Ke Mana Hilangnya Kebersamaan di Depan Televisi?
Bangku belakang

Ke Mana Hilangnya Kebersamaan di Depan Televisi?

Kebersamaan yang aku inginkan jadi kesedihan yang terkenang.

OLEH: Nanaz

Seorang manusia yang sedang hilang arah

Sebelum adanya gawai, menonton televisi adalah suatu kewajiban. Selain untuk hiburan di saat lelah beraktivitas, menonton juga membantu menggali informasi seputar pengetahuan tentang dunia bahkan keadaan negara. Namun, setelah teknologi baru semakin tersebar luas, televisi semakin kurang digemari. Acara-acaranya juga semakin berkurang penontonnya. Masyarakat lebih suka menontonnya di platform daring.

Sedikit cerita. Dulu itu sebelum aku mengenal internet, kehidupanku bahagia banget. Bermain bersama anak-anak tetangga, saling mengenal tetangga, juga bisa berkumpul bersama keluarga sambil nonton TV. Dulu waktu aku kecil, aku suka banget nonton TV, apalagi kalau acaranya kartun. Tidak ada yang bisa menggantikan kebahagiaanku. Sesederhana itu—cukup nonton TV saja sudah bahagia. Ditambah lagi, kalau saya menonton bersama keluarga, tawa dan canda bakal selalu melengkapi.

Dari semua kartun yang aku tonton, dulu aku hanya suka film Naruto. Pernah aku terbawa suasana sedih dan menangis menontonnya. Entah mengapa, aku yang masih SD saat itu bisa terhanyut dalam ceritanya. Dan dulu aku tak pernah mendalami arti yang tersirat ketika menonton kartun. Sekarang aku paham banyak sekali pesan tersirat dalam kartun, mulai dari sarkasme, kejadian yang menyedihkan bahkan menyakitkan, dan ajakan berbuat baik. Semua itu dikemas dengan hiburan yang membahagiakan. Sampai saat ini pun aku masih menyukai kartun.

Namun, semenjak aku masuk SMP, orang tuaku mulai mengaturku. “Kurangi nonton TV, harus belajar. Kalau mau nonton pun, tonton yang berguna, misalnya nonton berita.” Aku yang benci menonton berita tak pernah menghiraukan acara berita. Bukannya tak mengerti, aku tak mau memahaminya karena malas. Mulai dari situ, aku jarang menonton TV dan tak lama aku mengenal telepon genggam meski belum ada yang bermerek Android. Menginjak SMA, aku mulai disibukkan oleh kegiatan. Pada akhirnya, keluargaku memasang wifi rumah. Dari sini, hilang sudah kebersamaan kami. Sebelumnya kami sering bercanda bersama di depan TV, kini kami menjadi egois dan individualis.

Kebersamaan yang aku inginkan seperti dulu menjadi kesedihan yang hanya terkenang, seakan semua itu hilang tak berbekas, hanya sebuah mimpi. Ke mana hilangnya kebersamaan yang dulu aku tegakkan? Ke mana hubungan harmonis keluarga yang dulu aku jalani? Sekarang, masing-masing hanya fokus pada gawainya masing-masing.

TV sudah tergantikan dengan platform daring seperti YouTube. Keluargaku dan juga aku sudah tak lagi menonton TV dan fokus pada gawai masing-masing. Menonton di YouTube lebih tenang dan tidak aka nada yang merebut tontonan. Sementara itu, di rumah hanya ada satu TV. Pastinya akan ada konflik rebutan remote.

Menonton di platform daring pun tak ada ruginya. Selain tidak ada yang mengganggu, menonton di sini lebih leluasa untuk menelusuri hal-hal yang tidak pernah kita ketahui. Inovasi-inovasi yang baru dapat dibagikan kepada orang-orang secara langsung tanpa repot mengurus arsip pertelevisian. Jadi, keberadaan platform daring ini dapat mendorong seseorang mempelajari pengetahuan baru.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura