YouTube dan Ragam Kecantikan
Bangku belakang

YouTube dan Ragam Kecantikan

Menonton beauty influencer mengenakan makeup bak menonton pelukis andal.

OLEH: Sanya Dinda

Seorang pekerja yang tinggal di pinggiran Jakarta.

Seorang kawan pernah bercerita, saat SMP ia menabung untuk membeli produk kecantikan yang kerap diiklankan di televisi. Ia meyakini produk berlabel “memutihkan” itu bakal membuatnya cantik. Itulah yang ia dan teman-temannya pahami: bahwa “cantik” hanya bisa disematkan bagi mereka yang berkulit putih layaknya bintang televisi.

Namun, impian tersebut tak tunai. Ia malah merasakan gatal menjalar setelah seminggu pemakaian. Ia pun berhenti menggunakan produk itu. Baru bertahun-tahun kemudian ia sadar, kalau iklan-iklan produk kecantikan di televisi kerap tak masuk akal.

Saya pun pernah menjadi sepertinya. Merasa tak cantik karena kulit saya tak seputih milik mereka yang di layar kaca. 

Namun, “layar kaca” yang ditampilkan YouTube berbeda. Para jenama kecantikan di dalamnya menampilkan beragam kecantikan dari beragam warna. Saya keranjingan menelusuri konten video jenama kecantikan dua tahun terakhir ini. Sepertinya ini karena sedari dua tahun lalu saya mulai memiliki uang sendiri yang bisa saya alokasikan untuk produk perawatan kulit dan makeup.

Akan tetapi, penelusuran saya tidak bermula dari menonton video jenama kecantikan yang sudah terkenal. Saya lupa kenapa saya ingin belajar makeup. Yang pasti, saya yang sejak kuliah telah menerima warna kulit saya memulai dengan pencarian: makeup untuk kulit sawo matang. Bertebaranlah beragam video, salah satunya milik @blackxsugar yang kemudian saya subscribe karena warna kulitnya seperti saya.

Dari para jenama kecantikan di YouTube pula saya jadi tahu kalau undertone kulit manusia itu ada tiga: cool, warm, dan neutral. Kalau tak salah, dari undertone ini kemudian ada banyak tone kulit. Sayangnya, sebagian besar merk makeup, baik internasional maupun lokal, belum mengakomodasi keberagaman ini. Selain marah-marah karena produknya tidak inklusif dan akomodatif (seperti @livjunkie), beberapa jenama juga mengakali keterbatasan produsen dengan mencampur-campur warna foundation. 

Tak cuma makeup, para jenama kecantikan juga kerap membuat konten review produk perawatan kulit. Tak seperti iklan-iklan televisi yang cenderung sekadar menawarkan khasiat, mereka akan berkali-kali menekankan bahwa kulit setiap orang itu berbeda. Jadi, efek dari setiap produk perawatan pun akan turut berbeda.

Menonton mereka, terutama saat mereka menyapukan beragam gaya makeup, bikin ketagihan. Layaknya menonton video orang melukis, proses makeup yang mereka pertontonkan jadi semacam short escape dari kejemuan hidup. Kadang, saya meniru-niru mereka juga, bahkan ketika tidak sedang keluar rumah untuk menemui siapa pun. Saya melakukannya semata untuk menyenangkan diri. Karena dibutuhkan “olah rasa” dalam menyapukan makeup hingga pas di wajah, kegiatan ini juga bisa jadi stress release.

Saya pun kerap iseng pakai eyeliner meski hanya di rumah. Ini sekaligus buat latihan jika nanti saya benar-benar butuh menggunakannya. Lama-lama, ketika nanti saya sanggup membuat wing eyeliner dari liquid eyeliner (yang susah banget diaplikasikan itu), saya yakin rasa haru dan senangnya tak akan tertandingi.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura