Bangku belakang

Modding: Dari Bongkar Pasang Game sampai Menggalang Protes

Bongkar pasang game alias modding membawa kembali kenangan saya menikmati game bersama Ayah. Modding juga mengajari saya etos berkolaborasi dan bersolidaritas.

OLEH: Pradipa P. Rasidi

Berbeda dengan kebanyakan bocah yang pulas karena lagu lembut, sewaktu kecil saya justru mudah tidur hanya jika Ayah menyetel game. Biasanya saya akan menonton game yang ayah mainkan hingga tertidur lelap.

Salah satu game favoritnya yang juga jadi salah satu favorit saya adalah Front Mission, game yang mengandalkan strategi untuk bongkar pasang robot.

Saya ingat berkomentar, “Kenapa kita enggak bisa bikin senjata sendiri?” di antara komentar penasaran lain seperti, “Kok karakternya enggak bisa lewat situ?” atau “Kok, enggak bisa pakai baju itu?”

Saya terus menanyakan hal-hal absurd itu seakan-akan game yang dimainkan Ayah bisa diubah semau hati. Ayah biasanya hanya tertawa menanggapi pertanyaan saya.

Beranjak remaja, saya mengenal The Sims. Game ini menuntut kita untuk mendekorasi rumah virtual, semacam memuaskan hasrat mengobrak-ngabrik lingkungan di game sesuka saya. Namun The Sims juga mengajarkan hal lebih penting: ternyata sistem game-nya sendiri juga bisa kita bongkar-pasang!

Mulanya sederhana: saya mau kamar di The Sims punya poster anime seperti di kamar sungguhan saya. Jadi waktu itu—kisaran 2002-2003—saya begadang menjelajahi  internet demi cari cara membuat dekorasi custom di The Sims. Setelah sempat bolos sekolah lantaran kesiangan, dengan kemampuan teknis seadanya, saya berhasil menjiplak wallpaper anime dari minitokyo.net ke dalam game tersebut. Saya masih ingat takjubnya melihat poster pas-pasan itu terpampang di kamar khayalan saya, meskipun berakhir bete karena komputer disita Ayah yang memergoki saya bolos sekolah.

Dari situ, saya kenal istilah game mod (modifikasi game). Lewat modding (membuat mod), kita bukan cuma bisa menambah dekorasi, tapi bisa mengganti status karakter, menambah tempat baru, bahkan di tahap lanjutan, bisa mengubah game-nya seratus persen (total conversion). Contoh perubahan total yang familiar buat gamers adalah DoTa yang sebenarnya merupakan total conversion Warcraft III. Modder DoTA direkrut pengembang game-nya untuk ditingkatkan jadi game yang kita tahu sekarang.

Saya pun tercerahkan: ternyata banyak orang lain yang juga bikin mod—jauh lebih bagus daripada bikinan saya. Bukan cuma untuk The Sims, tapi juga permainan lain. Semua disebarluaskan gratis dari dan untuk sesama pemain dalam komunitas game di internet.

Awalnya saya heran: masa semua konten baru ini gratis? Jawabannya baru saya pahami saat berkenalan dengan Skyrim di 2011, setelah lama cuti modding. Intinya memang bukan soal uang, tetapi semangat berbagi. Di komunitas modding Skyrim lah saya banyak berkembang: mengulas mod lain; belajar programming, model 3D, dan membuat tekstur dari modder senior.

Mod pertama saya adalah hasil bimbingan seorang modder Jepang yang karyanya saya ikuti lama. Saat pertama menghubunginya, saya menggunakan Google Translate karena mengira dia lebih nyaman berbahasa Jepang. Saya agak malu ketika dia membalas, “Please use English. I read English.” Meski sedikit terpentok bahasa, tanggapannya cukup ramah. Dari situ lahirlah sebuah mod poster pengumuman—entah kenapa saya terobsesi poster—seperti “Awas Bandit X”, “Dicari Anak Hilang”, yang disebar di kota-kota di Skyrim. Walau cuma mod sederhana, respons modder lain tetap positif.

Keep on modding!” begitu biasanya mereka menyemangati.

Etos penting yang saya pelajari dari modding adalah kolaborasi. Modding adalah passion project yang umumnya tak dibayar (terkecuali donasi). Kreasi kita bisa jadi pondasi mod lain—asal diizinkan—sehingga semakin banyak kreator, semakin kaya lah variasi game-nya. Proyek besar seperti total conversion pun biasanya juga lahir dari kolaborasi.

Karena itulah pada 2015, saat pengembang Skyrim, Bethesda, mencanangkan skema modding berbayar, saya ikut protes bersama sejumlah modder. Di skema ini, modder bukan direkrut jadi pekerja tetap seperti dalam kasus DoTA, tetapi pekerja subkontrak yang dapat komisi 25% saja. Aset yang dikembangkan seorang modder pun menjadi properti yang tak bisa digunakan modder lain di proyeknya. Relasi produsen-konsumen mod berbayar juga mengubah semangat berbagi menjadi transaksi.

Tiap berapa malam sekali, saya begadang—faktor zona waktu—menunggu modder lain online untuk diskusi real time. Kami membuat grup, kampanye, debat, dan menghubungi jurnalis game sebagai wujud protes. Sayangnya, seperti banyak kisah dramatis lain melawan pemodal, protes itu perlahan surut. Beberapa modder ternama diam-diam direkrut Bethesda. Modding berbayar pun akhirnya resmi diterapkan.

Selepas Skyrim, saya pindah modding ke games lain. Walau begitu komunitas modding Skyrim tetap meninggalkan pelajaran berharga tentang kolaborasi. Komunitasnya masih aktif, nyaris sepuluh tahun setelah game-nya rilis.

Hari ini saya tak lagi modding seintensif dulu. Namun mod masih jadi bagian penting dalam perjalanan main game saya. Modding membawa kembali kenangan saya menikmati game bersama Ayah. Modding juga mengajari saya etos berkolaborasi dan bersolidaritas. Tentu saja, walau tak berbalas uang, kerja keras modding selalu terbayar saat menerima komentar dari pemain lain, “This should have been in the base game. Thanks!”



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura