Bangku belakang

Berlatih Skill Buzzer Sejak Dini

Jadi buzzer itu susah-susah gampang. Yang jelas: bisa dilatih.

OLEH: Arif Rizal

Penulis sering julid ke BUZZER dengan akun @rifrzl

Ruang paling tepat untuk berlatih sebagai buzzer adalah di organisasi kampus. Bukan tanpa alasan saya berkata demikian. Saya merasakan sendiri, betapa laku buzzer yang sering saya temui di linimasa, punya pola yang sama seperti buzzer “ala ala” di dunia kampus.

Ceritanya, dalam organisasi yang saya ikuti, digelar suksesi untuk memilih pemimpin baru di Rapat Akhir Tahun (RAT). Kebetulan ada dua kandidat yang bertanding, lelaki dan perempuan. Karena organisasi adalah tempat berpolitik paling sederhana, sudah bisa ditebak, kubu pendukung saling melancarkan serangan satu sama lain.

Saat itu kebetulan saya dimasukan dalam grup WhatsApp tim pemenangan kandidat perempuan. Saya pikir biasa saja, karena toh saya lebih condong memilih tersebut dengan pelbagai pertimbangan. Saya mengikuti kampanye calon yang mulanya berlangsung damai tanpa akrobat apapun dari tim keduanya.

Keesokan harinya, kampanye jadi gaduh karena masing-masing kubu melancarkan kampanye hitam dan kampanye negatif. Bahkan, isu yang mereka goreng kadang kerap ad hominem dan tak relevan dengan program masing-masing calon. Kampanye hadir di kantin, di ruang kelas, di mading kampus, juga di media sosial.

Pamflet dan leaflet berjejalan di grup-grup kami. Tak ketinggalan juga, ekspos latar belakang kehidupan pribadi yang buruk dari kandidat lelaki, serta serangan atas gender perempuan.

Sepintas, kampanye model ini yang ajeg mengerahkan akun-akun di media sosial dan percakapan luring, membuat saya ingat kegaduhan serupa di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 dan 2019. 

Perang tagar, stiker, dan pesan-pesan di media sosial lain di suksesi organisasi saya juga terjadi, persis seperti Pilpres Indonesia. Mereka diproduksi secara masif dan berulang-ulang hingga membuat saya bingung dan muak. Alih-alih bicara program, orang-orang justru saling serang personal masing-masing. Saking muaknya, saya memilih untuk golput dan menuliskan kata “buzzer” di surat suara.

Satu hal yang saya sadari, buzzer bisa di mana saja, bahkan teman-teman sekitar kita bisa saja jadi buzzer dalam lingkup isu yang lebih sempit.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura