Baru Berjalan Satu Bulan, Persma Fakultas Kami “Diintimidasi” oleh Para Pejabat BEM Fakultas Sendiri
Bangku belakang

Baru Berjalan Satu Bulan, Persma Fakultas Kami “Diintimidasi” oleh Para Pejabat BEM Fakultas Sendiri

Masih mahasiswa sudah suka mengintimidasi persma. Apalagi jadi pejabat kampus.

OLEH: Ananda Bintang

Meski fasilitas kampus tidak terpakai, kampus tetap meminta uang kuliah tunggal (UKT) dibayar penuh. Kebijakan tidak adil dan membebankan ini membuat BEM kampus di berbagai daerah Indonesia menyerukan agar UKT dipotong. 

Berbeda dengan BEM-BEM kampus lain yang sangat vokal, BEM Unpad di mana saya berkuliah begitu gelagapan menanggapi isu krusial ini. Konsolidasi yang dilakukan oleh pihak BEM dianggap tidak kompeten sehingga banyak mahasiswa yang tidak mempercayainya. Puncak dari ketidakpercayaan ini muncul dalam bentuk grup aliansi tanpa BEM di Line Square. Grup ini berisi makian, kritik, dan gosip terhadap BEM.

Berangkat dari situ, saya selaku pemimpin redaksi di Persma Pena Budaya FIB ingin memfokuskan pemberitaan pada isu UKT. Hal ini saya lakukan karena tidak ada satu pun pers mahasiswa Unpad yang meliput isu ini. Padahal isu ini sangat penting untuk disorot, mengingat ada sebagian mahasiswa yang kurang mengerti tentang urgensi pemotongan UKT atau yang belum mengikuti hasil audiensi mahasiswa dengan pihak rektorat.

Peliputan peristiwa ini tak hanya untuk menekan pihak rektorat untuk memotong UKT dan mengkritik BEM universitas agar berbenah diri. Tapi kami juga ingin mengkritik dan menekan BEM FIB agar bisa lebih tangkas dalam mengadvokasikan isu ini. Berdasarkan observasi kami, BEM FIB cukup lambat dalam merilis kajian, tidak merilis pernyataan sikap yang jelas, sampai tidak berbicara sama sekali dalam konsolidasi pertama. 

Singkat cerita, kami berhasil menerbitkan satu artikel opini yang mencuri perhatian satu Unpad. Artikel ini secara tidak langsung membuat BEM FIB menyatakan sikap terhadap isu pemotongan UKT. Artikel tersebut mengundang apresiasi dari pengurus BEM sebelumnya. Namun ironisnya saya dan beberapa anggota mendapatkan intimidasi dari pengurus BEM sekarang.

Bentuk intimidasi yang kami dapatkan berupa pesan pribadi dari beberapa pejabat BEM. Nadanya kurang-lebih kecewa terhadap persma fakultas yang malah mengkritik BEM fakultasnya sendiri dan kurangnya pemberitaan positif. Padahal saya berulang kali menawarkan ruang kepada BEM fakultas untuk menanggapi artikel opini tersebut. 

Alih-alih menulis tanggapan, ketua dan wakil ketua BEM fakultas justru berulang kali mengajak saya untuk “bertemu” dan membicarakan artikel tersebut agar lebih “clear”. Tawaran ini jelas-jelas sangat tidak relevan dengan undangan saya saat itu. 

Hal ini hanya menampilkan betapa antikritiknya para pejabat BEM fakultas. Kami yang semula berniat menekan BEM Fakultas agar lebih getol terhadap isu pemotongan UKT malah mendapatkan intimidasi. Hal ini hanya memberikan kesan bahwa kebebasan berpendapat adalah ilusi yang memiliki batas-batas tertentu. 

Kejadian ini juga membuat beberapa staf di persma merasa takut untuk menulis artikel-artikel kritik. Padahal bukankah tugas pers mahasiswa sebagai “watchdog” kampus?

Bayangkan, bagaimana jika nanti kami memuat artikel-artikel yang bernada seperti itu atau bahkan memiliki bobot pemberitaan yang melebihi artikel kemarin? Intimidasi apalagi yang akan mereka lakukan terhadap kami?



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura