Curahan Hati Umbi-umbian Kominfo
Bangku belakang

Curahan Hati Umbi-umbian Kominfo

Ujung-ujungnya, saya cuma bisa bilang “siap, Pak, siap, Bu”.

OLEH: Sophie Hatter

Seseorang yang tak lagi remaja namun juga tak cukup dewasa yang sedang berusaha menjelajah kehidupan dan dunianya sendiri

Saya merupakan salah satu pegawai umbi-umbian di Kementerian Kominfo yang kesehariannya kurang-lebih menjalankan salah satu program kerja berbentuk pelatihan dari kementerianku. Jika saya mencoba melihat dari sudut pandang yang positif, sungguh baik memang tujuan program kerja ini yaitu menyemai 10.000 talenta digital di seluruh Indonesia. Kebetulan, saya sering kali ditempatkan di wilayah kerja yang jauh dari kata “kawasan metropolitan.” 

Ketika bertugas, antusiasme para peserta yang tinggi membuat hatiku tersentuh. Saya disadarkan bahwa mempelajari sesuatu yang baru tidak harus terhalang apa pun, baik itu usia, jenis kelamin, pekerjaan, atau apa pun. Begitu pula ketika ada pelatihan di tempat mereka. Selain memang karena uang transportasi yang diberikan, saya yakin mereka hadir karena ingin mendapat ilmu atau setidaknya mendapat gambaran mengenai definisi besar dari kata “digital” itu sendiri. 

Demi kebutuhan data dan administrasi, tentu saja para peserta harus melakukan pendaftaran sebelum melakukan pelatihan. Sayangnya, saya merasa proses pendaftaran yang serba digital sangat sangat ribet dan ruwet, bagi saya pribadi maupun para peserta. Saya kerap kali mendapati keluhan, “Aduh Mbak, panjang sekali, ndak kelar-kelar daftarnya,” “Aduh Mbak, hape saya ndak bisa internet ini” (sembari memperlihatkan handphone polyphonic-nya), “Aduh Mbak, saya tinggal saja hape saya ya? Jarang main hape saya ini” dan aduh Mbak, aduh Mbak lainnya. 

Dalam situasi ini, saya merasa memiliki kesabaran yang berlebih adalah suatu anugerah. Saya harus memutar otak berkali-kali untuk mencari solusi atas permasalahan serupa. Lantas, ada saatnya situs utama pendaftaran time out dan error (yang mana selalu terjadi setiap kali pelatihan). Ini masalah yang sudah tak bisa lagi kutolong. Hal ini membuatku merasa visi kementerian ini tidak didukung dengan apa yang sebenarnya dilakukan. Keluhan “aduh Mbak” yang terus-terusan kurasakan membuatku merasa Kominfo memang tidak benar-benar mengenal sasaran program kerjanya sendiri. Kebijakannya agak… terlalu memaksa. 

Terlepas dari itu semua, saya menganggap hal tersebut merupakan kendala ketika bekerja yang harus saya hadapi dengan hati lapang. Namun, uneg-uneg ini tetap saja ingin saya sampaikan, apalagi ketika mengingat bagaimana para peserta menangani data-data pribadi mereka. Syarat wajib pendaftaran adalah melampirkan NIK, foto KTP, paspor. Data-data ini dengan santainya dibagikan para peserta di grup kelas. Hard file data-data tersebut pun terkadang berserakan di kantor seusai pelatihan. 

Alih-alih berhasil teredukasi tentang pentingnya menjaga data pribadi di dunia maya, mereka justru terlihat acuh, bahkan seakan memaksa untuk membagikannya dengan cuma-cuma. Mungkin saja para peserta memang sudah merasa aman ketika berbagi data ini karena pelatihannya diberikan pemerintah. Pemerintah kan tugasnya memberikan perlindungan bagi masyarakat, termasuk data pribadi. Namun, jika direnungkan dan diingat riwayat kementerian ini, hati saya justru terkadang semakin gundah dan gelisah. 

Atau mungkin, selama ini saya yang tidak terlalu luas mendalami visi dan misi program kerja pemerintah yang satu ini, saya yang terlalu banyak mengeluh dan punya kecemasan berlebih setiap kali menemukan pemandangan-pemandangan di atas. Ujung-ujungnya, saya cuma bisa bilang “siap, Pak, siap, Bu” atas setiap perintah yang diberikan atasan, seperti kata salah satu ASN di sini: “diam saja jika kamu masih ingin tetap bekerja.” Tapi, melalui curahan tulisan pendek ini, setidaknya hati saya sedikit terasa lega. 

Fyi, tulisan ini disusun di sela-sela pelatihan yang dibicarakan.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura