Bangku belakang

They Won’t Get Their Hands Dirty

Apa yang terjadi jika kamu tidak berhati-hati dalam menyebarkan kontak pribadimu?

OLEH: Areispine Dymussaga Miraviori

Meneliti di Pusat Studi Urban, Sekolah Pascasarjana IKJ, sembari melakukan riset independen, menggambar, dan mencari namaste.

Aku cukup bangga bahwa aku memiliki kesadaran yang tinggi mengenai internet safety semacam ini. Aku tidak pernah menyebarkan nomor teleponku di internet.

Media sosial yang paling sering kugunakan, Twitter dan Instagram, keduanya tidak menggunakan nama asli dan minim informasi mengenai di mana aku bekerja. Kredensial yang paling lengkap mengenaiku hanya bisa ditemui melalui Quora dan Academia—itu pun kubuat dengan sangat profesional dan sesuai kebutuhan.

Dalam berkomunikasi sehari-hari, aku lebih sering menggunakan Telegram karena selain encrypted, aplikasinya ringan dan to the point. Whatsapp terlalu banyak grup yang berisik, status yang tidak perlu, dan karena itu aku membatasi penggunaannya hanya untuk pekerjaan. Kupikir semua cukup aman; aku memiliki safe space untuk teman-teman dan pacar di Telegram, Twitter, dan Instagram.

Suatu malam, dalam jangka waktu yang hampir bersamaan, ada empat username asing yang muncul di Telegramku. Semua mengawali percakapan dengan sapaan yang hampir sama: hi, hey, hello.

Awalnya aku pikir mereka adalah salah satu temanku yang baru memiliki akun Telegram. Tapi ternyata bukan. Dua dari empat akun itu mengirimiku gambar alat kelamin pria secara bertubi-tubi. Tidak ada gunanya mencari tahu siapa mereka, keduanya langsung aku blok.

Dua akun lainnya ternyata masih berpikir komunikasi melalui teks lebih baik ketimbang gambar. Dan keduanya menggunakan Bahasa Inggris. Akun yang ketiga ini cukup terang-terangan mengajakku tidur—yang kemudian segera aku blok juga. Akun yang keempat menanyakan di mana aku tinggal dengan lebih friendly daripada ketiga akun lainnya.

Aku sangat bingung, bagaimana dalam waktu yang hampir bersamaan, keempat akun ini menghubungi Telegramku dengan intensi seksual. Akhirnya, setelah mencoba mengobrol dengan akun keempat, ia mengatakan bahwa ada sebuah post di Whisper (platform microblogging yang memungkinkan penggunanya memunggah tulisan secara anonim) yang kurang lebih isinya menawarkan diri untuk melanjutkan sexting ke username Telegramku. Yang lebih membingungkan lagi, karena Whisper bekerja sesuai radius jarak, lokasi akun keempat ini berada di Singapura. Berarti, orang yang menyebarkan username-ku berada di Singapura.

Sampai saat ini aku tidak tahu apa motivasi orang yang telah menggunakan username Telegramku. Barangkali seorang teman atau kenalan yang iseng atau memang sengaja ingin membuatku kesal. Tapi siapa pun itu, tindakan ini telah memungkinkan pelecehan seksual melalui internet terjadi. Aku pikir, aku sudah cukup berhati-hati menjaga kontak pribadiku.

Aku tidak tahu apakah ada orang lain yang pernah mengalami kejadian yang sama sepertiku. Sejauh ini, motif menaruh username Telegram di platform anonim belum pernah kudengar. Paling-paling, nomor asing di Whatsapp yang tiba-tiba membombardir foto-foto alat kelamin pria. Untuk kasus yang ini biasanya terjadi jika nomor telepon bocor di tukang pulsa atau ojek daring.

Dari pengalamanku di atas, setidaknya ada beberapa hal yang bisa aku simpulkan.

Pertama, ternyata menjaga penyebaran kontak pribadi belum tentu bisa menjamin kamu terhindar dari hal-hal tidak diinginkan termasuk pelecehan seksual dari orang asing.

Kedua, dari kasus di atas, pelecehan seksual bisa dilakukan melalui tangan kedua. Maksudnya, aku menganggap orang yang telah menyebarkan username-ku untuk sexting juga telah melakukan pelecehan seksual meskipun dia tidak terlibat secara langsung denganku. Dia menggunakan tangan orang lain untuk membuat aku merasa tidak nyaman.

Pelecehan seksual di internet semacam ini memang susah-susah gampang untuk dihindari, apalagi jika pelakunya anonim. Tentu kita bisa untuk tidak menghiraukannya. Namun hal ini juga cukup mengganggu, karena membuat seseorang memutuskan mengganti username, nomor, atau bahkan menutup akun. 

Kasihan, lagi-lagi korban yang harus mencari cara untuk terhindar dari pelecehan.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura