Kok Persma Diancam Terus, Pak? Bu?
Bangku belakang

Kok Persma Diancam Terus, Pak? Bu?

Pembredelan tak akan menyelesaikan masalah yang diberitakan persma, Pak, Bu.

OLEH: Ade Tegar Irsandy

Sejak awal berkuliah, saya tak pernah menyangka akan bergabung ke dalam pers mahasiswa. Selain karena tak ingin terlibat masalah, alasan lainnya adalah karena saya punya impian yang tidak muluk-muluk: bisa lulus tepat waktu dan segera jadi budak korporat. Tapi angin nasib justru bertiup ke arah lain dan serangkaian peristiwa personal mengantarkan saya ke dunia ini.

Saya tergabung di lembaga pers mahasiswa (LPM) Pendapa Tamansiswa di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST). Setelah demisioner, saya ikut serta dalam proyek sensus pers mahasiswa yang diinisiasi oleh Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Yogyakarta. Proyek ini bertujuan mendata keaktifan persma di tiap universitas di Yogyakarta.

Selama dua tahun mencicipi dunia ini, saya sedikit mengerti rasanya jadi jurnalis: lelah dan rentan. Lelah, meski di lembaga pers saya tak ada target tulisan yang ketat seperti halnya jurnalis betulan. Rentan, karena tak ada landasan hukum yang menaungi kami.

Kondisi demikian tentu menjadikan awak persma terombang-ambing. Punya senjata untuk menyerang, tapi tak memiliki perangkat pertahanan yang memadai. Satu-satunya perisai yang melindungi hanyalah Surat Keputusan (SK) dari Rektorat karena LPM cuma berstatus sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). 

Akibatnya, terkadang saya punya perasaan ngeri. Apalagi setelah melihat beberapa kasus besar di dunia persma seperti yang pernah menimpa Balairung, Suara USU, dan Teropong. Kerentanan itu nyata, jenderal!

Pernah suatu ketika saya meliput soal kondisi parkiran fakultas yang penuh. Berselang satu hari setelah berita terbit, saya bersama teman saya yang turun liputan dipanggil ke rektorat. Ya, apalagi kalau bukan untuk diberi wejangan dan ancaman beredel. Boro-boro membahas topik sensitif seperti yang dilakukan trio di atas, cuma membahas fasilitas kampus saja gegernya bukan main.

Padahal kalau dipikir-pikir, persma adalah organisasi yang paling cinta kampus. Ya, buat apa kritik dilancarkan kalau bukan demi kemajuan kampus, Pak dan Bu?

Dan saya kira perlakuan semacam itu pernah dirasakan sebagian besar awak persma di mana saja. Hal itu sekaligus bisa menjadi bukti bahwa kampus pun belum mengerti bagaimana mekanisme kerja media. Alih-alih membuat hak jawab, mereka justru dengan gegabah memanggil atau bahkan mengancam membredel. Sebagian persma di Jogja sudah pernah merasakan tangan besi rektorat, termasuk LPM tempat saya bernaung.

Itu adalah sikap yang paling tidak saya mengerti. Lantas kalau sudah dibredel apakah semua permasalahan akan selesai, Pak, Bu? Kan tidak. 

Tapi sederet ingatan saya pada persma bukan cuma berisi hal-hal buruk. Sebaliknya, justru saya rasa malah lebih banyak hal positif, baik dari segi ilmu maupun jejaring. Dan menurut saya, persma bukan cuma wadah untuk mahasiswa sok kritis yang mendaku diri sebagai penganut ideologis tertentu. 

Lebih dari itu, saya menganggap persma sebuah ruang yang—jika dijalani dengan serius—bisa membawamu ke berbagai pengalaman menarik. Daripada bayar ratusan ribu untuk mengikuti les jurnalistik, mending sekalian gabung ke persma, kan? 

Meski tak bisa ditampik jika persma hidup tanpa kepastian hukum, wadah ini tetap sah untuk melahirkan sebuah produk yang bisa diuji dan dikritik. 

Sebab jurnalisme bukan melulu milik media arus utama yang sarat kepentingan politik si pemilik. Jurnalisme bukan monopoli pemodal, tapi media penyuara suara rakyat.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura