Pada menit ke-67 dalam laga Tunisia kontra Prancis, seorang membawa bendera Palestina masuk ke lapangan. Kejar-kejaran dengan pengawas pertandingan tak bisa dihindari. Pitch invader tersebut sempat melakukan aksi salto sebelum terkejar dan bertabrakan dengan pengawas pertandingan yang berjumlah tujuh orang. Ia diangkat dan diseret sementara para penonton bersorak, “Palestina! Palestina!”

Beberapa hari sebelumnya, pada laga Uruguay vs Portugal, Mario Ferri menjadi pitch invader untuk kesekian kalinya. Ia membawa bendera LGBTQ+, kaos depannya bertuliskan “Save Ukraine” sedangkan bagian belakang bercetak “Respect for Iranian Woman”. Isu-isu di atas memang menjadi bahasan hangat selagi gelaran Piala Dunia Qatar 2022 berlangsung.

Pertanyaannya, mengapa aksi semacam ini santer terjadi pada Piala Dunia kali ini? Dan juga, kenapa masyarakat sebagai penonton terpecah menjadi pro dan kontra dengan masifnya pesan sosial yang mengemuka di lapangan sepak bola?

Piala Dunia adalah Magnet, Ia Menjadi Target

Presiden FIFA, Gianni Infantino sesumbar mengatakan bahwa tiket Piala Dunia Qatar berhasil terjual sebanyak 2,89 juta. Jumlah penonton ini belum ditambah penonton layar kaca. Di Piala Dunia sebelumnya, jumlah penonton layar kaca sebanyak 3,5 miliar. Hampir setengah penduduk bumi pada tahun itu, menonton Piala Dunia Rusia.

Dengan kondisi Piala Dunia yang seperti magnet, tak heran banyak yang menggunakannya sebagai platform pesan sosial. Pada gelaran final antara Prancis vs Kroasia Piala Dunia 2018, terjadi juga aksi pitch invader oleh Pussy Riot memprotes penangkapan ilegal kepolisian dan pemerintah dalam kampanye politik. 

Namun, dengan daya tarik Piala Dunia yang seperti ini, tak jarang penyelenggara Piala Dunia menjadi target protes itu sendiri. Dalam Piala Dunia Brasil 2014, sebanyak lima ribu orang menggeruduk Stadion Itaquerao di Sao Paulo, memprotes pemerintah yang dianggap terlalu banyak menggelontorkan uang untuk Piala Dunia. Di sisi lain, Brasil saat itu lebih butuh peningkatan sistem kesehatan, edukasi, keamanan dan infrastruktur.

Lantas, beberapa waktu setelah Piala Dunia, media melaporkan bagaimana ekonomi Brasil jatuh dari tebing. Foto dan kabar bagaimana Stadion Maracana yang menjadi ikon Piala Dunia 2014 tak terurus beredar. 

Piala Dunia Qatar sendiri menjadi laga perang dingin media kontra FIFA dan Qatar. Pemilihan Qatar jadi tuan rumah segera menjadi sasaran pengusutan. The Guardian merilis laporan adanya dugaan suap kepada para pejabat FIFA untuk memilih Qatar sebagai tuan rumah. Daily Mail mengatakan Qatar menghabiskan sekitar 17 miliar Poundsterling untuk melakukan lobi ini.

Isu lain yang juga menjadi perhatian media adalah tentang korban dalam pembangunan infrastruktur Piala Dunia di Qatar. Setelah didesak oleh media, ketua penyelenggara Piala Dunia 2022, Hassan Al-Thawadi, menjawab bahwa jumlah korban ada di angka 400-500 jiwa. Angka ini jauh lebih sedikit dari kabar media. The Guardian, misalnya, pernah melaporkan jumlah pekerja migran yang tewas ada di angka 6.500, sedangkan The Washington Post melaporkan ada sekitar 1.200 pekerja yang tewas.

Qatar sendiri melancarkan serangan balik yang kolot yakni dengan membuat undang-undang yang mengatur kata-kata, lisan, dan unggahan di media sosial. Qatar bahkan mengadakan Fan Leader Program agar para influencer menyebarkan hype positif Piala Dunia 2022. Qatar artinya sampai mengerahkan buzzer untuk membersihkan namanya.

Pro Kontra Perihal Pesan Sosial di Media Sosial

Slogan FIFA yang mengatakan kick politics out of football menjadi usang dengan fakta besarnya perhatian yang diperoleh ajang Piala Dunia. Selain negara penyelenggara, FIFA sendiri pun berpolitik. Dokumenter Netflix FIFA Uncovered memperlihatkan bagaimana FIFA adalah sarangnya politik dan mafia. Dokumenter itu menampilkan adegan getir pejabat-pejabat FIFA digelandang FBI, otoritas pajak Amerika, dan kepolisian Swiss akibat korupsi, penyuapan, dan penggelapan pajak.

Sebaliknya, pesan sosial yang disampaikan melalui Piala Dunia memang menggayung perhatian publik luas. Timnas Iran memutuskan untuk tidak menyanyikan lagu kebangsaan sebagai bentuk protes kepada tindakan semena-mena pemerintahan yang berujung kematian Mahsa Amini. Perempuan 22 tahun itu meninggal setelah ditangkap oleh “pasukan moral” Komando Penegakan Hukum Republik Islam Iran yang mengawasi implementasi peraturan hijab.

Pesan sosial ini mendapat dukungan publik, terutama di Indonesia. Di matchday kedua antara Iran vs Wales (25/11), ada seorang penonton yang membentangkan jersey dengan papan nama Mahsa Amini bernomor punggung 22. Dandanannya suram, air matanya dibuat berwarna hitam. Aksi itu menuai pujian meski sesaat kemudian petugas menegur perempuan itu.

Kampanye sosial yang banyak menuai dukungan adalah penolakan terhadap kekejaman Israel. Banyak penonton Piala Dunia yang menolak diwawancarai oleh media dari Israel. Di sisi lain, pesan sosial yang berujung kontroversi dan polarisasi adalah pemakaian atribut LGBTQ+. Sebagian publik menganggap kampanye solidaritas LGBTQ+ sudah masif dalam sepak bola Eropa. 

Timnas Jerman menggunakan ban kapten bertuliskan One Love sambil menutup mulut dalam sesi foto sebelum pertandingan. Katanya, itu menyimbolkan protes terhadap pembungkaman pemerintah Qatar yang tidak membiarkan mereka menggunakan ban kapten berwarna pelangi. Namun, mereka segera menjadi sasaran cemooh karena standar gandanya. Jerman dinilai diam saja terhadap isu rasisme yang dialami Mesut Ozil. Ozil memutuskan pensiun dari timnas lantaran perlakuan “rasisme dan tidak hormat” yang dialaminya setelah berfoto dengan Presiden Turki, Tayyip Erdogan. 

Bersuara dengan Piala Dunia

Morgan Freeman memang tampil secara apik dengan pesan perdamaian dalam upacara pembukaan Piala Dunia Qatar (20/11). Ghanim Al Muftah mengikutinya dengan lantunan indah kutipan Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 13. Namun, perdamaian dan persatuan hangat tersebut nampak seperti pepesan kosong lantaran darah-darah berceceran migran-migran pekerja infrastruktur yang tak pernah dihitung.

Itulah gambaran Piala Dunia. Lantaran menjadi pusat perhatian dunia, ia akan menjadi buntalan pesan-pesan yang berkontradiksi satu sama lain. Rezim-rezim otoriter memakainya sebagai proyek mercu suarnya. Dan pada saat yang sama, publik luas akan mempertanyakan manuver-manuver mereka untuk menjadi tuan rumah.

Pun, baik pemain maupun kesebelasan Piala Dunia kini bukan hanya ingin membawa trofi pulang ke negaranya. Mereka juga membawa isu-isu yang ingin disuarakan. Sebagaimana juga para penontonnya. Mereka tak datang hanya sebagai penikmat melainkan juga untuk bersuara.