Ruwetnya Kecanduan Belanja Online
Bangku belakang

Ruwetnya Kecanduan Belanja Online

Belanja online ternyata tak sesederhana yang saya duga. Jika di toko offline saya biasanya menyambangi toko hingga 6 jam sebelum memutuskan untuk membeli, ternyata saat pindah daring, saya bisa melihat-lihat hingga ratusan toko sekaligus.

OLEH: Pilar T. W.

Sebagai generasi kelahiran 1990-an, mulanya saya tidak terlalu tertarik berbelanja online. Bukan apa-apa, waktu itu rasanya tidak afdhol jika membeli sesuatu tanpa memegang barangnya lebih dulu. 

Namun sekitar satu setengah tahun lalu, keadaan berubah. Kondisi saya yang tengah hamil 6 bulan, entah kenapa sering mengalami kontraksi. Alhasil, dokter meminta saya untuk tidak sering bepergian dan tidak bekerja terlalu keras, termasuk berbelanja. Kenapa berbelanja? Dari cerita yang dihimpunnya melalui ibu, adik, dan suami saya, dokter menyimpulkan, belanja termasuk kerja keras bagi saya. Sebab, jika pergi ke pasar dan membeli sesuatu, saya akan mengelilingi semua toko di pasar tersebut sembari menilai mana yang memiliki harga dan kualitas terbaik sebelum menentukan pilihan. Paling sebentar saya menghabiskan waktu enam jam untuk ini, dan biasanya orang yang menemani saya belanja akan kapok jika diajak untuk kedua kali.  

Menuruti nasihat dokter, saya akhirnya menerima usul suami untuk mengunduh aplikasi e-commerce guna membeli kebutuhan bayi. Besoknya, saya resmi keranjingan belanja online. Dari pagi hingga petang saya berdiam di kamar, memelototi halaman aplikasi hijau dan oranye. Celakanya, kebiasaan saya berbelanja offline yang dikeluhkan keluarga, terbawa pula saat belanja online. Jika di pasar atau mal mungkin hanya ada sepuluh toko yang saya inspeksi, di aplikasi belanja online jumlah ini meningkat jadi ratusan toko. Menilainya juga tidak sesimpel di toko fisik, saya harus teliti membaca bahan apa yang digunakan, ukuran yang tersedia, dan warna apa yang paling pas. Ini belum termasuk kejelian melihat jumlah bintang dan membaca ulasan pembeli satu per satu. Percayalah, ini bukan pekerjaan mudah. Di masa-masa awal itu, saya membutuhkan waktu SATU MINGGU hanya untuk memilih satu produk. 

Saya jadi tak pernah keluar kamar kecuali untuk makan dan buang hajat. Ibu saya cemas. Namun saya tidak. Meskipun mata lelah dan mumet setiap habis menyeleksi satu barang di antara ratusan, aplikasi belanja online membuat saya jadi lebih bahagia dan menikmati hari-hari. Apalagi jika di aplikasi status pengiriman berubah menjadi “Paket akan dikirim ke tempat Anda”. Saya biasanya menunggu dengan harap-harap cemas barang yang tengah diantarkan. Jika ternyata tidak sesuai harapan, saya tidak membuang waktu untuk merasa kecewa dan langsung melihat produk-produk lain lagi di aplikasi. Jika produk yang saya pesan datang dengan memuaskan dan cocok, maka saya akan membeli model lain di lapak yang sama. Dalam sebulan, bisa tiga hingga empat kali hal semacam ini terjadi. 

Kecanduan berbelanja online yang saya alami waktu itu rasa-rasanya bisa dengan mudah diprediksi. Saya perempuan berusia di bawah 30 tahun, punya penghasilan, memiliki penyokong hidup (baca: suami), dan tengah menanti si buah hati. Di mata budaya konsumerisme dan pemilik lapak online, saya adalah sasaran empuk. Lewat kuasa algoritma, muncul deretan iklan menggiurkan, sehingga membuat hasrat belanja saya meronta-ronta. Obral jumpsuit bayi, obral komik, obral novel, obral sweater rajut. Lihat saja, bahkan daftar belanjaan saya kemudian tidak berhenti di kebutuhan bayi.

Sementara itu, pertimbangan-pertimbangan dasar yang biasanya jadi benteng terakhir untuk menghalangi niat saya berbelanja, juga semakin dinihilkan dengan konsep belanja online. Misalnya saja, jarak toko atau mal yang jauh dan harga barang yang terlampau mahal. Kedua hal ini bukan lagi masalah, sebab saya tidak perlu ke mana-mana, dapat mengamati harga secara luas sampai menemukan yang cocok, dan tinggal klik. Habis perkara. Semua dapat saya lakukan dalam sekali duduk. Meskipun sekali duduk artinya bisa sampai (duduk) berjam-jam.

Keranjingan saya menggunakan aplikasi e-commerce berakhir setelah saya melahirkan dan menjadi sibuk. Namun tak lama, masa pandemi datang dan saya kembali menjadikan belanja online sebagai kebiasaan. Beruntung, kegiatan mengurus bayi membuat belanja saya kali ini lebih terkontrol. Saya masih membutuhkan waktu berjam-jam untuk memilih barang, namun saya hanya melakukannya satu hari dalam sebulan, yaitu di tanggal-tanggal kembar nan sakral. Saya sadar, dengan menerapkan cara ini saya mendapat dua keuntungan: hemat waktu dan hemat ongkir pula. Bahagia betul.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura