Tipu-tipu Cashback
Bangku belakang

Tipu-tipu Cashback

Mengaku dari toko online dan menelepon dengan nada meyakinkan, nyaris saja saya tertipu.

OLEH: Missanur Refasesa

Ironis itu ketika seseorang yang dianggap paling logis di rumah tapi justru hampir kena tipu berkedok belanja online. Kejadiannya masih hangat, kira-kira September lalu. Beberapa hari sebelum malam laknat penipuan, saya membeli ponsel baru di toko online terbesar yang iklannya lalu lalang di mana-mana. Saya tahu persis, membeli ponsel memang tak bisa sembarangan, sehingga saya sengaja belanja di toko resmi yang kebetulan sedang menggeber diskon 17 Agustus. Saya bisa hemat hingga Rp200 ribu dari potongan harga produk dan ongkos kirim.

Ponsel yang saya pesan akhirnya tiba lima hari berselang. Saat tengah asyik memainkan ponsel saya beberapa waktu setelahnya, tiba-tiba ada telpon masuk di WhatsApp. Suara perempuan, nadanya sedikit ogah-ogahan tapi bicaranya lancar. Sejurus kemudian, dia memastikan nama saya, tapi silabelnya salah, sehingga harus saya betulkan. Dia bilang sudah menghubungi saya tapi diangkat oleh adik. Memang benar, nomor telepon saya saat itu digunakan adik di kampung. Masih dengan ogah-ogahan, dia memberi saya kabar gembira karena dapat cashback dari pembelian terakhir dan langsung meminta nomor rekening. Di bio kontak WhatsApp, tertulis “admin (merek ponsel) official” dengan foto profil tipe ponsel terbaru. Entah saya yang terlampau girang atau kurang teliti, saya belum menaruh curiga sedikit pun di tahap ini.

Saya bahkan tak curiga kenapa perempuan di seberang telepon ini justru menanyakan detail ponsel yang saya beli. Padahal mestinya sebagai penjual, itu tahu persis ponsel anyar saya merek apa, seri keberapa, dan seterusnya. Saat itu saya hanya ingat sempat bertanya, “Kenapa saya yang beruntung dapat cashback sementara yang memberi ulasan pembelian ada lebih banyak setelah saya.” Jawabannya aneh, katanya, karena saya juga menyertakan foto di ulasan tersebut.

Tak lama, dia meminta nomor rekening agar bisa dikirimkan hadiah caschback malam itu juga. Saya langsung berlari ke dalam rumah, meminta nomor rekening adik perempuan ibu. Pasalnya, hampir semua rekening saya sudah lama tak dipakai. Jeda meminta nomor rekening dan menyebutkan angkanya satu per satu tersebut, membuat suara perempuan ini berubah terburu-buru. Di tengah kondisi saya yang sedang sangat lelah dan mengantuk karena beraktivitas seharian, nada suaranya lantas meninggi, tak sabar, dan terkesan memaksa. Khususnya ketika saya pelan-pelan menyebutkan nomor rekening.

Saya diam sebentar dan ketika angka yang sudah saya sebutkan hanya tersisa dua digit terakhir, otak saya mulai bekerja. Saya bilang, “Kak sebentar ya, sinyal saya kurang bagus nanti saya telepon lagi.” Dia menjawab singkat dan saya matikan teleponnya sepihak. Setelah itu, saya bertanya ke toko tempat saya membeli ponsel, benarkah saya dapat hadiah cashback. Saya sertakan tangkapan layar dari perempuan yang barusan menelepon berikut detail nomor ponselnya.

Keesokan harinya pesan saya berbalas. Pihak toko mengonfirmasi, cashback itu tak pernah ada dan nomor yang dimaksud juga bukan karyawannya. Dengan spontan, saya sempat memaki ke nomor yang menelepon saya, tapi tentu saja pesan saya tak direspons. Saya juga menghubungi adik perempuan ibu yang nomor rekeningnya saya pinjam. Beruntung, oleh saudara yang bekerja di bank, data rekening itu sudah diamankan, mengingat membobol rekening yang hanya menyisakan dua digit terakhir konon relatif mudah bagi kebanyakan penipu.

Saya kesal dan malu. Di rumah sendiri, saya terkenal orang yang paling logis dan sering mengingatkan ibu untuk mengabaikan pesan-pesan sampah yang masuk. Eh, sekarang justru saya yang nyaris kena tipu.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura