Bangku belakang

Terima Kasih Buzzer Telah Menguji Literasi Saya

Jangan benci buzzer. Justru berterimakasihlah: mereka sedang menguji literasi kita dengan cuma-cuma.

OLEH: Muhammad Abdul

Fresh Graduate yang Insecure karena Wisuda Virtual di tengah pandemi

Opini akun-akun anonim yang berjejalan di kolom komentar media sosial kerap bikin saya bingung. Kadang saya tak mampu membedakan: mana yang kenyataan dan mana mana yang omong kosong. Terlalu banyak fakta yang diaduk dengan konspirasi serta karangan.

Biasanya saya juga tak tertarik dengan isu besar yang tengah jadi buah bibir di media sosial. Saya yakin: di mana ada kasus yang melibatkan pemerintah, di situlah buzzer berkerumun. Namun, entah kenapa suatu ketika saya ingin sekali menelusuri kasus penyiraman air keras pada penyidik Novel Baswedan yang katanya tak disengaja itu. 

Tak lama berselancar di media sosial, saya ketemu banyak komentar yang bikin saya mendelik karena mengusulkan agar pelaku dibebaskan. Saya menduga, komentator dari akun anonim yang dikelola buzzer.

Salah satu komentar itu berbunyi: “Sama-sama punya kasus kan, pak? Pencuri sarang walet yang dianiaya sampai ditembak mati, 2004. Kalo bicara hukum nggak adil, loh sama-sama nggak adil juga toh?” 

Komentar lainnya juga tak kalah bikin emosi: “Kena air keras kok pas mata doang yah, pipinya masih utuh”. Kalimat itu ditambah emoticon senyum dan ditutup dengan tagar #karmaisreal atau #menolaklupa.

Saya nyaris percaya dengan logika buzzer di kolom komentar itu. Sepengetahuan saya, air keras yang mengenai kulit manusia akan menimbulkan luka bakar hebat. Makanya, ketika Novel Baswedan hanya luka di bagian mata, saya mulai meragu. Apalagi ditambah cuitan dari akun anonim lagi, “Dulu pernah ketahuan salah pasang lensa mata, diberitakan mata kirinya yang rusak, ehhh.. kok tiba-tiba lukanya pindah ke mata kanan dan mata kirinya sehat walafiat.”

Saya sendiri pernah berdiskusi di grup WhatsApp teman-teman sekolah dasar. Saya menyebutkan di sana, kasus Novel sedari awal sudah banyak intrik dan drama, buzzer di media sosial juga dikerahkan untuk mengaburkan fakta sebenarnya. Grup itu lantas ramai berdebat. Untung, tak seheboh baku hantam Pilpres terakhir. 

Mulanya saya percaya, kasus Novel adalah rekayasa, tapi semua berubah saat saya tak sengaja melihat kutipan: “Hoaks dibuat oleh orang pintar yang jahat dan disebarluaskan oleh orang bodoh yang baik”.

Jangan-jangan selama ini saya adalah orang bodoh itu? Dari situlah saya mulai tergerak mencari tahu soal luka yang diderita Novel. Saya mememukan sebuah artikel dari Merdeka.com yang mewawancarai saksi dokter spesialis bedah plastik, Yefta A. Moenadjat. Ia menjelaskan bahwa area mata kanan dan kiri Novel mengalami kerusakan. Kulit korban di sekitar area wajah terlihat lebih gelap dan bengkak. Penjelasan ini membuat saya memahami duduk perkara cedera yang diderita Novel. 

Alamak! Saya jadi sadar bahwa selama ini sudah termakan hasutan dari para buzzer. Saya bersyukur sempat terpikir dan melakukan verifikasi atas narasi-narasi yang beredar di media sosial. Saya pun menelusuri lebih jauh soal kronologi kasus, rentetan fitnah, hingga teror yang pernah dialami korban. Saya juga mencari tahu kasus-kasus rasuah besar yang pernah Novel tangani dan relevan dengan penyiraman air keras tersebut. 

Tentu saja, buzzer bisa berkomentar seenak maunya. Memang sudah menjadi tugasnya untuk mengaburkan fakta sesuai pesanan. Namun, mungkin saja saya yang terlalu berprasangka buruk. Para buzzer bisa jadi sukarelawan yang tidak dibayar. Sembari terus berusaha berpikir positif: mereka sebenarnya berbaik hati dan tengah menguji literasi saya.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura