Obsesi Saya terhadap Transpuan Saya Simpan Rapat-rapat di Dunia Maya
Bangku belakang

Obsesi Saya terhadap Transpuan Saya Simpan Rapat-rapat di Dunia Maya

Untukmu partner transpuanku, aku menyayangimu.

OLEH: Angin Mamiri

Sehari-hari penulis bekerja sambil mewujudkan masyarakat komunis yang madani.

Pada mulanya adalah sebuah permintaan pertemanan di Line lewat fitur people nearby. Perempuan itu cantik sekali. Rambutnya panjang dan pakaian di foto profilnya sangat modis. Saya menerimanya dan kami mulai mengobrol di ruang percakapan. 

Hanya dengan beberapa kali berkirim percakapan, ia mengaku kalau dirinya adalah seorang transpuan. Saya tidak masalah dengan itu dan kami memutuskan untuk bertemu. Siapa sangka pertemuan kami berlanjut sampai ke ranjang. Siapa sangka juga saya yang selama ini mengidentifikasi diri sebagai laki-laki hetero bisa melakukannya bersama transpuan. 

Kami bertemu cukup sering setelah pertemuan pertama itu sampai akhirnya dia meng-ghosting saya tanpa alasan yang jelas. Berawal dari situ, ketertarikan saya terhadap transpuan muncul.

Sebagai catatan, saya sekarang punya pacar. Ia perempuan. Namun, obsesi saya terhadap transpuan malah bertambah tinggi. Saya memiliki akun Twitter kedua yang isinya serba-serbi transpuan, mulai dari forum trans hingga akun-akun pekerja seks transpuan. Saya suka melihat mereka meskipun tidak berani berinteraksi langsung.

Di people nearby, saya mencari lagi transpuan untuk saya jadikan teman, berharap bisa bertemu sosok transpuan seperti partner yang pertama saya ceritakan itu. Di Bumble pun saya menyalakan filter non-binary untuk mencari match transpuan. Oh iya, yang terakhir itu saya lakukan sebelum punya pacar ya! Saya nggak selingkuh kok. 

Saya juga menonton banyak video porno di Pornhub yang aktrisnya transpuan. Pacar saya sering ngambek karena saya tidak mengizinkannya memainkan ponsel saya dengan alasan privasi. Ia bahkan kerap menuduh saya selingkuh. Maaf sayang, sungguh tidak ada orang lain di hubungan kita, tapi aku takut kamu kaget kalau kamu tidak sengaja buka riwayat pencarianku atau bahkan bookmarks di Chromeku.

Ya, benar. Obsesi terhadap transpuan adalah guilty pleasure saya. Pleasure tersebut saya simpan rapat-rapat di dalam akun media sosial yang dikunci dan tidak diikuti siapa pun, file safe yang menggunakan password, serta bookmarks porno yang amat tertutup. Saya sungguh tidak siap menghadapi konsekuensi dan hukuman sosial lantaran ketertarikan saya itu. Di masyarakat serba homofobik seperti ini, berteriak dengan lantang bahwa saya menyukai transpuan tentunya memiliki konsekuensi logis yang berat.

Lantaran ini, saya sering merasa sedih. Apakah saya harus merasa guilty terhadap pleasure tersebut? Sampai kapan saya harus melakukan ini? Sungguh saya amat menantikan masa di mana kita bisa sangat terbuka dengan preferensi seksual apa pun tanpa ada pretensi homofobik dan transfobik. 

Untuk partner transpuanku yang waktu itu, aku sayang kamu.

Untuk pacarku, percayalah, aku juga sayang kamu, sebesar dunia.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Jl. Raya Kby. Lama No.18CD, RT.4/RW.10, Grogol Sel., Kec. Kby. Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12220

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura