Juli dan Agustus 2021. Di bulan-bulan itu, kampung Parigi, Seram Utara diliputi ketakutan. Warga kampung mendadak kehilangan indra penciuman dan pengecap. Mereka mencocolkan cabai ke atas lidah, mengendus durian, meneguk arak. Semua hambar. Semua tidak berbau. 

Hampir semua di Parigi yang saya tanyai mengaku sempat terserang penyakit ini. “Semua kenal [terjangkit], Mas,” ujar Iral, kawan saya. Mereka juga meriang, tak bertenaga, dan merasa setengah mati karenanya. Mereka tak bisa pergi melaut ataupun berkebun.

Warga kampung berusaha melawan wabah tak wajar ini dengan pengobatan-pengobatan tradisional. Ada juga yang memborong obat-obatan dari bidan kampung. Hampir semua warga akhirnya sembuh. Mereka rata-rata membaik setelah dua minggu, meski ada yang masih kehilangan indra penciuman dan pengecap hingga sebulan. Tujuh dari sekitar 1.600-an warga meninggal. Sebagian besar adalah orang-orang lanjut usia dan memiliki penyakit bawaan.

Yang paling menarik perhatian saya adalah nama penyakit ini. Mereka mengenalnya sebagai “penyakit mati rasa”. Dan mereka sadar, penyakit ini masif. Ia juga merebak di kampung-kampung, bahkan daerah-daerah lain. Mereka ingat bagaimana toko-toko di pusat kecamatan tutup dan tak ada yang datang ke penguburan mertua bos mereka karena semua takut tertular. Mereka menelpon kerabat di Ternate, Manado, Papua, dan mendapatkan cerita penyakit serupa tengah mengganas.

Orang-orang Parigi tidak mengenalnya sebagai Covid-19. Sebagian warga kampung merasa Covid-19 tidak pernah masuk ke Seram.

“Seng [tidak] ada Covid kah di sini?” tanya saya kepada paman angkat saya.

“Seng, seng ada Covid di sini,” jawabnya.

Covid-19, Jauh dan Tidak Ada

Warga Parigi tidak menampik keberadaan Covid-19 sebagaimana penggetol teori konspirasi. Mereka percaya bahwa penyakit tersebut ada. Namun, penyakit tersebut merebak di Jawa atau belahan lain sana.

Hal ini bisa dipahami. Sumber utama informasi terkait Covid-19 di Parigi adalah televisi dan pengumuman pemerintah pusat. Perkaranya, keduanya bukan sumber informasi tentang apa-apa yang mereka anggap relevan dengan kehidupan mereka melainkan apa yang terjadi di dunia luar. Dan ini terjadi sejak lama—bukan tak mungkin sejak awal mereka mengenal televisi.

Gambar 1. Tangkapan Parigi dari Google Earth (Sumber: Google Earth)

Ketika mereka menonton sinetron, permainan, atau berita tanah air dari televisi, yang terbayang adalah mereka tengah menyaksikan kehidupan yang jauh. Dan, memang, mereka dipaparkan dengan permukiman serta gedung-gedung padat yang tak pernah mereka jumpai seumur-umur, cara berbicara dan norma yang berbeda, kemewahan-kemewahan aneh yang tidak akan pernah ada di sekitar mereka.

Belum lagi, peristiwa-peristiwa berita yang disebut berskala nasional adalah peristiwa-peristiwa di Jawa, wabilkhusus Jakarta. Jam tayang berita habis oleh perdebatan, misal, soal kebijakan dan tindak-tanduk Gubernur DKI Jakarta yang tak berkaitan dan tak akan berdampak banyak untuk mereka.

Pada waktu siaran berita memberitakan kemelut-kemelut “nasional”, mereka acap menimpali dengan keprihatinan. Suatu hari, mama angkat saya menonton tayangan orang-orang mengantre minyak goreng hingga mengular. Respons pertamanya adalah iba. “Kasihan orang-orang di Jawa,” ujarnya.

Komentar tersebut tercetus kendati harga minyak goreng di Parigi sendiri mahal dan mereka tercekik karenanya. Ada kecenderungan di antara warga Parigi untuk menempatkan diri bukan sebagai bagian dari krisis yang disiarkan oleh televisi. Baik perang Rusia-Ukraina maupun reshuffle kabinet, keduanya adalah sesuatu yang terjadi jauh dari mereka.

Tak heran Covid-19 menjadi sesuatu yang turut jauh dan tak pernah ada di antara mereka. 

Sewaktu infeksi Covid-19 varian Omicron melonjak, beberapa orang, termasuk saya, sempat mengalami gejala-gejalanya. Tubuh kami serasa remuk sepanjang 2-3 hari. Tenggorokan kami gatal dan radang meski kami tak sampai “mati rasa”. Namun, sekali lagi, tidak ada yang mengait-ngaitkan gejala ini dengan Covid-19 terlepas televisi terus-menerus mewartakan varian Omicron sedang berjangkit luas.

“[Ini] demam goyang,” ujar adik angkat saya yang juga tertular dengan wajah tersiksa. Di Seram, “demam goyang” adalah nama untuk penyakit dengan gejala meriang yang menyebabkan seseorang “bergoyang” alias menggigil.

Sekalinya saya mendengar pembicaraan “Omicron masuk ke Seram,” obrolan pun merujuk ke satu kasus khusus. Seorang pekerja di tambak udang dekat Parigi terdeteksi Covid-19 diduga varian Omicron sepulang mendampingi bosnya dari kota besar. Ia diperiksa perusahaan karena bosnya terdeteksi terinfeksi Covid-19. 

Dan kasus infeksi varian Omicron dibayangkan itu saja. Sang pekerja dianggap tidak pernah menularkannya lebih lanjut ke siapa pun. Warga pun menerima informasi ini karena datang dari perusahaan yang keberadaannya dekat dengan mereka.

Gambar 2. Televisi, salah satu sumber informasi eksternal utama di Parigi (Sumber: dokumentasi pribadi penulis)

Gambar 3. “Diinjak”, terapi untuk meringankan gejala demam goyang (Sumber: dokumentasi pribadi penulis)

Konsekuensi Imaji Apokaliptik

Pemberitaan Covid-19 pun sebenarnya dipenuhi dengan angka-angka dan imaji-imaji apokaliptik, yang tak saya sadari masalahnya sebelum pergi ke Parigi. Saya pun di awal percaya bahwa pemberitaan Covid-19 tak seyogianya menutupi sisi mengerikan dari virus ini. Persoalannya, angka-angka dan imaji-imaji apokaliptik ternyata tak mudah dicari padanannya dalam imajinasi keseharian di konteks rural, terlebih di luar Jawa.

Konsekuensinya adalah imajinasi tentang Covid-19 yang kian terpisah dari kenyataannya.

Setiap petang belum sampai setahun silam, televisi mengumumkan angka orang yang terinfeksi dan meninggal. Hanya dalam rentang sehari, jumlah yang tertular mencapai ribuan hingga puluhan ribu, yang meninggal ratusan hingga ribuan. Angka-angka skala global yang turut ditayangkan sesekali tentu saja lebih spektakular lagi—yang terinfeksi jutaan, yang meninggal puluhan ribu.

Angka-angka ini, diiringi pemberitaan yang menyorot rumah sakit yang penuh dan orang-orang memborong tabung oksigen pada puncak gelombang Covid-19, membentuk imajinasi Covid-19 sebagai wabah yang meluluhlantakkan apa pun yang dilewatinya. Orang-orang di Parigi tak membayangkannya sebagai penyakit yang risiko kematiannya di angka satuan persen dan bahaya utamanya adalah bagi kelompok warga tertentu serta melumpuhkan fasilitas kesehatan.

Pembicaraan tentang Covid-19 acap adalah pembicaraan introspektif dengan nada bersyukur. Mereka bersyukur bahwa Covid-19 tak pernah masuk ke kampung mereka. Mereka beranggapan kalau Covid-19 sampai masuk, kampung Parigi tidak akan selamat. Perjalanan ke rumah sakit terdekat membutuhkan sekurangnya enam jam perjalanan mobil. Apa yang dapat mereka lakukan seandainya penyakit yang memorakmorandakan dunia itu masuk ke tempat mereka? 

Puluhan ribu kematian dalam sehari adalah sesuatu yang mereka bayangkan terjadi di satu tempat sekaligus. Di tempat itu, orang-orang bertumbangan dan sebagian besar tak tertolong. Dan ketika di tempat mereka sendiri tak ada pemandangan semacam itu, bahkan di puncak “penyakit mati rasa”, mereka merasa Covid-19 tak pernah singgah ke Parigi.

Ada sebagian warga Parigi yang menduga bahwa penyakit mati rasa yang menjangkiti mereka memang Covid-19. Di Seram Utara, tidak ada fasilitas kesehatan untuk memastikan diagnosis Covid-19. Namun, beberapa membandingkan gejala-gejala mereka dengan gejala-gejala yang dijabarkan di YouTube dan menemukan kecocokan yang mengherankan. “Mungkin memang Covid,” ujar seorang warga.

Tapi yang umum disampaikan selanjutnya adalah rasa syukur bahwa semua yang tertular sembuh, seakan orang-orang hendak menegaskan Parigi selamat dari keganasan Covid-19 yang mengoyak-ngoyak tempat-tempat lain di luar sana. Apa yang terjadi di Parigi berbeda dengan apa yang terjadi di tempat lain. “[Bisa jadi] karena katong [kami] berjemur terus,” demikian salah satu komentar yang mencuat.

Lantas, bagaimana dengan mereka yang meninggal?

Mereka dianggap meninggal karena penyakit lain yang sudah lama diderita, entah diabetes, darah tinggi, atau jantung. Demikian pandangan yang meluas, terlepas kematian itu terjadi secara ganjil dan beruntun. Ada ketidakpastian-ketidakpastian yang tersisa, memang, tapi warga kampung pun nampak ingin menutup hari-hari yang menghenyakkan tersebut dengan akhir yang baik.

“Orang-orang tua [itu] meninggal baik-baik.” Begitu cetus paman angkat saya.


Gambar 4. Ziarah Lebaran 2022 ke kuburan mereka yang meninggal antara Juli-Agustus 2021 (Sumber: dokumentasi pribadi penulis)

Virus Baru, Relasi Lama

Komunikasi wabah bukan hal sederhana. Pemerintah nampaknya sudah mempelajari ini dari kemarahan publik terhadap gestur pemerintah yang cenderung menyepelekan, menyederhanakan, dan menyembunyikan wabah. Namun, perkara dalam komunikasi wabah tak berhenti pada bagaimana mengkomunikasikan wabah dengan kehati-hatian sekaligus keterbukaan. 

Apa yang dapat kita pelajari dari situasi di Parigi adalah informasi soal wabah juga akan dianyam ulang via ekosistem informasi setempat yang sudah terbentuk dan mengeras. Dan dengan pengalaman puluhan tahun warga Parigi ditempatkan sebagai penonton serta orang luar terhadap siaran-siaran dari “pusat”, pandangan bahwa Covid-19 tak pernah masuk ke Parigi atau tak berhasil menghancurkan kampung menjadi masuk akal.

Dan pengalaman semacam bukan cuma milik Parigi saja. Sebelum datang ke Parigi, saya sempat berada di Ambon untuk beberapa waktu. Setiap orang yang saya temui merasa Covid-19 tak pernah ada di Ambon. Yang ada hanya sejumlah pelarangan di awal pandemi dan selepas itu kehidupan terasa kembali seperti sediakala.

“Oh, barangkali betul kata Gubernur,” ujar staf administratif sebuah badan budaya di Ambon. “Covid mati di suhu panas.”

Di lain kesempatan, saya bertemu dengan pendeta yang merupakan kawan kuliah saya. Saya menanyakan kepadanya apakah Covid-19 atau gejala-gejala serupa Covid-19 sempat merebak di antara jemaatnya. Ia menggeleng sambil tersenyum.

Dan ketika saya bertemu dengan seorang dosen dan sekadar menyinggung Moeldoko sempat mencetuskan istilah “dicovidkan”, ia merasa tercerahkan. “Nah, [orang-orang] dicovidkan! Betul itu!” ujarnya berapi-api. Istrinya sempat didiagnosis Covid-19 kala hendak melahirkan dan ia harus berurusan dengan kerepotan-kerepotan yang dianggapnya tak perlu.

Saya tak bermaksud mempromosikan teori konspirasi kepadanya. Saya malah ingin menyayangkan penggunaan istilah yang berbahaya oleh pejabat pemerintah. Namun, sang kenalan yang sedari awal merasa Covid-19 tak pernah ada di Ambon telanjur merasa pengalamannya terjelaskan dengan sangat mengena oleh istilah tersebut.

Barulah ketika saya kembali ke Ambon dari Parigi dan menanyakan kepada seorang teman apakah sempat ada “penyakit mati rasa”, ia mengonfirmasinya. Benar, “penyakit mati rasa” ada. Kawan saya yang terakhir ini awalnya juga bingung mengapa Covid-19 tidak pernah ada di Ambon. Ia bahkan sedang meneliti hoaks Covid-19 untuk mempelajari mengapa pandangan saintifik sulit diterima ketimbang kabar-kabar burung. Ia baru menyadari keberadaan Covid-19 di Ambon ketika saya mengangkat “penyakit mati rasa”.

Ambon, sama seperti Seram, sama seperti Parigi, adalah audiens pasif informasi-informasi dari pusat. Media besar dan pemerintah pusat mencekoki masyarakat Ambon cerita-cerita yang tak relevan dengan kehidupan mereka, yang ujungnya melanggengkan perasaan jauh terhadap aparatus informasi arus utama. Dan informasi yang berdampak adalah yang datang dari lingkungan mereka sendiri. Apa yang ada bukanlah Covid-19, melainkan “penyakit mati rasa”.

Dan mengingat relasi serupa media arus utama dan pemerintah pusat dengan daerah-daerah lain, saya menerka masih banyak yang serupa dalam mencerap Covid-19. Puluhan tahun informasi-informasi “nasional” kita berasal dari Jawa dan ditujukan untuk Jawa, wajar belaka bila ada keterputusan komunikasi yang tak tertolong.

Covid-19 adalah virus baru. Tapi, pemahaman kita terhadapnya mencerminkan relasi lama dan bermasalah media dan audiens kita. (Baca juga: “Menonton Bagaimana Televisi Ditonton di Seram”)