Bangku belakang

Bajaj Bajuri Mempertemukan Saya Kembali dengan Nenek

Momen-momen paling manis dengan Nenek adalah ketika menonton Bajaj Bajuri.

OLEH: Tatiana Ramadhina

Ketika Bajaj Bajuri disiarkan ulang baru-baru ini, saya pun menontonnya kembali. Kali ini reaksinya berbeda, karena saya sekarang sudah mengerti lawakannya. Saya tertawa! Ah, Nenek saya pasti juga tertawa terbahak-bahak sembari mengejek saya dari atas sana. 

Tampaknya Nenek kelewat senang melihat cucunya kembali menonton acara favoritnya itu. Beberapa hari setelahnya, ia tiba-tiba saja datang ke mimpi saya, untuk pertama kalinya. Kami membicarakan banyak hal, tapi yang utama tentu saja tentang Bajaj Bajuri. Ia begitu antusias setiap kali membahas segala hal tentang sitkom kebanggaannya itu. Karena hal itu, hari-hari selanjutnya saya selalu menonton Bajaj Bajuri, dengan maksud siapa tahu Nenek akan datang lagi dan kami bisa menghabiskan waktu bersama. Benar saja, Nenek selalu kembali lagi ke mimpi saya.

Perlahan-lahan, menonton Bajaj Bajuri menjadi rutinitas, meski  Nenek tidak lagi di samping saya. Setiap kali menonton sitkom itu, hati saya terasa tenang karena saya bisa mengenang berbagai keseruan bersama Nenek. 

Dulu, rutinitas menonton kami selalu ditemani dengan makanan. Kalau kebanyakan orang ditemani cemilan seperti biskuit, keripik, dan sejenisnya, tidak halnya dengan saya. Nenek selalu mengharuskan saya memakan nasi (untungnya lauknya bebas) biar cepat besar. Bahkan, meski saya mengaku kenyang, tetap saja nasi wajib saya makan. Ketika saya memakan nasi, curangnya Nenek justru enak-enakan memakan keripik singkong kesukaan saya.

Jika makanan sudah siap, kami bergegas menonton. Tidak perlu waktu lama untuk menunggu Nenek saya terpengaruh karena ceritanya. Sering kali di menit-menit awal saja, ia sudah marah-marah tak jelas karena tidak tahan melihat Oneng yang telmi-nya minta ampun. Kalau sudah marah-marah seperti itu, Nenek jadi sangat mirip dengan Emak. Gayanya bahkan sering kali sama. Untungnya sasaran kemarahan Nenek adalah layar TV, bukan saya. Namun, kalau kena marah pun saya tinggal mengeluarkan senjata terampuh—menangis. 

Jika di awal-awal Nenek akan marah karena Oneng yang begitu telmi, di pertengahan alasannya berbeda. Ketika kami tengah asyik menonton, biasanya kanal TV tiba-tiba berganti dengan sendirinya. Tante saya diam-diam mengambil remote TV karena ingin menonton acara lain. Dahulu, remote TV merupakan salah satu benda paling penting di rumah kami. Pertengkaran antara siapa pun bisa benar-benar terjadi hanya karena memperebutkan remote. Bahkan, ada saatnya Nenek ngambek seharian karena kanal TV diganti tepat saat adegan kesukaannya. Adegan favorit Nenek di Bajaj Bajuri adalah setiap kali Emak dan Mpok Hindun bertengkar. Semakin sering mereka bertengkar, semakin senang Nenek.

Selain itu, kami punya masalah lain. Layar TV kami acap kusut tanpa aba-aba. Terkadang, kusutnya hanya separuh layarnya. Lebih seringnya, seluruhnya. Jika masih separuhnya biasanya kami masih bisa bersabar. Setidaknya, masih ada yang bisa dinikmati walaupun rasanya agak berbeda. Salah satu contohnya adalah ketika yang bisa kami tonton hanyalah perut Bang Juri saja, sementara bagian tubuhnya yang lain terhalang kusutnya layar TV. 

Ada banyak sekali kenangan yang terukir antara Nenek dan saya karena Bajaj Bajuri. Saya akan selalu berterima kasih kepada sitkom yang satu ini. Karena acara ini, Nenek dan saya menjadi dekat. Pun karena acara ini pula, kami bisa bertemu kembali.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura