Bangku belakang

Akhirnya Aku Temui Bali di BaleBengong

Aku bosan melihat berita-berita di televisi nasional yang hanya memperdebatkan apakah umat Islam boleh melaksanakan ibadah salat Jumat atau tidak.

OLEH: Oktaria Asmarani

Sarjana filsafat tapi nggak paham dan nggak bisa ndakik-ndakik. Dapat ditemui di @raniokt.

Saat menulis ini, sudah hari keenam banyak orang meneriakkan seruan untuk berada di rumah saja akibat pandemi virus corona. Jalanan di Denpasar sudah mulai lengang. Tidak ada lagi kemacetan berlebihan di Jalan Diponegoro atau Jalan Ahmad Yani. Aku kendarai sepeda motorku perlahan sambil mendengarkan podcast.

Aku mau tidak mau harus keluar hari ini untuk mengambil lembar jawaban ujian murid-muridku yang harus kukoreksi di rumah. Namun, tidak berselang lama ketika aku melewati daerah Pedungan, Denpasar Selatan, aku menarik tuas rem sepeda motorku. Lho, kok macet?

Terlihat kerumunan berbaju adat Bali berjalan bergerombol di depan para pengguna jalan. Kulkul pura suaranya bertalu-talu, dipukul oleh tiga orang berdestar. Suara gamelan terdengar membahana. Para pedagang minuman dan sate babi berjejer di tepi jalan.

Tampaknya ada upacara yang baru saja usai di Pura Desa Lan Bale Agung Pedungan. Kata temanku yang tinggal di Pedungan, itu adalah salah satu rangkaian upacara menyambut Nyepi yang jatuh pada 25 Maret 2020.

Kemacetan lalu lintas karena upacara keagamaan merupakan hal yang begitu lumrah di Bali dan seringkali kami tidak berkeberatan akan hal tersebut. Akan tetapi, melihat kerumunan sebanyak itu di tengah gonjang-ganjing dunia karena virus korona, aku bertanya-tanya, apa yang seharusnya kami, umat Hindu Bali, lakukan?

Ada banyak upacara adat dan keagamaan yang semestinya berlangsung, apalagi Nyepi sudah dekat. Perlukah kami membatasi diri? Kalau iya, batasan seperti apa yang dibutuhkan?

Kebingungan ini bisa saja kami lemparkan dengan mencuitkannya di Twitter atau dengan mengunggahnya di Instagram story, lalu tag ke @BaleBengong. Si Mimin akun-akun tersebut akan dengan tanggap membantu mencarikan jawaban dari para pengikutnya. Jadi kami, warga Bali di media sosial, saling bahu-membahu untuk berkabar dan menanggapi kabar, dengan difasilitasi oleh BaleBengong.

BaleBengong sendiri adalah media jurnalisme warga di Bali yang tahun ini akan berusia 13 tahun. Portalnya sendiri dikelola bersama Sloka Institute dan Bali Blogger Community. 

Penekanan ada pada “warga”, artinya warga bertindak sebagai subjek aktif dari suatu berita atau kabar. Siapapun orangnya bisa menjadi wartawan! Warga bisa memberikan mengabarkan apapun, dari reklamasi Teluk Benoa, kritik terhadap tidak transparannya pemerintah kabupaten, atau sekadar bertanya tempat membeli beli lemari buku kayu di seputaran Denpasar. Rumit hingga sederhana, semuanya dirayakan.

Aku sendiri berkenalan dengan BaleBengong ketika masih duduk di bangku SMA dan kebetulan terlibat dalam ekskul jurnalistik (hampir delapan tahun lalu!). Sepulang dari kuliah di Yogyakarta, aku memutuskan untuk bersinggungan kembali dengan mereka, langsung ataupun tidak langsung.

Jurnalisme warga selalu menarik perhatianku, sebab ia mampu menghargai perspektif warga, dengan latar belakang yang tentu berbeda-beda, dalam memandang suatu masalah. Tidak ada lagi istilah cuma orang kota dan berpendidikan saja yang boleh beropini.

Aku baru saja mengetahui bahwa omed-omedan yang biasanya berlangsung di Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar, tahun ini harus ditiadakan karena ancaman virus corona. Aku juga menyadari bahwa banyak karya ogoh-ogoh yang terpaksa tidak diarak oleh masyarakat karena hal yang sama. Semua kabar ini kudapatkan dari warga yang membagikannya kepada warga, melalui BaleBengong.

Sementara itu, aku sendiri bosan melihat berita-berita di televisi atau media (yang katanya) nasional yang hanya memperdebatkan apakah umat Islam boleh melaksanakan ibadah salat Jumat atau tidak. Sepertinya aku belum melihat bagaimana umat Hindu Bali yang biasanya gegap gempita menyambut hari raya Nyepi diberitakan oleh media nasional di masa corona ini.

Di mana Bali dan daerah-daerah lainnya dalam lanskap media (yang katanya) nasional?

Pada akhirnya, warga akan menciptakan sendiri apa yang tak dihadirkan oleh media nasional: jurnalisme warga berbasis kedaerahan masing-masing. Seringkali, itu saja sudah cukup bagi kami.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura