Modus-Modus Narsum: Suka Duka Menjadi Anggota Persma Perempuan
Bangku belakang

Modus-Modus Narsum: Suka Duka Menjadi Anggota Persma Perempuan

Lebih enak jadi anak persma cowok. Mereka tidak dimodusin narasumber.

OLEH: Priska Salsabiila

Mahasiswi yang senang berkutat di dapur, baik dapur dalam artian sesungguhnya maupun dapur redaksi

Sebagai anggota persma, menjalin relasi ke narasumber itu penting. Tapi tidak kusangka caraku menjalin relasi ini bisa disalahartikan. 

Jujur saja, tidak semua kontak narasumber aku simpan. Paling-paling yang aku pernah wawancara lebih dari sekali baru aku simpan kontaknya. Anggapanku, karena mungkin aku akan membutuhkan pernyataan mereka lagi di masa depan. Sekaligus bisa memberikan referensi narasumber ke anggota persma lain yang kebetulan punya topik tulisan yang sama.

Sebetulnya gaya kontakku dengan narasumber cukup to the point: aku menyampaikan pertanyaan, lalu kalau sudah dijawab, aku tidak akan mengontak mereka lagi kecuali kalau aku punya pertanyaan tambahan.

Aku pikir anggapan ini juga berlaku untuk para narasumber yang kuwawancarai. Rupanya tidak demikian. Beberapa narasumber senang sekali berbasa-basi denganku dan memperlakukanku selayaknya teman. 

Kita mulai dari kasus pertama. Sebut saja Mas X yang tergabung dengan sebuah pergerakan yang cukup vokal. Aku menghubungi beliau untuk meminta pendapat sekaligus mendapatkan pasokan isu dari luar kampus. Untuk mempertahankan relasi, biasanya obrolan basa-basi darinya di WhatsApp aku tanggapi secukupnya.

Sekali waktu, aku berkesempatan bertemu dengan Mas X di suatu aksi. Saat itu, ia baru turun dari podium setelah berorasi. Aku salami dia sambil memperkenalkan diri bahwa aku orang yang selama ini berbicara dengannya via WhatsApp. Sungguh saat itu aku tidak menganggap perbedaan gender sebagai batasanku melakukan itu. Aku ingin seperti “bro” saja.

Pulang dari aksi, Mas X kembali membuka percakapan di WhatsApp. Menanyakan hal yang saat itu menurutku tidak relevan dengan topik yang kubutuhkan.

Sebenarnya dari sini aku sudah risih. Jadilah kutanya pemimpin redaksiku mengenai cara yang tepat merespons narasumber yang begini tanpa harus memutus relasi dan tetap menjaga profesionalitas. 

“Kalau masih begini, masih aman kok. Tinggal respons seadanya saja,” kata pimredku.

Lagi-lagi aku masih tetap merespons. Tentu dengan balasan yang benar-benar seadanya. “Siap, mas”, “oke, mas”, “makasih mas infonya”, “iya, mas”, dan jawaban pas-pasan lain.

Sampai suatu waktu aku memasang status berupa fotoku yang habis melewati sidang proposal. Saat itu, Mas X menanggapi, dia tanya, “berarti sudah lulus ya?”

Tentu kujawab belum. Masak iya habis sidang proposal langsung lulus? Aku juga mau kalau bisa begitu.

Responsnya selanjutnya mengejutkanku. Katanya, “bagus kalau begitu. Berarti masih bisa ketemu lagi dan lagi.”

Aku tertegun. Sial. Begini nih gak enaknya jadi anak persma cewek.

Hal ini gak aku alami satu kali. Pernah aku menyimpan kontak humas dari suatu dinas di kotaku. Sebut saja Mas Y. Pada waktu itu, aku benar-benar butuh pernyataan dari kepala dinas terkait. Jadilah kuminta Mas Y untuk menghubungiku saat bosnya sudah siap untuk diwawancara. Aku butuh kepastian. Kalau tidak, mau kutinggal ke narasumber lain.

Tapi kontakku tidak digunakan sebaik-baiknya oleh Mas Y. Bukannya memberi info bisa wawancara kapan, ia malah melayangkan modus-modusnya. Puncaknya yang bikin aku risih, dia tanya, “kok belum tidur, dik? Masih nugas?”

Astaga... Dasar om-om. 

Mungkin dua tadi yang jadi pengalaman tak terlupakan bagiku sampai saat ini, biarpun masih ada cerita-cerita lain yang serupa, baik itu dari om-om (aku sebut demikian habisnya memang sudah tua), mas-mas, sampai yang sama-sama mahasiswa. Sorry, aku terpaksa memutus relasi sama yang begini-begini karena aku risih sekali.

Niatku di sini bukan mau cari jodoh. Aku juga tidak menghubungi untuk maksud pendekatan. 

Kesimpulanku masih sama, nampaknya lebih enak jadi anak persma cowok. Lebih kecil kemungkinan menghadapi modus-modus yang beginian. Curang.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura