Bangku belakang

Bawel di Tinder, Mingkem Ketika Papasan

Chatting kami via Tinder sudah belangsung sekitar dua bulan dan hampir setiap minggu kami papasan di kampus tanpa saling menyapa.

OLEH: Arif Rizal Muhamad

Mahasiswa yang sedang mencintai perempuan yang punya pacar

Karena sudah muak dengan kegagalan resolusi tahun lalu untuk punya pacar, saya dengan rasa sedikit gengsi akhirnya memasang aplikasi pencari jodoh Tinder.

Saya—yang sampai umur 20 belum pernah merasakan nikmatnya pacaran yang dijargonkan orang-orang—sebetulnya sudah pernah menggunakan aplikasi pencari jodoh lainnya, yakni Tantan. Tapi di Tinder akhirnya saya melihat profil seseorang yang saya tahu karena satu fakultas. Karena parasnya yang cantik di foto maupun di dunia nyata, saya akhirnya geser ke kanan untuk dia.

Setelah satu hari satu malam, ada pemberitahuan dari Tinder bahwa saya match dengan dia. Senang awalnya, tapi juga bingung memulai obrolan. Akhirnya saya mencoba menyapa “Hei”. Tidak lama kemudian dia menyapa balik, dan saya mulai memberanikan diri ngobrol dengannya.

Hampir setiap hari kami ngobrol via Tinder. Uniknya, kami hampir seminggu sekali berpapasan di kampus, tapi tidak ada yang berani menyapa terlebih dahulu. Mungkin karena malu-malu kami akhirnya saling memberitahu di Tinder kalau tadi kami berapapasan.

Kami sering membicarakan musik kesukaan, dan kebetulan kami sama-sama penyuka lagu-lagu Efek Rumah Kaca dan band-band indie lainnya. Di saat kami tidak punya topik pembahasan saat chatting, saling bertukar playlist menjadi selingan.

Chatting kami via Tinder sudah belangsung sekitar dua bulan dan hampir setiap minggu kami papasan di kampus tanpa saling menyapa. Ingin menyapa duluan tapi malu. Saat saya mau menyapa, dia langsung menghindar dengan tidak menoleh. Lucunya lagi adalah, saat chatting di Tinder, kami saling mengaku ingin menyapa terlebih dahulu, tapi sama-sama mengaku malu.

Di bulan ketiga saya rasa obrolan kami sudah mulai kehabisan topik dan intensitas chating kami menurun. Saya bertekad ingin menyapanya di kampus.

Saat untuk pertama kalinya saya memberanikan diri menyapanya, “Hai Sonia”, dia hanya menoleh mengangguk dan tersenyum. Permulaan yang tidak sesuai ekspektasi saya. Saya padahal berharap bisa mengobrol lama.

Di minggu berikutnya saya mencoba duduk semeja dengannya saat di taman kampus, dan saya membuka obrolan.

“Hai, lagi ngapain?”

“Ini baca buku.”

“Dengerin apa?”

“Dengerin lagi albumnya Efek Rumah Kaca yang Kamar Gelap, udah ya, aku mau kelas.”

Dia pergi terburu-buru sambil membawa tasnya. Di minggu-minggu setelahnya saya tidak pernah berpapasan lagi dengannya. Saya dapati dia sekarang melewati jalan yang lain. Tapi obrolan online kami masih berjalan seperti biasa, kadang intens kadang enggak. Suatu saat saya tanya dia via Tinder.  

“Kenapa sekarang nggak pernah lewat jalan biasanya?”

“Aku masih malu ngobrol sama kamu.”

Dari sini saya tahu, aplikasi pencari jodoh ini, yang banyak sekali jenis dan namanya, memberikan orang rasa senang dan kasih sayang, walaupun sebatas online. Akhirnya saya tukar nomor Whatsapp dengannya. Obrolan kami masih berlanjut, entah tentang apapun itu yang penting nyambung, tapi paling sering tentang lagu. Walaupun masih susah sekali ngobrol dan bercengkrama dengannya di dunia nyata.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura