Bangku belakang

Stiker Mesum Sampai Video Ah Ih Uh

Jika video ini adalah bahan guyonan silakan kirim ke ibu, adik perempuan, dan gebetanmu yang lain!

OLEH: JulianNR

Jurnalis

Sebut saja dia IS. Perkenalan saya dengan dia bermula dari sebuah kedai kopi. Ketika itu kami sama-sama hendak mengikuti kemah bersama dengan teman-teman dari kedai kopi itu. Hampir 30 peserta kemah dan hanya saya yang perempuan. Kebetulan saya koordinator acaranya.

Di antara sesama peserta, semua saling tahu jika kami semua adalah perokok dan peminum. Begitupun saya, yang juga dikenal sebagai perempuan yang easy going. Tapi mereka sepertinya tidak tahu bahwa saya cukup melek terhadap isu kesetaraan gender dan pelecehan seksual. 

Di dalam grup Whatsapp peserta kemah ini, saya sering merasa dilecehkan. Tanggapan-tanggapan mereka melalui emoticon dan sticker, banyak yang visualnya berupa perempuan dengan menonjolkan sensualitas, atau gambar pasangan yang sedang mesum. Yang paling parah adalah video atau gif bertema rape joke.

Ini membuat saya risih. Apalagi saya juga kerap dijadikan bahan bercandaan lewat sticker di grup. Saya marah sebenarnya, tapi saya diamkan. Saya putuskan untuk bertahan di grup sampai tanggung jawab saya di acara kemah selesai.

Nah mengenai IS, saya jadi sering ketemuan dan ngobrol di Whatsapp dengannya pasca kemah. 

“Kopi nggak?” tanya saya di Whatsapp suatu kali.
“Iya ngopi nanti kalau kerjaan kelar.”
“Oke, ketemu deh entar di warung ya!” 

“Eh lagi ada keributan di Antasari,” balasnya.
“Keributan apa?”

Dia langsung kirim video. 

Tanpa ada curiga apapun, saya putar video itu. Ternyata video porno: seorang perempuan sedang mengulum penis. 

Saya dibuat malu dengan memutar video itu. Malu karena suara desahan yang nyaring itu menimbulkan perhatian orang.

Saya marah-marah kepada IS. Alih alih minta maaf, dia malah mencoba menghibur dan membercandai hal ini. Saat saya mengaku marah saya justru dipojokkan dengan label “baperan” dan “pemarah”.

Tak berhenti sampai di situ, IS mencari saya saat dia datang ke warung untuk meredakan kemarahan saya. GOBLOKNYA, caranya ialah dengan lagi-lagi mengirim video porno yang hampir sama dengan sebelumnya. HOLLY SHIT

Bodohnya lagi, dia masih anggap itu sebagai bahan bercandaan. Sontak saya bentak dia via maya. Saya utarakan bahwa video dan guyonan yang dia kirim itu membuat saya tidak nyaman dan itu merupakan bentuk pelecehan seksual.

IS keukeuh menganggap video-videonya sebagai guyonan. Entah dia memang bodoh atau pura pura bodoh. Akhirnya saya tantang dia, “Jika video ini adalah bahan guyonan silakan kirim ke ibu, adik perempuan, dan gebetanmu yang lain!”. Akhirnya barulah dia meminta maaf.

Sejak saat itu saya dan IS tidak pernah lagi berkomunikasi sama sekali. Nampaknya sebagai lelaki yang merasa berkasta tinggi (darah biru kraton dan ekonomi atas), dia merasa teguran dan nasihat saya tadi sebagai tamparan dan penghinaan yang luar biasa. 

Saya tidak pernah menyesal kehilangan dia karena saya berhasil memegang teguh nilai dan pemahaman yang saya yakini benar.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura