Bangku belakang

Kepada Para Eksibisionis: Saya Melawan!

Saya belajar untuk mengendalikan ketakutan saya dan lebih memilih mengambil tindakan yang membuat mereka takut atau jera.

OLEH: Risma Aprilia

Seorang yang bercita-cita tinggal di Norwegia.

Saya pernah beberapa kali mengalami pelecehan seksual, baik secara langsung maupun tidak langsung. Di sini saya bakal cerita salah satunya.

Kejadian ini terjadi sekitar 3 bulan lalu, ketika saya sedang mencari informasi lowongan kerja di aplikasi bernama Open Chat. Di aplikasi ini, kita dapat bergabung dengan room chat tertentu dan bertemu dengan banyak akun-akun lain. Tentu saja saya gabung dengan room yang di dalamnya membahas atau memberikan info seputar lowongan pekerjaan.

Saat saya bertanya soal informasi lowongan kerja, ada satu laki-laki yang menginfokan adanya lowongan di tempatnya bekerja dan mungkin cocok untuk saya. Karena tertarik, saya tidak pikir panjang. Saya lantas meminta ID akunnya untuk memudahkan kami berkomunikasi langsung.

Awalnya tidak ada yang aneh dari percakapan kami, hanya membahas tentang pekerjaan yang dia tawarkan untuk saya. Namun, yang mengejutkan adalah malam-malam dia mengirimkan foto alat kelaminnya!

Saya kesal dan bertanya apa tujuannya, dia menjawab, "VCS yuk, mau nggak? Aku lagi horny nih." VCS adalah kependekan dari Video Call Sex.

Sontak saya langsung caci maki dia dan menantangnya untuk melakukan hal seperti itu di hadapan saya langsung. Saya bilang ke dia waktu itu biar sekalian saya foto mukanya (karena pelaku pelecehan seksual seperti mereka selalu menyembunyikan identitasnya).

Dia pun membalas saya dengan makian dan disambung dengan mengatakan kalau saya ini nggak asik. Saya nggak peduli, toh saya sudah berhasil melawannya. Langsung saja waktu itu saya blokir akunnya.

Hal seperti itu untungnya tidak lantas membuat saya mengalami trauma—sebelumnya, saya bahkan pernah beberapa kali mengalami pelecehan secara langsung dari orang asing.

Dari apa yang saya baca, mereka-mereka yang memamerkan alat kelaminnya ini mengalami eksibisionisme. Mereka ingin membuat korbannya terkejut, takut, atau terkesan dengan perbuatannya tersebut. Karena itu, saya belajar untuk mengendalikan ketakutan saya dan lebih memilih mengambil tindakan yang membuat mereka takut atau jera.

Walaupun mereka tidak takut, paling tidak saya sudah berani melawan, dan ini penting. 

Jadi buat teman-teman yang mengalami hal serupa, satu pesan saya, jangan takut. Jangan takut melawan dan menceritakannya ke orang-orang terdekat agar apa yang kalian alami nggak bikin kalian trauma. Orang dengan kelainan seksual seperti mereka nggak akan berani melakukan tindakannya lebih jauh selama korbannya berani melawan.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura