Media TV Makin ke Sini kok Makin ke Sana?
Bangku belakang

Media TV Makin ke Sini kok Makin ke Sana?

Merelakan TV memberi faedah untuk hidup saya.

OLEH: Faizah Eka Safthari

Pelajar dan penulis yang semau-maunya sendiri dan bisa ditemukan di Instagram @faizahekaa.

Saya sudah berhenti menonton televisi sejak dua tahun lalu. Dan saya yakin, saya tidak sendirian. Alasan utama mengapa saya demikian adalah karena kualitas media TV itu sendiri yang (menurut saya) tidak berkembang.

Misalnya, dari saya kecil sampai sekarang, masih ada saja stasiun televisi yang menayangkan sinetron-sinetron dengan plot cerita menggunakan properti seadanya. Dan sering kali jatuhnya malah tidak masuk akal, seperti yang pernah dibahas oleh akun YouTube Remotivi dengan judul “Ajaibnya Pengobatan di Sinetron: Tiba-tiba Kambuh, Tiba-tiba Sembuh”. Selain sisi kesehatan, ada juga CGI (Computer-Generated Imagery) sinetron Indonesia yang mandek berkembang selama lebih dari sepuluh tahun.

Tidak cuma itu, konten-konten yang ditawarkan media TV juga biasanya kurang peka dengan isu-isu sosial. Mereka kerap melanggengkan kultur maskulinitas yang toksik dan menunjukkan perspektif yang biner.

Seperti ketika ramai perihal kasus perselingkuhan selebritas Arawinda, yang menjadi sasaran empuk untuk digoreng oleh media TV adalah perempuan dibandingkan pria yang berselingkuh itu sendiri. Jadi, daripada memberikan pencerahan atau pandangan baru, media TV justru lebih asyik memberi bahan bakar untuk netizen marah-marah. Miris.

Belum lagi soal beberapa stasiun televisi yang menayangkan video-video singkat dan nyeleneh dari TikTok. Makin aneh saja dunia pertelevisian Indonesia. Ngapain saya harus menonton TV cuma untuk melihat konten-konten dari TikTok?

Bayangkan, diambil dari TikTok lho, dari aplikasi yang bahkan bisa dilihat kapan saja dan terbebas dari iklan panjang di saat kita langsung mengakses aplikasinya sendiri.

Jadi, jika kualitas media TV terus-menerus seperti ini, saya sangat yakin telah mengambil keputusan yang tepat dengan berhenti menonton TV. Pun, saya tidak akan menyesalinya. Sangat amat disayangkan bahwa media TV kita hari ini bukanlah media yang sehat dan progresif. Media TV makin ke sini kok malah makin ke sana ya?

Untungnya, sekarang kita memiliki lebih banyak opsi daripada dulu. Dulu kita hanya mempunyai segelintir pilihan untuk mendapatkan konten yakni antara menonton TV, mendengar radio, atau membaca koran dan buku. Tapi sekarang? Era membawa kita ke kondisi di mana pintu globalisasi sudah terbuka lebar. Karenanya, pilihan-pilihan semakin berkembang.

Meskipun tren YouTube terkadang sama dengan konten TV, kali ini saya bisa memilah mana yang ingin saya tonton dan tidak.

Kali ini saya dapat menonton tayangan edukatif yang membuka perspektif baru seperti akun Remotivi, Ferry Irwandi, Anatman Pictures, dan Vox di YouTube kapan saja daripada saya harus mengonsumsi tayangan-tayangan gosip yang (maaf) kurang bermutu di TV.

Selain lebih sehat, melepas TV juga lebih efisien terhadap waktu. Sekarang saya tidak perlu menunggu iklan panjang seperti ketika menonton film di televisi, karena dengan membayar Rp20.000 saja di salah satu aplikasi penyedia jaringan internet, saya bisa berlangganan Disney+ Hotstar dengan beragam tayangan berkualitas, tanpa terdistraksi iklan panjang yang menyita banyak waktu.

Pada akhirnya, media-media sekarang telah berhasil menggantikan posisi TV yang dulu pernah dekat dengan saya. Saya justru sangat merasakan dampak positifnya ketika melepas media TV sebagai sumber input otak utama.

Harapan saya, semoga stasiun televisi Indonesia bisa lebih inovatif dan kritis lagi dalam menayangkan konten-konten.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura