Bangku belakang

Jungkir Balik Wahana Kencan Daring

Aku telah menggunakan aplikasi kencan selama 4 tahun. Dengan rentang waktu yang sama, mungkin aku sudah bisa dapat promosi dua kali di kantor.

OLEH: Melania Shinta Nugraheni

Karyawan penata organisasi, tapi sulit menata diri sendiri.

Aku mulai mencoba aplikasi kencan sejak 2015. Namun, keberanian untuk bertemu dengan para match secara langsung baru terbit dua tahun setelahnya.

Sejak itu, aku telah mencoba empat aplikasi yang berbeda secara periodik, dan menemui berbagai macam orang yang menarik pula. Mulai dari pengusaha cokelat hingga pedagang senjata (arm dealer, sungguhan!), sesama budak korporat, dan praktisi profesional lainnya, seperti pengacara atau desainer.

Terjadinya match dengan orang-orang ini tentunya karena mereka “membeli” unique selling proposition yang aku tawarkan. Seperti di media sosial lainnya, aku harus menetapkan citra seperti apa yang ingin aku bangun.

Aku pribadi menetapkan citra diri yang cool, fun-loving, dan witty (meskipun ini sangat mainstream di kalangan pengguna aplikasi kencan). Namun selain “dipilih”, aku juga harus “memilih” Calon Match (CM) yang sesuai. Proses evaluasi yang kulakukan terhadap CM terjadi dalam dua tahap:

Pertama, evaluasi bio.

Sebagai mantan rekruter, analisis bio itu sangat penting untukku! Dari bio, aku bisa tahu apakah CM lulusan universitas yang menurutku oke dan punya pekerjaan yang aku tahu nilainya. Selain itu, aku bisa mengevaluasi cara berpikir CM melalui hal apa yang ia rasa penting untuk dibagikan dalam secuil ruang informasi. Ditambah lagi, kalau bio-nya menarik, aku bisa membuat pickup line dengan mudah sehingga nggak perlu susah-susah mikir.

Kedua, evaluasi foto.

Prinsip kecocokan fisik itu: Kalau jalan bareng, kami nggak terlihat seperti nyonya dan pesuruh atau tuan dan budak (pas aja, gitu). Aspek fisik adalah rule of the game di platform kencan karena informasi lain di luar itu sangatlah terbatas. Kita nggak harus seganteng atau secantik selebriti, sih, tetapi tidak bisa dipungkiri kalau penampilan fisik adalah sinyal yang paling mudah dicerna oleh otak.

Kalau kita nggak terlalu menarik menurut standar masyakarat, setidaknya kita harus membuat sinyal kelebihan lain yang bisa mengkompensasi kekurangan tersebut. Belakangan ini, ada banyak profil di aplikasi kencan yang mengunggah foto bertema travelling di luar negeri. Sepertinya, ini bisa menjadi selling point karena generasi kita memandang travelling sebagai sesuatu yang penting. Contoh sinyal yang diberikan dengan foto travelling adalah jiwa petualang dan wawasan luas (atau setidaknya tajir, hehe).

***

Lama bertahannya hubungan dengan para match ini bervariasi. Ada yang hanya bertemu satu kali hingga berkencan selama beberapa bulan. Namun, hubunganku dengan para match sebenarnya tidak semenarik hubunganku dengan platform kencannya itu sendiri.

Di satu sisi, aku merasa aplikasi kencan adalah sumber terbesar keseruan hidupku; teman-temanku menanti-nanti cerita baru apa lagi yang aku dapat melalui aplikasi ini. Aku juga mempraktikkan consumer research, misalnya menganalisis tipe foto yang paling disukai pasar hingga pickup line apa yang akan muncul dengan bio tertentu yang kutulis. Aku menjadi konsultan bagi teman-teman yang baru menggunakan platform ini, dan sungguh, rasanya seru sekali!

Di sisi lainnya, aku merasa aplikasi kencan adalah sumber kekacauan hidup; ia merusak sense of self-worth karena aku tahu aku terus-menerus dibandingkan dengan orang lain. Dan lebih sedihnya, aplikasi ini tak hentinya mengingatkanku bahwa orang bisa datang dan pergi kapan saja. Istilah ghosting, orbiting, breadcrumbing, dan lainnya tidak muncul tanpa alasan. Aku sendiri sepertinya sudah pernah merasakan semuanya.

Memang, realitanya adalah setiap orang bisa datang dan pergi kapan saja. Tetapi konsekuensi negatif yang tidak bisa lepas dari aplikasi kencan adalah: kamu nggak akan memberi waktu untuk “berdamai” dengan rasa kehilangan, karena selalu saja ada orang baru yang siap kamu temui.

Sebagai seasoned online dater, aku sangat paham bagaimana aplikasi kencan mereduksi nilai seseorang menjadi sesuatu yang disposable. Tidak hanya aku yang direduksi; aku pun mereduksi nilai orang lain menjadi sesuatu yang mudah “dibuang”. Miris, bukan?

Menjalani kencan daring itu semacam mendapat candu dari siklus emosi ekstrem yang berputar dengan sangat cepat. Gelora membuncah ketika kenal orang baru dan mulai jalan bareng, diikuti dengan rasa penasaran berat ketika berusaha mendefinisikan: kita ini apa? Atau, kita akan kemana? Terakhir, rasa kecewa bahkan sedih ketika ekspektasi mulai muncul tapi tak terpenuhi. Mungkin manusia memang cenderung mencari puncak-puncak emosi yang ekstrem untuk mengisi kekosongan, meskipun sadar bahwa fluktuasi ini tidak sehat. Aku sendiri masih terus mencari pengalaman-pengalaman emosi yang ekstrem, dan karenanya, aku pun belum bisa lepas dari penggunaan platform ini.

***

Pada akhirnya, semua hal memang memiliki dua sisi yang berbeda. Tak terhitung lagi banyaknya teman-teman yang menikah dengan orang yang mereka kenal melalui aplikasi, termasuk dua orang sepupu dan kakak kandungku. Namun, perbedaan realita ini tidak lantas membuat pengalamanku menjadi invalid, dan demikian pula sebaliknya.

Kalau kamu memang mencari sesuatu yang serius, silakan cari dan semoga sampai di tujuan (dengan hati yang selamat). Tetapi, kalau kamu seperti aku yang mencari petualangan, siap-siap menaiki wahana emosi yang naik turun, ya!

*Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi penulis tanpa upaya menggeneralisasi.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura