Pada Agustus 2020, personel berseragam “coklat” menyerupai polisi mendadak banyak hadir di gedung-gedung perkantoran dan tempat umum. “Aparat” berbaju coklat yang bersiaga ini ternyata bukan anggota kepolisian melainkan satpam. Peraturan Polri terbaru menentukan pakaian dinas harian dan lapangan satpam jadi berwarna coklat, menyerupai seragam polisi. Hal ini sempat menyebabkan kebingungan publik hingga akhirnya pada Februari 2022 seragam satpam disesuaikan warnanya menjadi lebih cerah, tak lagi mirip seragam polisi.

Apa gerangan alasan yang menyebabkan perubahan seragam satpam ini? Baju seragam bisa sekadar jadi alat untuk “menyeragamkan” identitas seperti pada pertandingan olah raga. Namun, seragam lembaga tertentu mencerminkan otoritas dan profesionalitas, meski individu yang memakainya belum tentu bertindak sesuai kualitas tersebut. Ketika seragam satpam mirip seragam polisi, kita jadi bertanya-tanya apakah satpam kini memiliki otoritas yang menyerupai polisi juga? 

Sering kali seragam mempengaruhi persepsi kita terhadap pemakainya. Kuasa sosial dari seragam hadir baik disadari ataupun tidak oleh yang melihatnya (Bickman, 1974). Seragam petugas yang berwenang mempengaruhi persepsi dan kepatuhan kita terhadap sosok yang memakainya (Milgram, 1963). Bias otoritas ini tak hanya terjadi dalam benak publik tapi juga pada sajian berita yang kita konsumsi sehari-hari.

Kita bisa periksa bagaimana media menampilkan seragam pada ilustrasi suatu peristiwa. Ilustrasi seragam untuk menyederhanakan realitas sekilas tampak tidak berbahaya dan mungkin informatif bagi khalayak yang mengonsumsi berita. Namun, penting untuk kita sadari bahwa di balik tindakan media mereduksi realitas ada framing yang menanamkan asumsi tidak kritis kepada penontonnya. 

Dua Ilustrasi untuk Dua Asumsi

Sebagai contoh, kita bisa cermati berita Kompas TV dari bulan Desember 2020 silam ketika terjadi bentrok antara laskar anggota FPI (Front Pembela Islam) dengan anggota kepolisian di km 50 tol Jakarta-Cikampek.

Gambar 1. Ilustrasi peristiwa bentrok di km 50 tol Jakarta-Cikampek dari Kompas TV, 7 Desember 2020 (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=Y7mfSkVsFxo&t=107s, diakses pada 7 Juni 2022)


Para polisi diilustrasikan memakai seragam lengkap hingga topi seragam mereka. Para anggota FPI digambarkan memakai kemeja atau polo shirt putih yang dimasukkan ke dalam celana panjang hitam dengan rapi. Kenyataannya jelas tidak seperti itu. Berdasarkan reka ulang di tempat kejadian perkara pada tanggal 14 Desember 2020, anggota kepolisian yang bertugas saat itu tidak memakai seragam atribut kepolisian. Begitu pula kesaksian dari Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya bahwa para polisi yang bertugas ini memang tidak berseragam.

Contoh lain juga bisa kita lihat pada ilustrasi peristiwa mengenaskan penembakan 31 pekerja dari PT Istaka Karya oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua pada 3 Desember 2018 oleh iNews.

Gambar 2. Ilustrasi penembakan 31 pekerja proyek oleh KKB di Papua dari iNews, 5 Desember 2018 (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=yVoDdcYjmss, diakses pada 7 Juni 2022)


Para anggota KKB yang diilustrasikan berkulit lebih gelap tengah berdiri tegak mengenakan seragam abu lengkap dengan senapan AK-47 di tangan mereka masing-masing. Sementara itu, semua pekerja PT Istaka Karya yang sedang berjongkok diilustrasikan berseragam kemeja atau polo shirt putih yang dimasukkan rapi ke dalam celana panjang berwarna biru gelap. 

Ilustrasi seragam yang rapi ini jauh dari realitas di lapangan yang diutarakan oleh Wakapendam XVII/Cendrawasih. Menurutnya, di wilayah puncak sendiri ada beberapa kelompok yang tidak saling terkoordinasi dengan faksi-faksi yang bergerak sendiri-sendiri. Penelusuran singkat di Twitter akan membawa kita pada foto-foto yang beredar terkait peristiwa ini

Foto sesaat sebelum peristiwa penembakan pekerja proyek oleh KKB di Papua yang tersebar di media sosial (diakses dari twitter pada 7 Juni 2022)


Pada foto kejadian, kita bisa melihat bagaimana anggota KKB tidak berseragam. Mereka memang menggenggam senjata. Hanya saja, sebagian besar senjata mereka bukanlah senapan AK-47 melainkan busur panah. Di sisi lain para pekerja PT Istaka Karya terlihat bertelanjang dada sambil mengenakan celana yang tampak berbahan jeans, sebagian berukuran pendek dan sebagian lainnya celana panjang. 

Asumsi Media Menguntungkan Siapa?

Dari dua contoh ilustrasi berita ini, kita bisa lihat perbedaan persepsi yang muncul lantaran seragam yang dikenakan oleh dua pihak yang berbeda. Peristiwa bentrok anggota FPI dengan anggota kepolisian langsung memantik kritik dan pertanyaan publik terkait profesionalisme aparat hukum dan tindakan mereka dalam menggunakan senjata api. Bahkan, setelah rekonstruksi kejadian dilakukan, Komnas HAM tetap melanjutkan pemeriksaan terpisah terhadap pihak kepolisian. Ilustrasi polisi berseragam yang telah muncul sejak seminggu sebelum rekonstruksi jadi alat meyakinkan publik bahwa anggota kepolisian telah melakukan tindakan yang profesional dan terukur. 

Penggunaan seragam pada kedua contoh ilustrasi ini sama-sama menyiratkan otoritas, profesionalitas, dan kompetensi. Seragam pada lembaga negara terbukti menambah persepsi akan otoritas dan kompetensi (Singer & Singer, 2012). Hanya saja, ilustrasi anggota polisi yang berseragam memberi efek positif sekaligus penegasan bahwa pihak yang melawan anggota berseragam ini tidak patuh hukum. Di sisi lain, ilustrasi anggota KKB yang berseragam memberi efek negatif karena seolah menunjukkan mereka yang berada di luar hukum juga punya otoritas. Ilustrasi anggota KKB berseragam mengesankan mereka jauh lebih profesional dan kompeten dibandingkan dengan kenyataan di lapangan. 

Terkait poin terakhir di atas, kita perlu menyadari perbedaan antara ancaman dari sebuah kelompok kriminal yang tidak terlatih dengan organisasi bersenjata profesional. Kepemilikan sejumlah senjata modern tidak lantas menjadikan suatu kelompok setara dalam hal otoritas dan kompetensi dengan aparat kepolisian dan TNI yang sangat terlatih. Begitu pula sebaliknya. Ilustrasi polisi yang berseragam tidak lantas berarti tindak-tanduk aparat pada kenyataanya profesional dan kompeten. Penambahan seragam dalam ilustrasi berita memperkuat posisi protagonis/antagonis suatu peristiwa sebelum terungkapnya fakta.

Dalam hal ini, media menanamkan asumsi tak berdasar kepada kita. Sebagai penonton berita, kita perlu bersikap lebih kritis terhadap ilustrasi peristiwa yang disuguhkan. Kita perlu menyadari harapan dan kecemasan kita sendiri ketika mengonsumsi sebuah berita seraya bertanya, apakah berita ini tengah memanfaatkan dan mengendarai harapan dan kecemasan saya? Lantas, siapakah yang diuntungkan dari ilustrasi peristiwa semacam ini?

Menjaga Pikiran Kritis

Dalam tayangan berita, ilustrasi atau rekonstruksi peristiwa berfungsi memberikan gambaran lebih lengkap. Namun, disinformasi tetap dapat terjadi lewat mekanisme yang halus. Dalam kasus yang sudah diulas, ia terjadi lewat penambahan seragam yang tak terkesan mengubah informasi tapi dapat mengubah keseluruhan kesan penonton.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi disinformasi semacam ini? Tidak semua orang mampu dan mau menelusuri berita yang beredar untuk memeriksa fakta di lapangan dan rincian peristiwanya. Meski demikian, penonton berita bisa membiasakan diri untuk menjaga pikiran agar tetap kritis. Kita bisa menahan diri dari memberi penilaian terhadap peristiwa yang baru saja terjadi dan tengah diberitakan. Jika fakta belum lengkap, penilaian kita tentu akan bias dan kurang tepat dalam menentukan benar/salahnya pihak-pihak terlibat. 

Selanjutnya, terkait ilustrasi seragam dalam sebuah peristiwa, kita bisa coba bayangkan seandainya pihak-pihak yang terlibat tidak berseragam. Apakah penilaian kita masih sama? Terkait pemberitaan pihak-pihak yang berwenang, kita harus sadar siapa yang menjadi pelaku dan korban. Pihak-pihak berseragam yang memiliki otoritas belum tentu tidak bersalah. Terakhir, kita harus berhati-hati terhadap cara pandang hitam-putih terhadap masalah hidup dan menerima rumitnya kenyataan di sekitar kita.