Bangku belakang

Memaknai Bajaj Bajuri sebagai Place: Impresi, Emosi, dan Memori Jakarta Awal 2000-an

Pertama kali menonton Bajaj Bajuri sebagai anak SD. Berjumpa kembali dengannya sesudah jadi sarjana ilmu perencanaan kota.

OLEH: Fahmi Idris

Pada masa saya kuliah, saya pernah dapat materi tentang hakikat place. Dalam studi perkotaan, place tidak hanya dimaknai sebagai tempat. Ada emosi, spirit, hingga impresi khusus di dalamnya. Dan hal itu nyata saya rasakan setiap menonton siaran ulang Bajaj Bajuri saat ini. Setiap kali saya menontonnya, saya merasa masuk lorong waktu menuju Jakarta era 2002-2007 (masa tayang Bajaj Bajuri).

Mungkin pada masanya dulu, Bajaj Bajuri sekadar sitkom prime time yang bisa mengumpulkan keluarga saya di ruang tamu untuk bercengkerama bersama. Saat ini, setiap menonton tayangan ulangnya saya merasakan kilasan yang sangat emosional. Suasana Jakarta era Bang Yos seperti Jakarta yang baru punya busway, di mana Pekan Raya Jakarta jadi acara tahunan yang selalu ditunggu, hingga kala kereta ekonomi masih bisa dinaiki atapnya. Bajaj Bajuri adalah monumen yang merekam kehidupan Jakarta saat itu.

Latar tempat Bajaj Bajuri juga menggambarkan hunian deret khas perkotaan (biasa disebut kontrakan). Keseharian pemerannya sarat dengan dinamika kehidupan sosial: Mpok Minah yang berdagang gorengan, Ucup, pengangguran yang sering berhutang, Said, calo segala proyek dengan bantuan pamannya, dan tentu yang paling utama Bajuri, Oneng, dan Emak yang selalu kisruh membahas peliknya keadaan ekonomi kaum proletar. 

Dari latar tempat dan kisah setiap pemerannya, impresi khusus sitkom Bajaj Bajuri kian terbangun. Jakarta bukan melulu tentang ingar bingar kehidupan urban. Jakarta juga memiliki problem yang tergambar dari kisah si Ucup yang masih harus berhutang hanya untuk minum segelas kopi dan sepotong gorengan, juga Bang Juri sebagai pekerja informal yang enggan menyerah demi menyenangkan istri dan mertua.

Sebenarnya, saya tidak pernah memiliki episode ataupun karakter favorit pada sitkom Bajaj Bajuri. Saya menganggapnya sebuah penelitian etnografi yang berlokasi di permukiman padat Jakarta lalu divisualkan dan ditayangkan di televisi, lengkap dengan kekhasan, keresahan setiap karakternya. Jadinya, saya dari tadi hanya seperti menuliskan semacam kompendiumnya.

Saya menonton Bajaj Bajuri saat saya masih duduk di Sekolah Dasar (kalau tidak salah). Hari ini, saya sudah bergelar sarjana ilmu perencanaan kota. Bajaj Bajuri banyak membantu saya mengejawantahkan berbagai abstraksi persoalan perkotaan yang pernah saya pelajari. Saya tidak bisa bilang kalau Bajaj Bajuri adalah sitkom terbaik, tapi sejauh ini ia adalah yang paling membekas dan sangat dekat untuk saya, belum tergantikan.

Terakhir, saya berharap Oneng secepatnya bertemu Rieke Diah Pitaloka di Komisi VI DPR RI. Siapa tahu, Rieke bisa membantu Oneng mencarikan investor untuk salonnya agar menjadi besar. Jika salon Oneng besar semoga saja Ucup bisa ikut kerja, Mpok Minah bisa jadi penyedia kateringnya, Said jadi sales-nya, dan yang terpenting bisa membiayai hari tua Emak dan menutupi biaya pengobatan Bang Juri yang sedang sakit.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura