Bangku belakang

Saya Membacakan Cerpen dan Merekamnya Buat Teman-teman Tunanetra

Saat ini saya sudah membaca belasan cerpen, tujuh bab Max Havelaar, dan beberapa bab novel-novel.

OLEH: Galih Nugraha Su

 pustakawan, musisi, pengrajin benang, dan penulis lepas.

Awal Februari, kami baru saja selesai membuat perpustakaan di kolektif kami, Ruang Gulma. Persiapannya sendiri sudah kami lakukan sejak Desember tahun lalu. Mulai dari mendata dan mengkategorisasi buku, hingga membuat rak buku. Berbagai aktivitas di perpustakaan juga sudah kami programkan, seperti bedah buku, diskusi musik, dan membaca cerita pendek.

Kami siap berkegiatan. Namun wabah Covid-19 kemudian datang.

Meski begitu, kegiatan kami tak lantas terhenti total. Awalnya, kami berlatih membaca cerita pendek sebagai kegiatan mengisi waktu luang selama pandemi. Berlatih membaca itu penting, apalagi jika pembacaannya enak didengar. Niatnya, kelak kami dapat membuat audiobook agar buku koleksi kami bisa dinikmati teman-teman tunanetra. Apalagi, perpustakaan Ruang Gulma tidak memiliki satu pun buku braille. Sesederhana itu idenya.

Pada minggu-minggu berikut, sebagian teman di kolektif kami berinisiatif membuat masker dan sebagian lagi memasak di dapur umum untuk kemudian disalurkan bagi warga yang membutuhkan.

Saya? Di dalam kamar saja. Penyebabnya asam urat. Mau tidak mau saya melakukan diet dan istirahat.

Di saat beristirahat itu, waktu terasa panjang sekali. Saya jadi ingin membaca cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma. Karena itu pasti akan menghibur saya, apalagi cerpen Seno banyak yang lucu.

Kemudian, saya jadi ingat rencana untuk membuat audiobook tersebut. Jadi mulailah saya merekam pembacaan tersebut setiap baru bangun dan menjelang tidur. Sehari ada dua pembacaan: satu cerpen Seno dan satu bab roman Max Havelaar karya Multatuli. Selesai membaca, saya langsung mengunggahnya di YouTube

Alasan saya membacakan Max Havelaar adalah karena keunikan karya ini, misalnya jika dibandingkan dengan Pramoedya Ananta Toer. Sebab, konten Max Havelaar memiliki kelemahan dan karenanya berguna menjadi pembelajaran. Multatuli, penulis Max Havelaar, membuat karya ini dengan distorsi sejarah yang disebabkan oleh egonya sendiri. Sebagai penulis ia terlalu banyak ikut campur ke dalam novel-romannya yang melibatkan sejarah aktual di Lebak pasca pembuatan Jalan Raya Pos. Ini berbeda dengan karya Pramoedya yang lebih jujur dan datanya di novelnya bisa dipertanggungjawabkan.

Jadi, pilihan itu ada baiknya juga: pembaca atau pendengar dapat menelaah ulang buku-buku yang dibaca dengan cermin Max Havelaar yang saya tawarkan, baik itu dengan mencarinya sendiri atau melalui diskusi.

Saat ini saya sudah membaca belasan cerpen, tujuh bab Max Havelaar, dan beberapa bab novel-novel. Tentu buku-buku yang saya bacakan tersebut tersedia di perpustakaan Ruang Gulma.

Selain untuk menghibur siapa pun di masa pandemi ini, saya berharap dengan membacakan novel dan cerpen tersebut saya juga bisa membuat kawan-kawan tunanetra kebagian membaca buku. Bagaimanapun juga inklusivitas semestinya tak dibatasi oleh perbedaan fisik.

Saat ini saya sudah tidak asam urat lagi. Jadi maafkan jika pembacaan novel dan cerpen hanya dilakukan ketika saya berada di kamar seharian. Namun tidak perlu khawatir, saya ini orang penyakitan, meski selalu merasa punya stamina besar dan berlebih. Sebab itu teman-teman pastilah mudah mendengar pembacaan buku itu kembali.

Tapi kalau perlu, janganlah sungkan melayangkan permintaan pembacaan cerpen pada saya lewat akun Twitter @deugalih. Tentu dengan satu syarat: saya punya buku yang ingin dibacakan itu.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura