Bangku belakang

Rental PS Bikin Saya Jadi Konglomerat Cilik

Beberapa bulan berkecimpung sebagai “bos rental PS2”, saya mengantongi uang hingga Rp2 juta.

OLEH: Ananda Bintang

Medio 2007, tepatnya ketika saya masih kelas 1 SD, Play Station (PS)2 sedang jadi tren di mana-mana, termasuk kampung saya di Pangandaran. Teman-teman kampung saya yang biasa menghabiskan waktu dengan bermain bola atau petak umpet, semua beralih ke PS2. Mereka main PS2 di tempat persewaan (rental) yang jaraknya kira-kira satu hingga dua jam dengan sepeda.

Hal ini sebenarnya membuat saya agak sedih, karena kehilangan teman bermain bola. Tapi, namanya anak kecil, saya toh akhirnya memutuskan untuk ikut main PS2 hingga ketagihan. Selain seru dan menyenangkan, uniknya PS2 adalah saya jadi mengenal musik-musik bagus di game “BMX XXX”. Saat itu, bahkan sampai hafal nama-nama pemain bola di “Winning Eleven”. 

Rasa ketagihan dengan PS2 ini memutuskan saya untuk membeli PS2 dari hasil hadiah sunat. Tentu saja ini membuat saya semakin tergila-gila dengan PS2, terlebih tidak ada aturan tarif per jam yang membuat saya bebas bermain kapan pun.

Sebuah ide cemerlang mampir di kepala. Daripada teman-teman saya harus mengayuh sepeda hingga sejam dua jam, kenapa tidak saya sewakan sekalian PS2 milik saya. Demikian, PS2 ini saya sewakan ke teman-teman saya di sekitar rumah. Kesenangannya jelas dobel, di satu sisi saya tak kehilangan teman main game, di sisi lain saya dapat tambahan uang jajan.

Seingat saya, dulu saya memberlakukan tarif sewa per jamnya sekitar Rp2.500, lebih murah dua ribu ketimbang rental PS di tempat biasa. Ternyata, strategi saya berhasil, rental PS2 saya selalu penuh, khususnya di hari libur, malam tahun baru, atau malam takbiran. Karena harga yang miring inilah, rental PS2 saya jadi buah bibir dimana-mana. Dari yang mulanya hanya teman sekolah, kini ada beberapa orang asing yang ikut menyewa PS2 saya. Lumayan, saya jadi bertambah teman baru.

Selang beberapa bulan berkecimpung sebagai “bos rental PS2”, saya mengantongi uang Rp2 juta. Uang itu kemudian saya gunakan untuk membeli PS2 baru agar antrean sewa tak terlalu mengular.

Dari sini, masalah pun muncul. Karena kebetulan rumah saya dijadikan kantor notaris oleh Ibu, suasana gaduh dari anak-anak yang main PS2 membuat para klien Ibu terganggu. Saking terganggunya, Ibu pernah menakut-nakuti saya bahwa kliennya yang polisi akan datang menggerebek tempat rental saya. Isu ini pun merebak ke telinga teman-teman yang sering berlangganan PS2 di rumah saya. Apalagi sebelumnya, sebuah mobil polisi pernah terparkir di depan rumah. 

Tak ayal, isu bikinan Ibu ini membuat rental PS2 saya jadi sepi, hingga akhirnya saya memutuskan untuk berhenti. Keputusan untuk tak membuka rental PS2 ini juga didorong dengan kepergian saya ke Bandung ketika saya naik ke kelas 3 SD. Sementara, PS2 saya di Pangandaran jadi terbengkalai dan disembunyikan oleh Ibu saya entah dimana.

Sejak itu pula saya jadi jarang main game sampai sekarang. Bahkan ketika balik main game lagi, entah kenapa saya gampang dirundung kebosanan. Mungkin karena sudah “bertobat” atau karena game yang dirilis sekarang memang tidak sebagus game di PS2. Ada yang bilang, cerita di game PS2 belum bisa dikalahkan oleh game PS seri terbaru sekalipun, kendati grafisnya memang tak sebaik game terbaru.

Yang jelas, PS2 bagi saya bukan sekadar seperangkat konsol saja, tetapi kenangan berkesan yang tidak bisa diulangi lagi. Ada kenangan tentang teman-teman yang pernah main bersama, pun ada kenangan mencari uang sendiri di usia dini, meskipun kenangan yang satu ini bikin saya agak trauma dengan polisi. Tapi setidaknya, saya sukses jadi konglomerat kecil karena PS2.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura