Pemuja Kupon Diskon
Bangku belakang

Pemuja Kupon Diskon

Demi kupon diskon, saya begadang, membuat lima akun dalam satu waktu, dan me-refresh aplikasi setiap menit di ruang kelas.

OLEH: N. Natasya Putri

Tak banyak yang berubah dari hasrat kompulsif saya berbelanja online sejak tiga tahun silam. Saat itu saya memang masih di bangku SMA, dengan uang di dompet yang cuma cukup untuk jajan cireng telur nan nikmat. Namun, hasrat belanja saya sebenarnya sudah tersemai diam-diam. Saya ingat betul, setiap tanggal-tanggal “keramat” seperti 11-11, 12-12, saya betah berlama-lama memandangi layar handphone demi berburu kupon-kupon diskon. Sepertinya itu jadi cara paling masuk akal untuk membeli barang tanpa harus mengorbankan uang jajan cireng saya. Hasilnya, tak usah ditanya, sederet barang di e-commerce bisa saya tebus murah, meskipun sebagian besar di antaranya terserak di atas meja kamar karena tak benar-benar saya butuhkan.

Saat salah satu aplikasi dompet digital menggelar kupon promo Rp1 untuk produk makanan dan minuman merek terkenal sampai tiket nonton bioskop, dengan semangat “jihad” saya turun ke “medan pertempuran”. Berbagai strategi saya atur, mulai dari terjaga di tengah malam, membuat lima akun berbeda di masing-masing ponsel anggota keluarga, atau menghabiskan waktu berjam-jam di tengah kelas hanya untuk berkali-kali me-refresh aplikasi. Semua saya lakukan tentu untuk mendapatkan kupon promo tersebut.

Hasil memang tak menghargai usaha. Senang sekali rasanya ketika saya berhasil mendapatkan hampir seluruh kupon. Kala itu, saya merasa menjadi orang yang paling beruntung sedunia. Namun semakin sering momen serupa diadakan, kian sering pula saya jadi “gila”.  Saya begadang, lupa diri, dan lupa waktu ketika tengah berburu kupon diskon. Jika dapat, saya puas dan bersalin wajah jadi tukang belanja paling dermawan. Sebaliknya jika gagal, saya bisa resah seharian. Sifat kompulsif sekaligus emosional yang terbentuk dari berburu kupon diskon ini terus berlangsung hingga setahun lamanya.

Kini ketika sudah resmi jadi mahasiswa yang sibuk, kebiasaan itu memang sedikit banyak bisa ditekan. Namun, tentu saja saya ogah meninggalkan kebiasaan ini begitu saja. Di beberapa kesempatan, saya masih ikut berkompetisi mendapatkan kupon gratis ongkos kirim. Tujuannya agar bisa menghemat pengeluaran ketika saya berselancar di e-commerce. Lagipula siapa sih yang tak suka kupon diskon? Saya kira bukan cuma saya yang ketagihan.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura