jawa Pos. Namun, hal ini dibantah GM. Menurutnya, tidak ada pertarungan putra mahkota antara keduanya. 

Namun, karyawan Jawa Pos punya pandangan berbeda. Dhimam Abror melihat konflik antara GM dengan Dahlan sebagai perebutan kuasa penuh atas Jawa Pos. Bagaimana tidak, Jawa Pos merupakan lumbung penghasilan besar bagi para pemilik sahamnya, termasuk Dahlan dan GM. Perkiraan dividen para pemegang saham tiap tahunnya mencapai milyaran rupiah. 

Angka ini terlihat fantastis, tapi sebetulnya wajar. Jawa Pos memang media massa besar dengan anak perusahaan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Mengutip data Media and Concentration in Indonesia, Jawa Pos pada 2012 menaungi 141 media surat kabar, 12 televisi, 1 radio, 2 majalah, 11 tabloid, 1 media daring, dan masih banyak lagi. Dengan jaringan seluas ini, tentunya angka omzet Jawa Pos bisa mencapai ratusan miliar. 

Meski begitu, angka laba yang diraup Jawa Pos terus turun setiap tahunnya. Pada tahun 2013, laba Jawa Pos berada di angka Rp686,56 miliar. Pendapatan ini terus turun hingga ke angka Rp520,40 miliar di tahun 2015 dan 2016. Penurunan paling tajam terjadi di tahun 2017. Setidaknya sampai Oktober 2017, pendapatan Jawa Pos baru berkisar di angka Rp345,57 miliar dengan laba bersih diperkirakan sekitar Rp65 miliar. 

Para jajaran direksi menuduh Azrul dan Dahlan sebagai penyebab turunnya omzet. Dahlan dituduh melakukan penyelewengan dana perusahaan untuk membeli Persebaya, membangun brand Deteksi Basketball League (DBL) dan PLTU Tenggarong. Total dana perusahaan yang dikeluarkan hampir Rp1 triliun. Sementara itu, Azrul dianggap bertanggung jawab keputusan bisnisnya dianggap kurang tepat.  

Karena alasan tersebut, Dahlan didesak mundur dari kursi direksi. Namun, alasan tadi disangsikan oleh Arif Afandi, mantan Pemred Jawa Pos. Menurutnya, tak mungkin pendapatan Jawa Pos berkurang mengingat readership Jawa Pos yang masih bagus. 

Arif juga menambahkan total aset Jawa Pos mencapai Rp8,4 triliun. Aset tersebut, menurut Arif, merupakan buah kerja Dahlan.

Hal ini dibuktikan oleh data AC Nielsen yang menunjukkan readership Jawa Pos secara nasional pada rentang 2016-2018 lebih stabil dibandingkan Kompas. Pembaca koran Jawa Pos berada di kisaran 880-986 ribu. Di sisi lain, readership Kompas justru semakin menurun: pada kuartal-III 2016 mencapai 1.006.000, tapi turun ke 440 ribu pada kuartal-II 2018.  

Namun, desakan dari jajaran investor disanggah oleh GM dan Harjoko Trisnadi. Keduanya mengatakan mereka masih ingin Dahlan mengurus Jawa Pos. Lebih lanjut, Harjoko menyatakan justru Dahlanlah yang mengundurkan diri karena kesibukannya sebagai pejabat publik. GM sendiri menegaskan hubungannya dengan Dahlan sebenarnya baik-baik saja. Ia menegaskan ia yang meminta bantuan ke Presiden Joko Widodo kala Dahlan terlibat kasus dengan Jaksa Agung.

Balkanisasi Jawa Pos

Mundurnya Dahlan dari posisi direktur membuat imperium Jawa Pos runtuh pelan-pelan. Dhimam Abror menyebut isu ini sebagai “balkanisasi”, perumpamaan yang acap digunakan untuk menggambarkan perpecahan sebuah negara menjadi negara-negara baru. Ia mengibaratkan aset-aset media massa Jawa Pos di luar daerah Jawa bak rampasan perang yang saling diperebutkan.

Anak-anak perusahaan Jawa Pos yang keluar adalah JPNN.com, Sumatera Ekspres, dan harian Fajar di Makassar. Lepasnya Sumatra Ekspress dan Fajar merupakan kehilangan terbesar Jawa Pos. Pasalnya, Sumatra Ekspress membawahi dua puluh anak perusahaan yang membentang dari Sumatera Selatan sampai Bangka Belitung. 

Sekarang Sumatera Ekpsres dan seluruh jaringannya berada di bawah PT Wahana Semesta Merdeka (WSM). Begitu pula dengan Radar Lampung Group (13 media koran) dan Rakyat Bengkulu Group (14 media koran) yang dulu pernah dikelola Jawa Pos. Sementara itu, harian Fajar berubah nama menjadi Fajar Indonesia Network (FIN) dengan alamat kantor pusat di Graha Lembang 9, Jakarta Selatan.

Lepasnya dua kapal besar ini diakibatkan oleh strategi bisnis Dahlan, yaitu spasialisasi bisnis. Dahlan bekerja sama dengan media-media massa lokal yang hampir mati, lalu menyuntikkan modal ke mereka sehingga Jawa Pos menjadi salah satu pemilik. Pada umumnya, Jawa Pos memiliki separuh saham dari media lokal tersebut, bergabung dengan pemilik aslinya. Ini tak seperti Kompas dan Tribun yang kepemilikannya cenderung terpusat. 

Selain itu, Dahlan juga mengandalkan jaringan perkoncoannya. Konco alias teman-temannya inilah yang nantinya memimpin perusahaan yang baru diakuisisi: Rida K. Liamsi di Riau Pos, Zainal Muttaqin di Kaltim Post, Alwi Hamu di Fajar, dan Suparno di Sumatera Ekspres. Hal ini dilakukan untuk memudahkan penyelarasan visi.

Jaringan ini dianggap mengaburkan status kepemilikan Jawa Pos atas media-media tersebut. Contohnya, Sumatera Ekspres yang ternyata tak punya hubungan kepemilikan saham dengan Jawa Pos. Masuknya mereka ke grup Jawa Pos semata karena kedekatan Dahlan dengan Suparno dan PT WSM, pemilik saham resmi Sumatera Ekspres. 

Mantan Pemred Jawa Pos, Arif Afandi juga sependapat soal gaya bisnis Dahlan. Menurutnya, Dahlan melakukan itu karena sebetulnya tidak semua rencana pengembangan bisnis mendapat persetujuan dari pemegang saham yang berimbas pada sedikitnya sokongan modal. Padahal, visi Dahlan adalah setiap daerah punya media lokal sendiri supaya mereka punya perspektif sendiri. 

Strategi Dahlan bisa dilihat sebagai kekuatan maupun kelemahan. Kekuatan karena bisa membuat imperium Jawa Pos membentang dari timur hingga barat Indonesia. Kelemahan karena banyaknya aset daerah dengan kepemilikan pemilik daerah membuat pendataan sulit. Lebih-lebih, sekarang bisnis Jawa Pos meliputi entitas non-media seperti percetakan, pabrik kertas, penerbit buku, sampai pabrik listrik. 

Hal yang membuat Jawa Pos besar, justru juga menjadi penyebab runtuhnya. Ketika Dahlan turun dari posisi direktur, jaringan Jawa Pos satu per satu lepas. 

“Bintang-bintang [para pemilik] itu di daerah rata-rata pengikut setianya Pak Dahlan Iskan, karena merasa dibesarkan Pak Dahlan Iskan. Ketika kemudian Pak Dahlan lepas dari situ (Jawa Pos), mereka ikut mrotoli,” kata Arif.