Beauty Influencer yang Membingungkan
Bangku belakang

Beauty Influencer yang Membingungkan

Hayo tebak, mengapa tidak ada jenama ketampanan?

OLEH: Abiel Matthew

Lulus dengan segar dari sebuah universitas. Dibantai realita, tapi tetap hepi.

Pengguna internet perempuan lebih kecil dari laki-laki. Saya sepakat. Jangan-jangan pria sebetulnya lebih banyak gabut dibandingkan wanita? Tapi mungkin Anda kaget kalau tahu bahwa influencers yang kece-kece itu sebetulnya lebih didominasi wanita. Lantas ada sesuatu di sini. Apakah yang mengisi survei itu memang kebanyakan laki-laki (karena mereka gabut)? Atau justru sebenarnya ketika ditanya “apakah Anda influencer?” di kolom kuesioner, wanita merasa bahwa dirinya influencer, padahal bukan?

Baiklah, sebelum saya ditimpuki karena mempermasalahkan riset mereka padahal saya bukan sejawatnya, lebih baik membicarakan jenama kecantikan saja. 

Ada hal-hal yang membingungkan ketika menyimak obrolan soal jenama kecantikan. Saya sebetulnya ingin menyela tiap kali mendengar obrolan tentang jenama-jenama ini, tapi kok rasanya nanti malah dimusuhi. 

Pertama, kapan seorang dikatakan jenama (khususnya jenama kecantikan)? Karena kalau saya cari siapa jenama kecantikan nomor wahid di internet, nama yang muncul bisa banyak. Bahkan terlalu banyak. Di satu situs ada yang menempatkan Ayudia Bing Slamet di urutan pertama, tapi di situs lain nama dia tidak ada sama sekali. Ada yang menempatkan Tyna Kanna Mirdad di urutan wahid, tapi di situs lain nama dia tidak ada sama sekali. Saya coba tanya sejumlah wanita, jawaban mereka juga beragam. Ada yang bilang Tasya Farasya, Titan Tyra, dan Abel Cantika sebagai jenama terbaik. 

Apakah jenama kecantikan ini adalah profesi yang “sungguhan” atau hanya sebuah label yang disematkan saja? Coba bandingkan dengan pemain sepak bola. Ketika kita mencari siapa pesepakbola terbaik, yang muncul ya Cristiano Ronaldo, Messi, atau Megan Rapinoe. Maka, apakah saat pengikut mereka banyak (lalu kemudian mulai membuat konten kecantikan) mereka bisa dikatakan sebagai jenama kecantikan? Lantas, kalau seseorang membuat konten kecantikan namun tak punya banyak pengikut berarti belum bisa dianggap sebagai jenama kecantikan?

Kedua, kenapa sulit menemukan jenama ketampanan yang berfokus pada sisi maskulin pria? Bukan saya terlampau membela pria atau maskulinitas, hanya saja mengapa tidak ada yang tertarik untuk berbagi tips soal ketampanan. Bukankah pria senang bila dianggap ganteng? Dugaan saya, mungkin pria tak butuh banyak pernak-pernik untuk merasa tampan. Paling hanya parfum, tanco, dan obat muka. Ah, atau mungkin pria justru sebenarnya kurang pede dengan wajah mereka? Atau mungkin takut ketampanannya pindah ke orang lain? Entahlah. 

Mungkin saya beserta sebagian lelaki punya pikiran tak sadar yang sama yaitu melihat penggunaan makeup dan kegiatan merias wajah sebagai kegiatan yang kemayu, kurang “laki”. Faktanya, pria lebih doyan pada wanita yang “bening” alias yang wajahnya dipoles dengan rupawan. Di sini kita tiba pada masalah besar: kubu pria sepertinya kekurangan jenama yang memberi wejangan agar wajah lebih shining, shimmering, splendid. 

Kalau bingung di mana masalahnya, coba renungkan etika pergaulan ini: perlakukan orang lain seperti kamu mau diperlakukan. Artinya, wanita sebetulnya tak perlu repot-repot merias wajah untuk pria, karena kami sebenarnya tak punya jenama panutan untuk menjadi tampan. 

Tapi di samping semua itu, menggaungkan kecantikan pada publik sebenarnya bisa membingungkan. Pasalnya, ketika banyak orang menggalakkan penerimaan diri yang apa adanya, di situ standar kecantikan tak terlalu diperlukan. Sayangnya, kecantikan (dan ketampanan) adalah sebuah komoditas. Kalau kita mencari siapa jenama kecantikan terbaik, parameter apa yang bisa digunakan kalau bukan ke-rupawan-an mereka?



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura