Dosen dan Filsafat Winning Eleven
Bangku belakang

Dosen dan Filsafat Winning Eleven

Berbekal filsafat Winning Eleven, saya bisa kuliah di kampus Amerika dan jadi dosen betulan.

OLEH: Muhammad Beni Saputra

Saat SMA, saya dipanggil “dosen” oleh teman-teman kelas. Gelar itu disematkan bukan karena saya pintar, tapi karena saya terlalu santuy ke sekolah, jarang membawa buku, apalagi tas.

Alasan saya sederhana: keamanan. Saya tak mau satpam “kesayangan” menaruh curiga saat saya keluar pagar sekolah. Strategi saya berhasil, selama tiga tahun menghuni bangku belakang kelas, saya bebas berkeliaran di luar mencari persewaan Play Station (PS) yang buka.

Ngomong-ngomong soal game PS, saya hanya suka Winning Eleven. Bagi saya, game ini amat menantang, mengaduk-aduk emosi jika kalah, dan yang paling penting membutuhkan strategi jitu untuk mengalahkan pemain lain.  

Jika sudah berurusan dengan Winning Eleven, waktu seakan berhenti. Keindahan dunia serasa sirna. Yang tersisa hanyalah stik dan televisi tabung ukuran 21 inchi. Masa bodoh dengan guru Bahasa Inggris yang tengah asyik-asyiknya mengajar tenses. Masa bodoh dengan guru Matematika yang sibuk mengajar aljabar.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Profesi saya sebagai “dosen” berujung petaka. Saya tidak lulus SMA. Saya malu, gamang akan masa depan, dan merasa bersalah karena telah menyia-nyiakan amanah orang tua. Kegagalan hidup ini sama getirnya dengan menelan kekalahan 5-0 di turnamen Cup Winning Eleven babak penyisihan. 

Meski menyakitkan, menangis pilu di jurang kegagalan adalah hal terakhir yang saya lakukan. Dengan tertatih saya bangkit dan mengikuti ujian Paket C supaya bisa kuliah. Saya yakinkan ke diri saya, ini bukan kesalahan Winning Eleven sebagaimana yang orang-orang katakan. Ini murni kelalaian saya sendiri. 

Tahun-tahun pahit di bangku kuliah saya jadikan momen evaluasi diri. Saya tidak mengenal filosof agung yang pemikiran briliannya dapat mengangkat saya ke atas. Semua yang saya punya hanya pengalaman di bilik PS. Pun, satu-satunya filsafat yang saya kuasai adalah filsafat Winning Eleven. 

Bermodalkan pengalaman dan filsafat Winning Eleven ini saya bertekad membayar lunas kegagalan tersebut. Tidak hanya itu, saya juga sengaja mematok target hidup super tinggi yang bagi mayoritas orang tentu terdengar gila: melanjutkan kuliah di Amerika.

Memang benar, banyak mahasiswa di luar sana berprestasi cemerlang yang bisa menyingkirkan saya dari arena persaingan menuju Amerika. Namun, saya tidak berkecil hati. Biar bagaimanapun, pengalaman sebagai maestro Winning Eleven telah menempa mental dan semangat saya dalam berkompetisi. 

Saya berlatih siang dan malam, mempelajari serta menyiapkan apa saja yang dapat membawa saya ke Amerika. Saya ukur kemampuan dengan cermat layaknya mengasuh pemain di kompetisi Master League. Skills yang masih “putih” saya tingkatkan hingga mencapai di atas 90. Saya terus melatih diri agar memiliki stamina juang setinggi Gennaro Gattuso, konsistensi usaha layaknya Cristiano Ronaldo, mental berkompetisi seperti Roy Keane, dan manajemen permainan hidup sekelas Zinedine Zidane. Saya terapkan strategi ball possession, selalu menguasai jalannya “pertandingan” di dalam dan luar diri sembari mengintip peluang ke Amerika. 

Setelah 1,5 tahun menempa diri dengan filsafat Winning Eleven, celah ke Amerika itu akhirnya terlihat. Saya tetap tenang dan menguasai diri. Ratusan, jika tidak ribuan jam bermain Winning Eleven telah mengajarkan saya bahwa grasak-grusuk dalam bertanding amat dekat dengan kekalahan. Hasilnya tidak berkhianat, filsafat Winning Eleven akhirnya membawa kaki saya ke Arizona State University, Amerika Serikat.

Tidak itu saja, dalam perjalanan hidup berikutnya, saya berhasil “memenangi” berbagai “turnamen” akbar yang membawa saya sampai ke lima benua. Semua ini saya lakukan dengan tidak meninggalkan Winning Eleven. Bahkan ketika studi S2 di Inggris, saya membeli PS4 dan bermain Winning Eleven bersama pemuda-pemuda jempolan dari Indonesia.

Panggilan dosen masih melekat ke diri saya sampai hari ini, meskipun sudah lebih dari sepuluh tahun waktu berlalu. Namun, kali ini saya bukan lagi dosen kaleng-kaleng seperti di zaman SMA, tapi dosen beneran.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura