Bangku belakang

BundaKata, Buku Gotong Royong

BundaKata hadir dari dan untuk memuliakan pembaca juga penulis.

OLEH: Restu Ismoyo Aji

Seorang yang mendosenkan diri di sebuah kampus di Jawa Timur.

BundaKata namanya. Besar kemungkinan tidak banyak orang yang tahu. Atau jika pun sudah pernah ada yang mendengar, mungkin bukan dalam konsep sebagaimana yang kumaksud. Seperti bisa kamu baca pada judul, BundaKata adalah buku gotong royong.

Untuk memahami kegotongroyongan BundaKata kita perlu memulainya dari tempat kita biasa membeli buku: toko buku, baik offline maupun online.

Ketika mengunjungi toko buku, apa yang biasa kamu temui? Buku-buku yang konon katanya best seller ditata pada rak terdepan dengan tema dan desain sampul yang mengekor satu sama lain? Itu pun hanya dari nama-nama penulis yang terlanjur kondang. Lantas di mana rak tempat bagi penulis baru? Apalagi, buku-buku yang tersedia adalah buku-buku yang tidak memberikan peran apapun kepadamu kecuali mengambilnya dari rak lalu membayarnya.

Dari kondisi yang seolah tanpa pilihan ini BundaKata muncul: hadir dari dan untuk memuliakan pembaca juga penulis. Ia lahir dari obrolan tentang perbukuan antara Widyatmoko (Koskow) dan Awalludin (Cak Udin) pada 2013 di Bantul, Yogyakarta.

Ringkasnya, BundaKata merupakan gerakan menulis bareng (atau lebih tepatnya disebut berkarya) yang memberikan jalan penerbitan di luar jalur utama. Bukan untuk melawan atau menjungkalkan penerbitan arus utama, melainkan BundaKata semata ingin menunjukkan bahwa masih ada lintasan yang asyik tanpa harus berisik.

Di BundaKata, siapa saja mulai dari anak TK hingga mahasiswa S3 boleh berkarya serta. Wujudnya bisa cerpen, esai, catatan harian, puisi, foto, komik, gambar, ilustrasi, lukisan, racauan, apapun. Syaratnya sederhana: sebisa mungkin tidak melebihi dua lembar A4.

File karya ini dikirimkan via surel ke pengurus BundaKata. Selanjutnya karya tersebut akan di-layout dalam satu lembar A4 bolak-balik yang nantinya dilipat menjadi ukuran A5 sehingga terdapat total empat halaman, lalu dicetak di atas kertas buram. Kertas buram dipilih selain karena terjangkau, juga karena ia hasil daur ulang, dengan demikian kita ikut berpartisipasi merawat lingkungan (ingat lho, industri penerbitan hampir tidak ada yang memakai kertas buram).

Tidak bisa me-layout sendiri? Akan di-layout-kan. Belum punya uang untuk mencetak? Dana cetaknya akan diusahakan alias patungan. Tentunya jumlah lembarnya akan menyesuaikan. 

Nantinya, karya yang telah dicetak akan dipajang pada booth sederhana di pameran seni, pameran buku, festival budaya/keagamaan, dari satu kota ke kota lain.

Jika siapa saja boleh menulis, begitu pula pembacanya. Di sinilah soal teknis satu lembar A4 bolak-balik tadi jadi penting. Pengunjung pameran boleh memilih mana saja karya-karya yang diminatinya, memilah urutannya, menyusunnya menjadi buku, merancang sendiri sampulnya, dan membawanya pulang, tanpa dipungut bayar serupiah pun. Kuharap aku bisa menceritakan lebih banyak betapa antusiasnya pengunjung di setiap helatan BundaKata.

Di luar aspek gratisannya, aku bisa bilang pengunjung sangat apresiatif. Bagi mereka BundaKata memberi pengalaman lebih dari sekadar membaca, ia selayaknya editor walau masih sebatas menyusun urutan karya, atau sebagai desainer sampul walau sebatas gunting-menggunting dan goresan spidol.

Menariknya, BundaKata bukanlah komunitas apalagi organisasi. Ia menamakan dirinya peristiwa. Dengan ke-peristiwa-annya inilah yang membuat Bundakata muncul sewaktu-waktu menanggapi sesuatu, tanpa jadwal pasti, struktur resmi, rutinitas, dan ikatan keanggotaan. Jika dirasa sudah saatnya, orang-orangnya akan memulainya dari kumpul-kumpul dan berbincang. Itu sebabnya wajar jika mungkin baru kali ini kamu mendengarnya.

Sejauh ini BundaKata memang baru dihelat empat kali. Pertama 2013, dua kali pada 2014, terakhir 2018 silam. Masing-masing dengan tema berbeda.

Walau bukan komunitas, BundaKata tetap ada penggeraknya. Siapa saja orang-orang BundaKata ini? Siapa saja yang peduli terhadap dunia perbukuan yang kurang rela bila ia terlalu manut pada pusaran industri: aku, kamu, kalian, juga mereka yang telah bersentuhan dengan BundaKata, yang sanggup meluangkan diri dalam suasana cair nan akrab, bersama- sama mewujudkan buku alternatif dalam semangat gotong royong, sesuatu yang kian dilupakan dalam keseharian kita.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura