Bangku belakang

Bertubi-tubi Diserbu Buzzer di Twitter

“Saya sudah beberapa kali digeruduk buzzer di Twitter. Kebanyakan dari mereka menyerang pekerjaan dan status saya atau menjadikan foto diri sebagai olok-olok.”

OLEH: Nathanael Pribady

Mahasiswa biasa yang sedang mengembangkan platform edukasi Filsafat, Sejarah, Politik, dan Sains di @logos_id

Pertama kali saya berhadapan dengan buzzer adalah ketika Ravio Patra ditangkap setelah WhatsApp-nya diretas. Salah satu tweet saya yang mempermasalahkan penangkapan itu ditanggapi akun Dede Budhyarto. Ia menyatakan bahwa Ravio hanya bermain peran jadi korban peretasan. Sudut pandang yang ia gunakan persis sama dengan artikel @digeeembok di Seword, yang mengetahui lebih awal kejadian penangkapan Ravio.

Sejak itu, akun saya dibanjiri DM dan mention yang berisi hinaan. Saya cukup terganggu karena serangan itu ditujukan pada status mahasiswa dan pekerjaan yang memang saya ditampilkan di profil akun. Kolega saya menyarankan untuk mengubah foto dan pengaturan akun menjadi privat. Seminggu berselang, saya bisa kembali menggunakan Twitter dengan bahagia seperti sebelum serangan terjadi.

Naas, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Saya kembali mengalami serangan kedua. Kali ini bukan dari buzzer yang mendukung pemerintah, melainkan buzzer oposisi. Kebanyakan terdiri dari simpatisan ormas dan akun pro-Orba. Dugaan saya, serangan itu dilatarbelakangi tiga thread di akun Logos (@logos_id) perihal Kerusuhan Mei 1998. Thread itu membahas Tragedi Trisakti, perkosaan dan pembunuhan massal kepada perempuan berdarah Tionghoa, serta kronologi kerusuhan di luar Jakarta.

Dalam thread itu, saya menyebut pihak yang diduga bertanggung jawab dalam kerusuhan dan kini menduduki posisi tinggi di pemerintahan. Tak lama, beberapa orang mulai me-mention akun pro-Orba, pro-Soeharto, dan akun partai anaknya Soeharto. 

Serangan yang diberikan cukup dengan pengalaman pertama saya. Bedanya, DM yang dikirim lebih banyak menggunakan akun palsu. Berbagai propaganda pun dilancarkan, dari mengirimkan artikel-artikel dari Wordpress yang membanggakan karya Soeharto, sampai kata-kata kebencian etnis. Lagi-lagi, foto profil saya digunakan sebagai bahan olokan. Saya pun kembali mengunci akun.

Setelah dua kasus tersebut, saya kerap dibombardir oleh sejumlah buzzer politik lain, terutama karena saya sering menulis tentang Marx. 

Dari pengalaman ini yang paling bikin saya kesal adalah kelihaian para buzzer dalam mencampur aduk realita dengan fiksi. Mereka bisa memproduksi pesan secara massal dan kolektif mengenai suatu peristiwa agar mendukung narasi mereka. Misalnya, buzzer Pemerintah serempak mengatakan bahwa Ravio merupakan pengirim sebenarnya dari pesan propaganda yang tersebar, atau tindakan buzzer pro-Orba yang mengirimkan berita-berita agung Soeharto secara membabi buta.Dengan berbagai trik, para buzzer berhasil membanjiri media sosial dengan pesan-pesan karangan mereka. 

Dewasa ini, ketika seseorang masuk ke dalam belantara media sosial, hampir bisa dipastikan mereka akan menemukan narasi dan realitas campur aduk antara fakta dengan fiksi ini. Kalau tidak punya kemampuan literasi yang baik, masyarakat akan kesulitan untuk membedakan mana yang benar, mana yang bohong.

Berangkat dari situlah, literasi dan sikap kritis terhadap segala hal di ruang virtual harus kita tekankan. Sebab, banyak hal yang kita konsumsi di media sosial merupakan fatamorgana dan khayalan semata. 



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura